The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 6



Rangga yang didalam kamarnya, masih belum bisa untuk tidur. Ia msih memikirkan adiknya, Angga. Ia mencoba melupakannya, Ia berusaha tidur, berguling-guling dan akhirnya duduk juga.


“Ada apa dengan Angga sekarang… huf… napa situasi semakin sulit heh”. Kata Rangga yang disertai dengan nafas panjangnya. Ia teringat akan ucapan Angga tentang pembalasan dendamnya.


“Dendam apa yang Ia balaskan… Ia… atau makhluk itu”. Tanya Rangga dalam hati. Lalu, Rangga mendengar seperti suara tawa misterius didalam kamar. Rangga syok, Ia melihat kesana kemari mencari asal sumber tawa itu tapi yang pasti, itu bukan Angga.


“Siapa lagi kamu!”. Kata Rangga.


“Siapa lagi kalau bukan aku hehe”. Jawab makhluk itu. Rangga tersentak kaget ketika melihat makhluk bayangan hitam, menampakkan dirinya di cermin tepat disebelahnya.


“K… kau”. Kata Rangga.


“Mengapa?… hehe… kau tak mau melihat adikmu bahagia”. Kata makhluk itu dengan bola mata hitam bersinar biru.


“Heh! Berhentilah menjadi parasit! Jangan mengganggu adikku makhluk bodoh!”. Kata Rangga yang bangkit berdiri.


“Hehe hahaha HAHAHA… asal kau tahu, adikmu sendiri yang mau melakukannya sendiri…. Aku hanya berperan mengendalikannya saja”. Kata makhluk itu dingin.


“Apa?!… ”. Seru Rangga syok tak percaya.


“Adik mu, memilih kehilangan akalnya untuk membalas dendam dari pada, ingin mengakhiri hidupnya HAHAHA HAHAHA…”. Jawab makhluk itu dengan melotot kearah Rangga sambil tertawa keras. Dan….


TRASH!…


Rangga yang tak tahan akan perkataan makhluk itu, Ia pun melempar sebuah vas kecil kearah cermin. Dan seketika, bayangan makhluk itu menghilang. Rangga yang emosi hanya bisa membuang nafas tersengalnya.


Tok tok tok…


Lalu, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Liam syok, Ia pun membuka pintu dan ternyata itu adalah sang ayah.


“Eh! Ayah?!”. Seru Rangga sedikit kaget.


“Ada apa nak, belum tidur”. Tanya ayah cemas yang mendengar keributan dukamar putra sulungnya.


“Tadi ayah mendengar ada keributan, ada apa?”.


“I itu… ada…. Eee ti tikus tadi… jadi syok dan… ngak sengaja kelempar sesuatu”. Jawab Rangga sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Oh… yaudah, ni kan udah tengah malem, besok kamu harus kesekolah, cepatlah tidur”. Kata sang ayah sembari meninggalkan kamar.


“Baik”. Jawab Rangga mengangguk. Ia pun menutup pintu dan menghela nafasnya.


“Oh ya ampun…. ”. Seru Rangga pelan sambil mengusap wajahnya.


Kaila masih belum tidur, pikirannya masih belum tenang akan kejadian yang menimpa Angga. Bukannya takut, tapi khawatir.


“Kakak…. Kakak baik-baik aja kan”. Tanya Kaila dalam hati. Karna khawatir, Kaila ingin sekali melihat kondisi Angga dengan dekat.


Ia pun turun dari kasurnya, membuka pintu dengan pelan, dan Ia melihat kesana kemari untuk memastikan tidak ada yang melihat, kecuali kamera cctv.


Ia pun perlahan membuka pintu kamar Angga. Kaila pun menjenguk Angga dibalik pintu, Ia melihat Angga tertidur disana.


“Kakak”. Panggil Kaila pelan.


“Kakak tidur kan”. Sambung Kaila, tapi, terlihat Angga tak menjawab karna tertidur.


Karna kegilasahan, Kaila pun memutuskan tidur dengan Angga. Ia pun naik kekasur Angga dan tidur disampingnya. Kaila melihat wajah kakaknya lamat-lamat.


“Hehem… selamat tidur kak”. Kata Kaila pelan semberi tersenyum manis dan langsung tertidur dengan memeluk Angga.


Angga membuka matanya, Ia sedikit syok melihat Kaila, adiknya, tidur bersamanya. Tangannya memeluk badannya. Angga mengetahui kalau sang adik begitu mengkhawatirkannya. Tangan Angga dengan pelan mengelus kepala Kaila yang berkerudung kecil dengan pelan dan menutup matanya. Kaila yang merasakan elusan Angga, kembali tersenyum.


Hingga, jam menunjukkan pukul 5 Shubuh. Karin memutuskan untuk membangunkan Kaila. Alangkah terkejutnya Karin, saat melihat Kaila menghilang dengan kasurnya yang berantakan.


“Astagfirullah! Ya Allah! Kaila!”. Seru Karin panik.


“Karin, ngak shalat?”. Tanya ibunya.


“Bu, bu Kaila! Kaila bu”. Kata Karin panik.


“Apa, Kaila kenapa? Belum bangun?”. Tanya ibunya bingung.


“Bu, Kaila hilang!”. Jawab Karin panik, begitu juga dengan sang ibu.


“Astagfirullah… kok hilang”.


“Karin juga ngak tahu, Karin juga udah nyari di ranjang, bawah ranjang bawah selimut bawah semen tapi ngak ada”. Kata Karin. Sang ibu tidak ambil kepanikan. Beliau tertuju kekamar Angga.


Beliau pun membuka pintu kamar Angga, dan ternyata, Kaila tidur disana. Karin hanya dapat mengedap ngedip tak percaya, sang ibu hanya tersenyum menahan tawa. Sungguh momen yang tak terlupakan, Kaila tidur manis disamping Angga.


“Nah,… siapa yang bilang hilang”. Kata sang ibu.


“Yaa… Karin mana tahu kalau Kaila tidur sama Angga”. Jawab Karin, sang ibu hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. Beliau pun pergi membangunkan Kaila. Sebelum itu, beliau perlu mengecek kondisi Angga.


Sang ibu mengecek kepala Angga, sedangkan Karin membantu membangunkan Kaila.


“La… Kaila, bangun”.


“Huaaaamm…”. Nguap Kaila yang terbuka matanya.


“Eh, kak… napa”. Lanjut Kaila.


“Pake nanya segalaan… dah Subuh”. Jawab Karin.


“Emm… kamu tidur sama kak Angga”. Tanya Karin, Kaila mengangguk benar.


“Ya ampun bikin panik aja…. Mmm bu, bagaimana kondisi Angga?”.


“Biarkan saja Ia istirahat, yuk salat dulu”. Kata sang ibu. Mereka pun meninggalkan Angga dikamar.