
Angga tidak kuat mendengarnya, bayangan misterius disekelilingnya semakin pekat, matanya semakin biru dan dendamnya semakin membara.
“Kau mengerti …matilah ….”. Terdengar suara didepan cermin, Angga yang syok langsung melihatnya. Tapi, Ia hanya melihat bayangannya saja.
Dan tiba-tiba!
Bayangannya tersenyum lebar seram. Tak lain itu sosok yang ada padanya. Angga syok berat, Ia reflek mundur.
Sosok tersebut menatap tajam ke arahnya, tiba-tiba, bayangan itu keluar dari cermin dan melompat kearah Angga. Angga yang syok tercekik dan sosok tersebut tertawa seram.
“A …AK!”. Suara Angga yang tercekik.
“Matilah kau …matilah …! WAHAHAHAHAHA!!!”. Katanya sambil tertawa, Angga semakin tak tahan, sesosok tersebut pun semakin mencekik Angga dengan kuat. Hingga akhirnya Angga terbangun dari mimpinya.
“AKH! …!!”. Seru Angga syok yang terbangun dengan wajah yang pucat, tubuh berkeringat dan nafas yang sesak. Semua yang ada dikamarnya terkejut dan khawatir.
“Hahh …hahh …hahh …”. Nafas Angga.
“Astagfirullah nak …”. Seru sang Ibu sambil langsung memeluk Angga yang tubuhnya dingin, gemetar dan berkeringat.
“Istigfar nak …”. Lanjut sang ayah sambil memegang kepalanya. Angga pun beristigfar, tapi suaranya tidak jelas karena kondisinya. Sang Ibu semakin erat memeluknya.
Kaila yang takut, memeluk Karin.
Triiiiinnnngg ….Triiiiiiingggg!!!…
Suara handphone Angga dari dalam tasnya. Kaila langsung mengambilnya, ternyata itu dari Devan. Kaila langsung berlari keluar kamar Angga untuk mengangkat panggilan.
Rangga dan Arga pun mengikuti Kaila.
Saat baru saja menekan, Rangga datang dan meminta kepada adik sulungnya agar Ia saja yang mengangkat. Kaila yang setengah takut, menurut. Arga pun mengusap kepala Kaila dan tersenyum kecil guna menenangkannya.
“Waàlaikum salam Van? …”.
“Kak Rangga? …”. Balas Devan.
“Iya”.
Rangga pun menceritakan semuanya kepada Devan. Devan pun langsung syok saat mendengar Angga pinsan dan kondisinya yang semakin parah.
Lalu Devan menanyakan tentang kenekatan Angga disekolah.
“Hah …ya. Tadi juga wali kelas kalian menghubungi ini”.
“Heh …aku pun rencananya besok mau sekolah. Dan akan mengkagetkan Angga. Tapi, apa ada kemungkinan Angga …”.
“Ssst …aku tahu. Ibumu telah memberitahukannya. Kami yakin Angga akan baik-baik saja … tenanglah”. Balas Rangga, menenangkan Devan. Mereka pun menutup telfonnya.
Sepertinya, Devan memang tak sempat untuk mengobrol dengan Angga sekarang, karena kondisi sahabatnya yang tak memungkinkan.
Rangga dan dua adiknya pun langsung masuk kekamar Angga.
“Ada apa? … Siapa? …”. Tanya Karin.
“Temannya … Devan”. Jawab Arga, Karin langsung mengerti.
Setelah sepuluh menit, Angga mulai tenang, meski nafasnya masih tersengal. Ibunya pun memberikan segelas air kepadanya, tapi Angga hanya minum seukuran setetes saja.
“Sssst …Akh!”. Keluh Angga sambil memegang kepalanya yang sakit.
“Nak, apa yang terjadi saat kau pulang?”. Tanya ayah.
“ ….._ eeeh …tidak. Angga hanya mengingat saat pulang, Angga bertemu dengan lelaki yang tak aku kenal …”. Jawab Angga sambil mengingat kejadian yang menimpanya, tapi, Ia hanya mengingat separuh dari kejadian.
“Baiklah tidak perlu dipikirkan. Kamu istirahat dulu … kalian juga, besokkan sekolah”. Kata Ibu lembut. Putra dan putrinya pun menurut.
“Ohya, biar Ibu siapin makan malam. Karin! …tolong ambilkan nasi Angga di dapur”.
Karin pun menurut.
“Bu, Angga ngak lapar. Ibu aja makan dulu …”. Kata Angga sambil senyum kecil.
“Ngak nak. Ibu lebih cemas saat kondisi mu seperti ini. Setidaknya makan sesuap saja ya”. Katanya sambil mengelap tangan putranya, Angga melihat wajah Ibunya cemas dan gelisah karenanya.