The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
I'm a Killer



Mereka masuk dengan langkah kasar memasuki rumah. Tak jauh dari itu, Gidran sedang berbicara dengan orang tua dua sahabat anaknya itu sambil berjalan menuruni tangga hendak ingin menghampiri para anak remaja yang sedang membantu membereskan kekacauan tersebut.


Namun, langkah mereka terhenti saat melihat Ibu mertua dan adik ipar dari Gidran. Terlihat saja, dari wajah yang tak bersahabat saat menatap disekeliling tampak pada mertuanya.


Dengan pakaian batik khas orang kaya dengan tas putih mewah yang ada pada tangannya disertai perhiasan cantik ratusan juta, beliau datang menghadap menantunya.


Devan dan yang lain merasakan situasi kurang baik. Apalagi kehadirannya Veno yang setengah pulih menatap mereka dengan tatapan sombong.


“Bu? ”. Ucap Gidran.


“Dimana anak itu! ”. Kata Ibu mertua Gidran yang kita sebut saja namanya Avyna.


“Bu udah ya bu jangan seperti ini”. Cegah Yuna adik pertama Aryana.


“Apa boleh diam kalau kakak kalian korban dari anak sendiri hah! Ibu ngak mau tahu anak itu harus disingkirkan”.


“Bu! ”.


Avyna tampak murka dan langsung naik keatas untuk mencari cucunya Angga.


“Apa Ibu marah”. Tanya Gidran ke adik iparnya.


“I iya,”. Jawab Ayna adik Aryana yang kedua.


Mereka pun menghampiri sang Ibu untuk menghentikan emosinya, Devan dan temannya yang lain pun ikut.


Rangga dan adiknya yang berada dalam satu kamar, mendengar keributan dan memutuskan untuk melihatnya dan ternyata itu adalah nenek dan tante mereka.


Karena merasa ada yang tak beres, mereka pun datang menghampiri.


Avyna melihat seisi kamar dan menemukan kamar Gidran dengan pintu yang sedikit terbuka. Beliau pun masuk dan langsung dicegah Gidran.


“Bu tenang dulu bu! Jangan bertindak sesuka mu dulu”. Ucap Gidran dengan tangannya yang memegang lengan sang Avyna.


“Lepas! ”. Balas Avyna sambil menghentakkan tangannya yang membuat pegangannya Gidran terlepas.


“Dengar ya. Anak sepertinya tak harus hidup didunia ini! Dia udah memalukan nama baik keluarga kita Gidran! ”. Ucap beliau murka hingga Veno tersenyum puas melihatnya.


“Heh! Om. Yang dikatakan Omah benar. Anak seperti Angga itu harus disingkirin! Om paham kan. Kalau ngak dibunuh aja”. Ucap Veno hingga Devan yang berada dibelakangnya beserta yang lain geram mendengarnya. Devan tak menahannya dan....


BUAGH!....


Devan melayangkan tinjunya dari belakang hingga Veno tersungkur jatuh dengan hidung yang mengeluarkan darah, semua berseru syok melihatnya.


Namun, Veno masih saja tertawa sambil bangkit dan menghapus darah dihidungnya dengan sombong. Devan yang emosi, tubuhnya tak seimbang hingga terjatuh namun langsung disambut oleh ayah Dilan disampingnya. Devan kembali sesak dengan tatapannya yang tajam melihat Veno iblis didepannya.


“Haha... Napa lo yang marah? Ha? Ngak nerima”.


“Veno! ”. Tegas Ibu Veno yang bernama Yuna murka dengan kelakuan anaknya sendiri yang kurang hajar. Bukanya baru pulih untuk tobat ini malah mulai lagi tanpa obat.


Avyna pun langsung masuk kekamar dan membanting pintu dengan keras hingga semua reflek syok.


Angga yang duduk diam mematung dikasur dengan luka yang bisa dikatakan hampir keseluruh tubuhnya mampu membuat orang yang baru datang menghentikan detak jantungnya.


Avyna langsung pergi kearah cucunya. Tanpa memandang keadaan Angga yang kacau, beliau dengan kasar langsung menamparnya hingga wajah cucunya itu merah lembam.


“Bu! ”. Teriak mereka namun Avyna layaknya nenek yang tak punya hati dan langsung menjambak rambut Angga kasar. Veno santai disamping neneknya dengan senyum rasa puas.


Gidran tak dapat membiarkan pemandangan seperti Ia pun langsung menghentikan Avyna namun Veno dengan kasar mendorong pamannya dengan kasar. Ibunya benar-benar tak dapat menerima perlakuan anaknya sendiri.


“Veno! Lo emang anjing banget ya! ”. Balas Rangga sambil menunjuk kearah Iblis itu. Namun Veno senyum menantang.


Avyna mendekatkan pandangannya ke arah Angga dengan jambakan rambut yang semakin kuat namun, ekspresi Angga biasa saja dengan pandangannya tanpa tujuan.


“Kau! Kau cucu yang ngak berguna tahu hah! Kau ini anak seperti apa sampai Ibu mu sendiri telah kau bunuh! ”. Ucap Avyna hingga membuat Angga yang tenang untuk sementara malah emosi kembali, Ia kembali terpukul dengan tangannya yang menggeram.


“Dimana letak hatimu heh! Ibu! Ibumu sendiri telah kau bunuh hanya untuk memuaskanmu! Katakan kepada ku! Apakah ibumu akan bangun hah! ”.


BRAK!...


Lalu, Avyna melempar Angga hingga Ia terjatuh dari atas kasur dengan jambakan yang terlepas. Semua mencoba menghentikannya, tapi... Tak didengarkan.


Angga jatuh dengan topangan tangan yang menopang tubuhnya, air matanya kembali mengalir dengan tambahan ucapan hinaan dari neneknya.


Veno lalu maju kearahnya dan menjongkok dekat dengan Angga. Ia begitu senang melihat penderitaan sepupunya itu... Ya... Baru pulih namun, hatinya kembali gembira.


Veno langsung mendekatkan pandangan kearah Angga untuk mengusik dan menghancurkan hidupnya.


“Kau dengar kata Omah. Heh... Ingat ngga, Ibumu ngak akan kembali mendekat kepadamu karna apa?! Heh? Karna kau membunuh beliau”. Kata Veno sombong, Angga begitu tercekik dengan keadaan disekitarnya, Ia hanya bisa mengeluarkan nafasnya yang sesak tersiksa.


“Dan kukira, aku akan tertawa bahagia. Karna kau tahu... Ini adalah hari dimana kau akan mati dan ternyata malah ke Ibumu... ”.


“Lo akal lo ANJING BANGET BRENGSEK! ”. Balas Arga yang maju menuturkan kata kearahnya meski Ia tahu, kalau umurnya lebih tua daripadanya. Tapi... Untuk apa menghormati jika akalnya sebegitu buruk bahkan terhadap sang adik.


“Hah napa. Gue ngak pantes dijadiin anjing. Yang pantes adek lo sendiri kalo paling tidak dijadiin babi aja sekalian hahaha”. Balas Veno tak punya hati.


Mendengar hal itu nafas Angga menjadi berat dan....


Tersenyum seram dengan lantunan tawa iblis yang Ia keluarkan hingga membuat seisi kamar tersebut menjadi merinding.


Angga berterus terusan tertawa keras dan keras dan semakin keras layaknya gila dengan penderitaannya. Sang ayah langsung menyadarkannya dengan bahu yang Ia goyang-goyangkan. Tapi, Angga masih saja tertawa seram hingga Veno menjadi ketakutan. Devan dan yang lain kembali khawatir dengan Angga.


Gidran memanggil nama putranya, namun tak mampan. Lalu Angga menatap tajam kearah Veno dan....


SRAK!.....


Angga menyerang Veno didepannya dengan tangannya sendiri hingga tubuh sepupunya terpelanting jauh dan terbentur rak buku hingga kepala Veno bocor dengan darah deras keluar.


Semua berteriak panik ketakutan dan sedangkan Angga tertawa keras memuas. Ia lalu bangkit berdiri dengan tubuhnya yang lemah hingga terlangkah dengan sempoyangan.


Wajahnya terlihat mengerikan ditambah dengan senyum seram layaknya pembunuh dengan tatapannya yang dominan menakutkan.


“Hehe HAHAHAHA HAAA HAHAHA”.


Angga dengan tingkah gilanya langsung menusuk matanya sendiri dengan acungan dua jari dengan tekanan yang kuat hingga...


TACKK....


Jari menusuk matanya hingga darah merah pekat tersembur keluar, dan Angga, masih mengeluarkan tawanya. Sang ayah dan yang lain berteriak panik. Gidran langsung menyambar tangan Angga yang menempel pada matanya yang begitu dalam. Dengan cepat, Karin membuka hijabnya dan langsung menutupi mata Angga yang terpancur dengan pancuran merah.


Gidran langsung mengendong Angga dan langsung melarikannya kerumah sakit yang dibantu oleh ayahnya Dilan dan Devan dan Rangga dengan Arga pun ikut melarikan Angga kerumah sakit.


Keadaan kacau parah hingga Devan jatuh terduduk sambil mencengkram kepalanya yang sakit Dan kini, kondisinya lemah total.


“Devan, Devan kamu ngak apa-apa kan nak”. Kata sang Ibunya khawatir saat melihat putranya. Devan tak menjawab pertanyaan ibunya hingga..........


Kehilangan kesadarannya.