
Semua murid termanga, mereka melihat murid baru ternyata Devan. Angga tak percaya dengan momentnya kali ini, sahabatnya yang bilang Ia sekolah disana kini bertemu kembali.
Teman sependukung dengannya ikut tersenyum dan senang melihat Angga mendapat kejutan yang berharga. Ini baru pertama kalinya Angga kaget seperti itu.
“Pagiiii pak”. Sapa Devan, teman akrabnya senyum tahan tawa, sedangkan Angga masih dengan muka ekspreksi tak percaya.
“Sekarang mau apa”. Balas pak Ridwan tahan tawa.
“Ohya, Assalamuàlaikum wr wb”. Lanjut Devan, semua menjawab dengan kompak.
“Ok selamat pagi kaum kelas berkepala ikan. Sudah kenal nama ku Devan jadi tak perlu diperkenalkan”. Kata Devan kocak yang membuat semua tertawa.
“Ya saya sudah kembali jadi, halo. Dan ini oleh-oleh dari Jakarta ya. Dan ini untuk bapak wali kelas ku yang tercitaaaa!”. Kata Devan agak menaikkan suhunya sambil memberikan tas yang berisi oleh-oleh.
“Eeem alhdulillah. Terima kasih. Dan baik untukmu”. Balas pak Ridwan.
“Tenang semua …masih ada untuk kalian. Karena mumpung aku baek …jadi masih murah hati”.
“Ya elah …baru pulang bawain oleh-oleh pamer banget”. Balas Jesika.
“Eeeee diam lu atau kagak gue beri gaji!”. Kata Devan.
“Ah ngak hehehe”. Balas Jesika.
“Baik Devan udah cukup dengan promo barang mu”. Kata Pak Ridwan.
“Baik ya baginda”. Jawab Devan sambil menudukkan kepala bagai hormat kepada sang raja. Murid yang lain seakan-akan sakit perut dengan celotehannya, wali kelas hanya menggelengkan kepalanya, dan Angga masih dengan perasaan yang tak tahu yang mana.
Devan berdiri didepan Angga, Angga ikut berdiri di depan sahabat sejatinya. Semua murid dan gurunya memperhatikan keduanya.
“pagi pahlawan ku”. Sapa Devan lembut, Angga sepertinya tak bisa berkata-kata, entah apa yang ingin Ia keluarkan.
“De …Devan?!”. Kata Angga.
“Dan Angga!”. Seru Devan, karena kerinduan yang memuncak. Keduanya saling memeluk melepas rindu. Semua ikut terharu termasuk Bagas.
“aku cukuuuup merindukanmu”. Kata Devan sambil melepas pelukan.
“Aku juga tapi, …kapan kau …kembali?”. Tanya Angga.
“Yaaaa …tadi malem hehehe …”. Jawab Devan sambil menggaruk-garuk kepalanya. Sedangkan yang lain tetap mperhatikan mereka.
“ …katanya kamu sekolah …dan …”. Kata Angga yang tak tahu apa yang sebaiknya Ia tanyakan.
“Itu boongan sandra. Aku membohongimu untuk membuat kejutan seperti ini. Yaaa berkat dengan teman sepergaulan kita”. Jawab Devan. Teman akrab mereka pun tersenyum.
“Dasar …tapi, terima kasih”. Kata Angga sambil menganguk. Gurunya tertawa kecil dengan kelakuan keduanya, ya meski, ada kekosongan diantara mereka. Yaitu, Dilan.
Devan pun duduk ditempatnya Dilan disamping Angga.
“Baiklah anak-anak. Ulangan tidak jadi hari ini …kita lanjut besok. Jadi kalian punya jam kos sampai istirahat. Sebelum pulang kita akan melanjutkan materi lain. Assalamuàlaikum”. Kata pak Ridwan sambil meninggalkan kelas.
“Baik pak”. Jawab Angga.
Lalu, murid yang lain menghampiri Devan dan berkata.
“Dev! Oleh-olehnya dong”.
“Oh ya tu ambil sendiri. Punya tangan kan?!”. Jawab Devan sinis, mereka tak peduli dan sibuk mengambil oleh-oleh dari Devan.
“Hai sobaaaat ku yang kucintai sedunia iniiiii!”. Kata Devan sambil memeluk Angga. Akalnya seperti Dilan yang suka mengganggu. Angga bersyukur atas semuanya.
“Tada! Bagaimana?! Angga suka?”. Tanya Jesika.
“Suka banget! Terima kasih kembali untuk semuanya”. Jawab Angga sambil tersenyum. Jesika auto salting berat sampai pinsan, Ia baru pertama kalinya melihat Angga menjawab dengan senyuman manisnya.
“Oh ya, ini juga yang terspesial buat kalian”. Kata Devan sambil memberikan oleh-oleh kusus kepada Angga dan empat teman cewe.
Punya mereka yang paling istimewa, selain berisi kue, juga terdapat baju sweter dari Devan.
“Uwah! Terima kasih banget Dev”. Kata Sarah.
“Dan, kami punya kejutan untukmu. Tapi …oleh-olehnya harus spesial juga”. Balas Jian.
“Oh ya …apa”.
“Tu ….”. Jawab Jian, Jesika dan Sarah kompak.
Devan berbalik arah dan ternyata ….
Bagas dan dua anak buahnya memasang muka imut kepada Devan. Temannya tertawa lepas, Angga tersenyum puas.
“Hai hello My Friend”. Kata Bagas sambil mendekati Devan.
“Eh apaan ini sih. Lo baru kesurupan ya”. Balas Devan.
“Hahaha …dia dah jadi bagian dari kita sekarang”. Jawab Sarah.
“Ha maksud __”.
“Ya …kami udah pensiun permanen. Mau kan jadi teman ku jugaaaa”. Rayu Bagas sambil merangkul Devan.
“Dia juga udah banyak membantu kita”. Lanjut Jesika.
“Oh begitu kah?! …eeem ok. Lo ambil dulu yang itu nanti gue beri yang lain”. Kata Devan setuju.
“Hah yang bener?! Woooooo Thankyou My Baby”. Balas Bagas sambil memeluk dan mencium Devan.
“Iiiii jijik tau ngak! …sanaaaa!”. Seru Devan. Melihat ini semua membuat Angga bahagia, tapi …kehadiran Dilan yang tak akan mungkin. Devan yang melihat Angga memikirkam sesuatu yang membuatnya sedih, Ia pun datang menghampiri.