
“Wesssss! Apakah!… itu mungkin kekasih gaib kali ya?”. Tanggap Arga dengan gaya ala detektif.
“Ha? Kekasih? Gaib?”. Tanya Kaila. Karin dan Rangga hanya saling tatap.
“Ya… mungkin Angga mempunyai kekasih gaib yang selalu meminta perjanjian dari Angga. Hingga Angga tak terkendali seperti itu”.
“Hei! Lo udah minta putus sama baby cerewet lo jangan malah ngarang-ngarang ke adek sendiri ya!”. Balas Karin menunjuk ke adiknya.
“Yaaa… mungkin kak Arga sedang galau bercampur sakit hati karena telah memutusin pacarnya sendiri. Yang sabar ya kak”. Ledek Kaila yang membuat Rangga dan Karin ikut tertawa.
“Eh Kaila. Udah pinter bener ya, kesurupan jin Qorin kakakmu apa. Lagi pula aku ngak suka ama dia… dan…. Cerewet, seksi, dan banyak bacot dan lagi pula…. PACARAN PUN NGAK BOLEH KAN”. Omel Arga.
“Sabarul Minal Imaaan… pasti bebek lo ngerti kok”. Kaya Rangga kembali ledek dan mengusap ngusap rambut Arga.
Arga tak terima diledek secara bertubi-tubi, langsung adu bantal dengan kakaknya. Karin dan Kaila hanya geleng-geleng kepala akan kelakuan mereka. Semua akal kakak beradik bagai suasana di kebun binatang.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara ibu-ibu merepet di kamar Angga yang membuat adu mekanik bantal terhenti. 4 adik kakak itu pun saling tatap akan suara yang tak Ia kenal.
“Heh! Siapa sih”. Tanya Karin.
“Entahlah, kayaknya dikamar Angga”. Jawab Rangga.
Mereka pun memutuskan mengintip dibalik pintu kamar Rangga. Terlihat pintu kamar Angga terbuka dan suara semakin jelas.
“Siapa sih emak-emak yang dateng ni malam”. Kata Arga.
“Mau tahu ngak??”. Rayu Karin.
“Apa?! Mau ngajak nguping?!”. Balas Rangga, Kaila hanya memperhatikan tingkah kakak-kakaknya.
“Apa? Ngak mau?!”. Tanya Karin.
“Ya mau sih”. Balas Arga yang sepemikiran dengan 2 kakaknya. Mereka hanya tertawa kecil.
“Eh Kaila! Jangan tiru ya”. Kata Rangga. Kaila hanya tertawa.
Detektif sesat ini pun beraksi. Mereka pun memutuskan masuk kekamar Kaila yang berhadapan dengan kamarnya Angga. Mereka pergi dengan pelan, masuk dan mengunci pintu. Mereka pun duduk dibalik pintu. Yang ternyata itu adalah ibunya Robin.
“Bagaimana Robin! Kau telah melihatnya”. Kata Ibu Robin yang menvideo call dua putranya. Orang tua Angga hanya diam menyaksikan.
“Robin? Siapa Robin?”. Tanya Karin.
“Kayaknya seingat ku… salah satu dari preman sekolah”. Balas Rangga.
“Ha? Bagaimana tahu?”. Tanya Arga.
“Aku kan alumninya. Dulu aku juga OSIS dan tak sengaja menangkap berandal itu sedang merokok disekolah sekaligus! Pembuli”. Jawab Rangga sambil mendekatkan diri dibalik pintu.
“Wah! Dasar berandal ingusan! Bahkan sampai begitunya ke adik kita”. Kata Karin.
“Aduh bu! Untuk apasih repetin aku terus heh!. Dia yang salah kok!”. Kata Robin kesal dan sombong, kakaknya hanya diam menunduk.
“Bisakah kamu sadar diri sedikit heh! Kamu yang mulai duluan dan seharusnya kamu yang bertanggung jawab”. Repet Ibunya. Arga semakin asik untuk menguping.
“Heh! Ibu keras kepala banget!”.
TUT… TUT… TUT…
Kata Robin dan akhirnya langsung menutup panggilan.
“Ih dasar anak bangsat. Dengan Ibunya sendiri aja begitu”. Kata Arga.
“Napa ngak dikutuk aja sekalian”. Tanggap Karin.
Ibunya Robin hanya menghembuskan napas kesal atas kelakuan putranya.
“Huf! Maaf bu … pak atas sikap anak saya yang ngak bisa diatur. Saya… juga ngak tahu harus mau bilang apa”. Kata Ibu Robin.
“Ngak. Anak kalian memang tidak salah. Saya mengetahui dan mengerti tentangnya. Memang anak saya yang tidak bisa diatur, bahkan bapaknya sendiri ngak tahan dengan mereka. Sekali lagi, maaf ya buk… pak”. Kata kembali ibu Robin.
“Ya bu. Ngak apa-apa”. Jawab ibu Angga tersenyum.
“Oh ya, kalau seperti itu, saya mau pulang dulu”.
“Eh… bagaimana kalau duduk dulu sebentar biar saya nyiapin kopi… atau teh”. Kata Ibu Angga.
“Ngak apa bu. Saya juga lagi sibuk. Udah dulu ya bu”.
“Oh baik. Sekali lagi, terima kasih atas bantuan anda”. Balas kembali Ibu Angga. Ibu Tobin tersenyum lembut mengangguk. Ibu Robin pun pulang, Ibu Angga mengantarnya sampai ke pintu.
Sang ayah kembali melihat kondisi putranya itu, dengan wajah yang pucat, napas yang sesak dan keringat yang turun disekujur tubuhnya. Ayahnya khawatir dan cemas, beliau pun duduk disampin putranya sambil mengelap keringatnya.
Karena sudah merasa aman, 4 detektif sesat ini pun keluar dan dengan perlahan masuk kekamar Angga.
“Assalamuàlaikum”. Kata mereka pelan sambil memasuki kamar.
“Waàlaikumsalam”. Jawab sang ayah. 4 anaknya pun mendekat dan ikut melihat keadaan Angga. Kaila yang berada disamping kakaknya seketika ekspreksinya berubah, Ia kini kembali sedih dan khawatir.
“Ayah, bagaimana dengan kondisi Angga”. Tanya Rangga.
“Entahlah, ayah kurang yakin jika menjawab baik”. Jawab sang ayah. Mereka pun kembali kahwatir.
“Ayah, apa kak Angga dapat menjadi seperti manusia biasa, …tanpa kemampuan batin suatu hari nanti”. Tanya Kaila sedih, sang ayah pun menjawab dengan lembut dan tersenyum sambil mengusap kepala putrinya.
“Secara psilogi… tidak. Kemampuan hanyalah kemampuan. Memang kemampuan seperti Angga… sangat sulit dijelaskan oleh orang biasa seperti kita, Ia dapat menentukan diri sendiri”. Jawab ayahnya. Anaknya yang lain semakin sedih dan cemas.
“Oh ya Rangga. Ayah dengar disekolah ada kegiatan kemping kan? Ngak ikut?”. Tanya sang ayah yang mengarahkan pembicaraan.
“Eh… ngak mau ah. Cape… haha”. Jawab Rangga dengan alasannya sambil menggaruk -garuk kepalanya yang tak gatal. Ia tak tahu harus menjawab apa lagi, karena kondisi dirinya disekolah hancur lebur kan. Ia juga tak mau membuat ayahnya harus memikirkan lebih banyak kesulitan yang terlibat pada anaknya.
Sang ayah hanya mengangguk mengerti, beliau juga mengetahui tentang masalah anaknya sekarang.
Lalu, Ibunya pun datang kembali dan masuk kekamar Angga sambil membawakan air untuk membersihkan putranya yang pinsan. Beliau pun sempat memperhatikan luka yang ada pada Rangga.
“Rangga, itu luka kenapa. Berkelahi disekolah?”. Tanya sang Ibu sambil mengelap Angga. Rangga dan 4 adiknya hanya saling tukar pandang.
“Itu bu… ”.
“Kalau bohong, kamu tanggung dosa sama ibu”. Balas sang Ibu. Rangga hanya sampai berkeringat memikirkan jawaban yang tepat.
Karena tak tahan, Arga pun menjawab.
“Ngak sengaja ketemu preman. Lalu terlibat peperangan”. Jawab Arga santai. Rangga yang syok langsung menyenggolnya.
“Apa?! Preman”.
“… i… iya bu. Soalnya,…”. Jawab Rangga, Ia pun terpaksa menceritakan semua.
“Lain kali berhati-hatilah sedikit”. Ucap sang Ibu.
“Baik bu”.
Kaila yang melihat Angga yang terbaring lemah, kembali teringat ejekan dari temannya seperti:
“Hehehe… kasian benget punya kakak yang kek gituan ya”.
“kemungkinan kakaknya itu jin deh”.
“Mengapa?! Sensara punya kakak begitu”.
Kaila pun hanya bisa berpasrah terhadap apa yang mereka hinakan. Ia tak peduli seberat apapun hinaan dari mereka, yang Ia mau hanyalah, kakak tercintanya baik-baik saja.
“Bu, mengapa nasib kak Angga seberat ini”. Tanya Kaila yang membuat keluarganya memperhatikan dan berpaling padanya.