
Devan melihat kondisi Dilan yang terbaring dengan alat pernapasan menutupi mulut dan hidungnya, tali impus ditangannya beserta perban di badan dan kepalanya.
Devan hanya bertanya-tanya dalam hati, apa Dilan hanya mempermainkannya, Ia pasti terbangun dan mengejutkannya disertai dengan tawa dan candaan dari Dilan untuknya tapi,… itu hanya bayangan dalam pemikirannya.
Kini… saat ini… Devan hanya bisa melihat wajah pucat sahabatnya yang sedang kritis tak sadarkan diri. Ia tak dapat mendengar dan melihat tawa, canda, senyum bahkan tingkah dan kelakuannya. Devan hanya bisa berpasrah menerima apa yang terjadi pada hari selanjutnya. Ia menggeram selimut Dilan sambil mengeluarkan air mata, Ia tak mungkin kuasa menahan tangis melihat sahabatnya seperti ini… apalagi Angga.
Ia kembali melihat wajah Dilan dengan air mata membanjiri wajahnya. Ia pun memegang tangan Dilan dan mendekatkan ke kepalanya sambil melepas rindu.
“Lan… kau disini kan?… kau dapat mendengar dan melihat aku disisi mu kan. Jawab Dilan… aku disini…. Kau dapat mendengarkan ku kan…! Jawab… aku merindukanmu… tolong sadarlah…”. Kata Devan dengan tangisnya sambil kembali menggegam tangan sahabatnya. Semua yang disana hanya terharu melihat mereka termasuk kakaknya Dilan yang baru masuk kekamar adiknya.
Lalu, ayahnya Dilan datang dan duduk disamping Devan yang sedang menangis dan memeluk sahabatnya.
“Devan… kau menangis”. Tanya ayah Dilan sambil memegang bahu Devan.
“Ah… Om…”. Kata Devan berseru agak kaget.
“Jangan menangis… anak laki… harus kuat menghadapi setiap rintangan yang dihadapinya”. Kata ayah Dilan menenangkan Devan yang air matanya terus melewati pipinya. Devan menghapus air matanya dan berisaha tersenyum kepada Ayah Dilan.
“Jangan terus bersedih seperti ini… kita bantu doa bersama… supaya Dilan cepat sadar… dan semoga Angga dapat menghadapi masalahnya”. Lanjut beliau sambil mengelus Devan. Devan kembali mengangguk.
“… Om?… bagaimana dengan darah yang diperlukan Dilan…”. Tanya Devan yang masih menggenggam tangan Dilan… sama persis seperti Angga.
“Oh… itu. Telah dibantu oleh salah satu dari teman kalian… kamu belum tahu”. Jawab beliau.
“Eh? Siapa?”.
“Entahlah… Om juga ngak ingat namanya. Ia datang dengan beberapa temannya tadi siang… dan sering dipanggil… preman pensiun”. Kata beliau. Devan kembali syok…, Ia teringat akan gengnya Bagas… Ia memang tak menduga bercampur perasaan yang sangat ingin berterima kasih.
“Mereka membantu banyak... Bagaimana dengan Angga”.
“... Ia masih belum sadarkan diri dirumah”.
“… semoga Ia juga baik-baik saja. Dan… saya juga sangat berterima kasih kepada kalian atas sikap pedulinya kepada Dilan. Terutama… kamu dan Angga”. Kata Ayah Dilan, Devan kembali mengangguk tersenyum.
Setelah berbincang lama, ayahnya Dilan pun dipanggil oleh salah satu suster untuk mengurusi sesuatu. Dan Devan hanya tetap duduk disamping Dilan.
ZIIING… ZIING!!
Terdengar suara ponsel Devan yang memecah lamunannya. Ia pun membuka layar ponsel, dan ternyata teman-temannya yang mengirimkan pesan dari grub baru mereka yang bernama…“ Grub Kolang kaling” yang ber admin oleh Bagas.
Jesika: “Hai Dev… bagaimana dengan mu… sudah sadar??…”.
Sarah: hai… apa kabar…
Bagas: “Bagaimana Van… Roh mu udah kembali?😜🤪🤪….”.
Devan: “ Udah!… Puas lo hah”. Balas Devan sedikit kesal karena diledek. Mereka pun tak henti mengeluarkan tawa.
Bagas: “wiiIh… yang bener? Baru tahu gue lo pernah mati suri… hihihi”.
Devan: “Emang bener lo ya! Buat grub malah ngak dikabarin“.
Dito: ” Weh! Lo pinsan mau kabarin dari mana!… dari frekuensi alam gaib lo“.
Bagas: ”😎👍 mantep ***!!“. Balas Bagas Devan kini benar-benar ingin meledak rasanya.
Mulan: Bagaimana kabarmu.
Devan: baik👍.
Jian: syukurlah… bagaimana dengan Angga. Udah dapat kabar.
Devan: Ia masih belum sadar.
Sarah: Yang sabar ya Van, pasti kondisi akan baik-baik saja… tetap semangat.
Tanya Devan.
Bagas: Yes… tadi siang sekalian mau jenguk Dilan sama yang lain. Dan karna golonganku A … jadi apa salahnya kalau membantu.
Devan: Terima kasih banget ya udah membantu….
Bagas: Ngak apa-apa… setidaknya… gue udah berkoban untuk kita…. Ya meski… waktu yang hanya kita andalkan.
Balas Bagas yang membuat semua yang melihat pesannya kini ekspreksinya berubah. Mereka terpikir akan Dilan yang waktu bertahannya tidak akan panjang, apalagi Angga yang kini kondisi maupun kehidupannya kacau.
Bagas: Tidak perlu khawatir… kita bantu doa bersama ya bro. Semoga Dilan… maupun Angga baik-baik saja.
Raki: Semangaaaat…
Jesika: Jangan khawatir! Kami siap membantu.
Mulan: Jangan berpikir terlalu jauh Van,… pasti ada harapan. Tetap semangat…
Melihat pesan dari mereka… membuat Devan terharu. Ia berusaha untuk tidak membuat mereka khawatir.
Devan: Baiklah… walau bagaimana pun… terima kasih.
Beberapa lama kemudian, mereka pun mengakhiri pesan. Devan melihat foto Walpaper dilayar depan ponselnya yang dimana di foto itu…. Ada mereka bertiga saat baru kelas 1 SMP.
Devan kembali teringat moment bersama sahabatnya…
Saat itu sebenarnya tidak sekolah bersama dengan dua sahabatnya. Ia padahal ingin masuk satu sekolah dengan kakaknya yang bernama Arga. Ya… karna telat, perpendaftaran pun ditutup yang disebabkan Angga trauma akan kejadian pembunuhan yang terjadi pada Ryan, jadi Ia mengurung diri dikamar.
Dan pasnya, Ia pun diterima di satu SMP dengan sahabatnya, meski Ia sebulan tidak masuk sekolah….
Karena Angga saat itu bersikap dingin, tapi… ada dua sosok yang selalu mencairkannya, tak lain lagi selain Dilan dan Devan. Mereka selalu bertingkah konyol, cerewet, dan… selalu menempel.
Sehingga, sedikit demi sedikit, sikap Angga sedikit berubah. Hingga tercipta kembali moment yang indah. Dimana… Devan dapat merasakan sikap Angga yang kini akrab dengan mereka berdua.
Tapi kini,… telah berubah. Kini… tak ada lagi dua sosok yang ingin berbicara dan berada disampingnya. Devan hanya bisa berharap, semua akan kembali normal… dengan Angga dan Dilan yang selalu berada disampingnya.
Ia pun melihat foto bersama di galerynya. Ada foto saat pertama kali mengenal Angga…. Dimana ada Dilan si pengacau dan Angga hanya lelaki dingin yang tak pernah tersenyum dan sering memakai masker.
Yang mana pada saat itu… ketika mereka berdua akrab dengan Angga… teman yang sering bermain dengan mereka menjauh. Jadi, hanya mereka bertiga. Terkadang ditambah dengan Kaila, almarhumah Ryan dan beberapa kakak-kakak mereka… dan hanya tetap mereka.
Sehingga… saat berteman dengan Jesika dan lainnya. Suasana sedikit berubah…
Devan banyak mengenangnya… hingga, datanglah sang ayah yang memecah lamunannya.
”Nak,… mau pulang sekarang? Besok boleh mampir lagi“. Kata sang ayah sambil duduk disamping putranya. Dan banyak juga yang melihat Devan yang berlamunan dari tadi… setidaknya mereka tahu apa yang Ia pikirkan.
”Yah… boleh ya sebentar lagi aja“. Pinta Devan. Ayahnya memperhatikan sikap putranya, Ia tak sengaja melihat ponsel Devan yang tertampil galery dan pandangannya tertuju pada Dilan yang tak melakukan apa-apa.
”Baiklah“. Balas sang ayah.
Beberapa menit kemudian, Devan pun pamit pulang kekeluarganya Dilan. Ia pun menghampiri sahabatnya.
”Lan… aku pulang dulu. Besok aku akan mampir lagi… cepat sembuh ya“. Kata Devan sambil mengelus lembut rambutnya. Ia dan kedua orang tuanya pun pulang.
”Yah… pergi kerumah Angga kan?“. Pinta Devan.
”Mau pergi sekarang juga“. Jawab ibunya.
”Ya“.
”Baiklah“. Balas ayahnya tersenyum sambil mengendarai mobilnya.