The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 4



Tak berapa lama kemudian, Devan telah siuman. Pandangannya pun terbuka yang terpancar langsung keseluruh temannya yang menunggunya.


“Devan kau telah sadar”. Seru Jesika dan yang lain dengan perasaan senang melihatnya dan Devan hanya mengangguk.


“Lo baik-baik aja kan? Suara lo gimana”. Tanya Bagas khawatir.


“masalah seperti tadi lumayan parah Bagas. Tapi ngak kemungkinan suara menjadi hilang dan terkadang cuma serek”. Jelas Mulan.


“Ya... Jangan banyak tanya dulu tu pasti sakit banget pas keluarin suara kan Dev? ”. Sambung Sarah Devan pun membalas dengan senyumnya.


“Napa dunia jadi ngak adil gini sih”. Balas Jesika lesu karna mengingat kejadian mengerikan ini. Semua temann berpaling kearahnya.


“Lihat... Napa demi hari sampai kapan pun kehidupan jadi gini. Apalagi Angga... Sekarang lihat... Orang yang berharga untuknya menghilang... Bahkan kini dirinya berubah.... Hiks hiks ini ngak adil... ”. Kata Jesika yang kembali menangis sambil menutup wajahnya. Semua yang melihatnya ikut sedih jika mengingat.


“Jes... Dunia ini ngak salah semua ini ujian Jes. Bahkan untuk teman kita sendiri. Jadi... Kita harus menjalaninya”. Kata Mulan menenangkannya dengan elusan lembut yang ia berikan.


“.... I... Ibuku mana”. Tanya Devan dengan memaksa suaranya meski kelihatan agak serek.


“Lagi bantu-bantu... Dev kalau memang sakit leher lo kagak usah dipaksain”. Balas Raki.


“Ya ya”.


Tok tok


Lalu... Karin pun datang dengan ketukan pintu dan membukanya. Ia pun masuk dan memeriksa keadaan Devan dan anak lain yang terluka.


“Salamuàlaikum”.


“Walaikumsalam”.


“Devan gimana? Ada yang sakit? ”. Tanya Karin sambil mendekati dan memeriksa keadaanya dan Devan pun hanya menggeleng.


“Syukurlah... Yang lain? Gimana? ”.


“Alhamdulillah baik kak”. Jawab Bagas yang kini beda aura. Ia terlihat alim dan jauh berbeda dari preman.


“Alhamdulillah... Jadi gini. Gimana kalian juga ikut yasinan, soalnya ngak ada yang datang selain... ”. Ucap Karin kecewa dan kembali tertangis oleh butanya penghianatan kejam.


“Tentu Kak. Kami juga turut berduka ya... Yang sabar ya kak”. Lanjut Mulan dan langsung memeluknya dan langsung dibalas Karin.


“Hiks hiks... Makasih ya”. Ucap Karin sambil menghapus air matanya dengan jilbabnya.


Mereka pun turun untuk yasinan atau membaca alquran bagi yang berkepecayaan. Memang kejam dan sangat kejam, tak ada yang mau datang.


Yang menghadiri hanyalah... Kedua orang tuanya sahabat, kepala sekolah, pak Ridwan dan beberapa guru lainnya, pak ustadz, beberapa pria yang tadi dan tak menyangka kedua orang tuanya Bagas dan Robin pun datang.


Bagi kaum wanita, melaksanakan shalat mayit yang dilakukan oleh putihnya sendiri, guru, dan ibunda murid masing-masing.


Sang ayah, menuntun Angga dan duduk disampingya. Semua terpusat kepadanya yang hanya menunduk dengan wajah yang tersembunyi karna rambutnya. Tubuhnya lemah yang hanya bisa bersandar dengan orang yang kedua yang akan mengantikan yang pertama yaitu sang ayah.


“Aku paham dengan keadaanmu Angga. Ku harap kau kuat dan tak kembali seperti dulu tapi ingat… kami tak akan nyerah berasa disisimu”. Kata Devan dalam hati dengan pandangan khawatir yang tertuju kepada Angga. Melihat keadaannya saja membuat Devan sesak, Ia hanya bisa berharap jika semuanya dapat terselesaikan.


Pengajian pun dimulai. Tangis juga ikut mengisinya. Angga hanya diam membisu dengan pose menunduk. Pandangannya gelap dan suram.


Setelahnya, Aryana dimakamkan disebelah makam putra mereka yang bernama Ryan Gilangzairan tepat di halaman rumah sebelah kanan yang cukup luas dan indah, di penuhi bunga-bunga dan rumput yang hijau.


Liang kubur telah siap. Rangga dan Arga langsung mengkumandangkan lantunan azan sebelum jenazah ibunda turun. Angga kembali sesak, seluruh tubuhnya seakan-akan terlilit rantai besi yang panjang.


Jenazah Aryana pun dikuburkan dengan layak. Putra dan Putri Gidran duduk mengelilingi makam beliau.kaila menangis sambil memeluk nisan sang Ibu. Angga hanya bisa bersandar ditubuh ayahnya karna tak dapat berdiri dengan tubuhnya yang lemah.


“Rangga... Yang sabar ya Nak. Biarkan Ibu tenang disana dan mendapat tempat yang layak disisi Allah ya Nak”. Kata Pak Ridwan sambil memegang bahu Rangga.


“..... Iya Pak. Makasih ya”. Jawab Rangga sambil menghapus air matanya yang terus turun mengalir.


“Kami ikut berduka atas kepergian istri anda. Semoga Allah menempatkan tempat yang nyaman disisinya”. Kata kepala sekolah sambil memegang bahu Gidran.


Semua ikut memalingkan perhatian mereka pada Angga. Wali kelasnya, mendekati Angga yang berada disamping sang ayah yang memegang dirinya.


Pak Ridwan pun menyentuh muridnya di bahu hingga membuat Angga menjadi ketakutan dengan tubuhnya yang tegang dan dengan nafas yang tertahan. Pak Ridwan hanya bisa menghela napas panjangnya saat melihat kondisi Angga lebih parah dari dugaannya. Tangga melihat Angga lamat-lamat yang membuat dirinya bersalah atas tindakan bodohnya tadi.


Beberapa menit kemudian, para tamu pun pulang, namun tidak dengan kedua orang tuanya sahabat Angga. Mereka membantu selebih kekacauan yang terjadi karna kejadian tadi.


“Pak... Kami akan mengurus kasus ini terlebih dahulu hingga selesai”. Kata salah satu petugas yang dibalas dengan anggukan Gidran. Mereka pun pergi menjalankan tugas mereka dan meninggalkan rumah tersebut.


Gidran pun membawa putranya, Angga kekamarnya dan membiarkan Ia beristirahat. Rangga dan adiknya baru selesai bersinggah di makam sang Ibu, kini mereka pun masuk dan membantu yang lain.


Devan dan temannya yang lain pun ikut membantu membersihkan kekacauan besar itu dan berusaha menghilangkan memory mengerikan dikepala mereka.


“Devan, Bagas, kalian istirahat dulu sana, biar kami aja yang ngurus ini”.


“Mulan benar, kepala kalian pasti masih pusing kan? Kalian tidur dulu dikamar atau duduk dulu, jangan dipaksa”. Kata Jian dan Mulan memerintahkan pada mereka berdua untuk beristirahat karna kejadian tadi yang membuat mereka terluka parah.


“Devan aja, aku baik-baik aja kok. Udah mendingan, Dev, lo duduk istirahat dulu oke”. Balas Bagas, Devan yang merasa kondisinya yang masih belum membaik hanya bisa mengangguk dan duduk disofa.


“Emangnya lo ngak apa-apa Bagas”. Tanya Jesika khawatir.


“Yap”. Jawab Bagas singkat sambil mengambil beberapa barang yang berjatuhan. Ia dan yang lain pun membereskan tempat ruang tamu yang berantakan itu. Di sela-sela kesibukan mereka, Devan yang duduk menyandarkan dirinya disofa.


Seketika keadaan lengang dengan ekspresi wajah lesu, apalagi Devan. Tak berapa lama, terdengar suara mobil yang datang dan baru memasuki halaman rumah yang membuat pandangan para remaja ini terpaling kearahnya.


Tak lama dari itu, terlihat seorang wanita tua yang tak lain neneknya Angga, dua adik Aryana dan tentu, Veno saudaranya Angga yang begitu menyebalkan.