The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 2



Sesampainya dirumah sakit, Angga langsung dibawa ke ruang tindakan. Gidran yang lain pun tunggu di luar untuk menunggu informasi.


Rangga duduk termenung memikirkan kejadian yang mengerikan ini. Pikirannya mulai kacau karna rasanya bersalah terhadap tindakan emosinya terhadap Angga.


“Rangga, tenangkan dirimu ya”. Kata ayah Dilan sembari memegang bahunya.


Arga hanya bisa menghembus napas beratnya semberi menenangkan keadaanya dan melupakan kejadian yang membuat hatinya terbanting jatuh.


Dua jam lamanya hingga menunjukkan pukul 18.45,Dokter dan perawat lainnya pun keluar hingga membuat siapa pun didepannya menjadi tegang.


“Dok! Gimana keadaan putra saya katakan! ”. Tanya Gidran panik.


“Kondisi matanya kini telah melakukan tindakan operasi. Bagian saraf terutama bagian retina terputus atau rusak namun, untunglah bapak dan keluarga langsung membawanya kesini tapi untuk itu, perlu melakukan beberapa kali tindakan operasi agar kondisi matanya menjadi seperti semula”. Jelas sang Dokter hingga membuat mereka bernafas lega.


“Tapi, satu kabar buruk yang bapak dan keluarga harus menerimanya”. Lanjut Dokter lesu hingga membuat ekspresi Gidran dan yang lain berubah drastis dengan keadaan syok.


“A... Apa itu dok”.


“Putra bapak, mengalami mental illness atau yang biasa bisa kita sebut gangguan jiwa yang cukup parah”. Sambung beliau sampai membuat Gidran kaget dan tak dapat menerimanya. Rangga yang tadinya mulai lega kini kembali bersalah.


“apa! Gangguan! Ji_wa?! ”. Seru Gidran.


“Iya pak, tapi... Bukan karna terhubung dengan putusnya saraf pada mata. Hal ini karna putra bapak terlalu banyak stres dan emosi yang berlebihan sehingga mengganggu pikirannya, seperti gangguan mood yang paling umum dirasakan seperti depresi, bipolar dan siklotimik hingga kesadarannya terganggu. kondisi kesehatan yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, suasana hati, atau kombinasi diantaranya”. Jelas dokter hingga membuat Gidran seakan-akan mengalami gagal jantung mendengarnya.


“Apa__seberat itu dok?! ”. Tanya Arga khawatir sekaligus takut jika penderitaan mental Angga lebih parah dari yang sebenarnya. Mendengar pertanyaan dari Arga, dokter kembali menghembuskan nafas panjangnya karna kenyataan yang harus diterima.


“Bahkan, lebih parah nak”. Jawab beliau yang membuat keluarga dari pasien didepannya pucat seketika.


“Maaf saya mengatakan ini, tapi ini sesuai dengan kenyataan. Gangguan yang dialami lebih parah, hingga Ia melupakan seisi memory dikepalanya, baik itu keluarga, sahabat, teman dan lingkungan disekitarnya. Kemampuan berbicara, pergerakan anggota bahkan terganggu. Maka dari itu, pasien harus diberikan rasa peduli dan kasih sayang yang lebih agar kemampuan dan memorinya insyaallah akan kembali”. Sambung beliau dengan anggukan lemah dari Gidran.


“Baiklah kalau begitu. Soal pasien, operasi pada matanya harap dilakukan setahun sekali ya pak, agar penglihatannya pun kembali normal. Dan saya juga telah memberikan obat penenang dan yang lain untuk putra bapak, dan tolong diperhatikan dosisnya ya. Saya permisi salamuàlaikum”.


“Baik dok, Walaikumsalam”. Jawabnya yang kini melemah karna mendengar informasi yang begitu menyiksa ditelinga sampai ke hati. Beliau tak menduga, keadaan semakin parah bahkan, putranya sampai mengalami kerusakan mental.


Hari dimana mereka akan berselawat pada saat sang Istri, Ibu dari anak-anaknya, kini malah menyaksikan salah satu putranya yang kehilangan mentalnya.


Rangga benar-benar tak percaya. Matanya semakin perih mengeluarkan air mata. Ia merasa bersalah mengeluarkan emosi dan kata-kata yang dapat menyebabkan hati adiknya tertusuk. Bahkan Arga, kepalanya seakan-akan meledak jika dunia adiknya hancur lebur.


Mereka pun masuk ke ruang tersebut dan melihat Angga yang terbaring dengan perban yang menutupi kedua matanya hingga mereka tak mengetahui Jika Ia sedang tidur atau tidak.


Gidran pun mendekati Angga yang posisinya tidur dengan kedua matanya yang tertutup perban. Beliau pun melihat kondisi putranya yang semakin hari semakin parah, bahkan sampai mental yang kini terganggu.


Keadaan Angga lebih parah, walau kesadaran dirinya yang terganggu, trauma nya masih menjiwainya. Ia tak mengenal siapa pun disekitar bahkan keluarganya sendiri.


Gidran kembali terisak tangis, beliau membantu Angga untuk bangun meski Angga terlihat tertekan jika disentuh. Arga bergegas mengambil kursi roda dan Rangga melepaskan jaket miliknya dan memakaikannya untuk Angga. Semua melirik ekspresi Rangga yang merasa bersalah dan tak bisa diam dalam kesalahannya.


*****


Mulan dan yang lain ingin meminta izin untuk pamit Karna waktu hampir magrib terkecuali Devan, Ia masih belum siuman dikamarnya.


Dan, tak lama kemudian, Gidran dan yang lain pun pulang dengan membawa Angga yang. Mereka turun dari mobil dan mendorong Angga yang duduk di kursi roda.


Karin dan seisi rumah yang lain, sangat khawatir melihat kondisi Angga yang parah total. Mereka langsung menghampiri mereka dan menanyakan keadaannya. Namun, Gidran tak menjawab dan hanya sekadar tersenyum paksa dan membawa Angga kekamarnya. Melihat sang ayah, anaknya mengerti jika bukan kabar yang baik akan terucap.


Rangga dan Arga begitu putus asa dan kecewa terhadap keadaan yang telah menjadi takdir. Mereka duduk lemah disofa dan sang ayah membawa Angga ke kamar lantai utama yang bersebelahan dengan kamar yang ditumpangi Devan.


Angga duduk di kursi roda dengan perasaan kosong, sang ayah tak kuat melihatnya yang begitu kacau. Beliau pun duduk melutut dihadapan sang anak.


“Nak, dengar ayah? ”. Ucap Gidran namun Angga hanya diam.


“Angga, putra ayah, dan Ibu, tak akan ada ancaman yang membuatmu takut lagi... Kami berjanji”.


.......


“Kami ada untukmu dan selalu ada.... Ayah harap... Kau akan kembali ya... Jangan kecewakan ibumu”. Lanjut beliau dan mengelusnya hingga membuat Angga ketakutan.


TRIIIT TRIIIT....


Ponsel Gidran pun berdering, Ia pun mengangkat panggilan dan ternyata itu adalah korban dari perbuatan magiisnya Angga. Gidran mengetahui dan langsung menutup panggilan tersebut dan tak berapa lama setelahnya, mertua kembali menghubunginya.


“Ya bu”. Jawab Gidran dengan nada kesal dan kecewa.


“𝘎𝘪𝘥𝘳𝘢𝘯! 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢! 𝘝𝘦𝘯𝘰 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘤𝘰𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩! 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪! ”.


TUUUUT....


Tanpa menjawab, Gidran langsung menutup panggilan dengan keadaan kesal. Beliau kembali melihat keadaan putranya dan berkata....


“Hah.... Ayah pergi dulu ya. Jangan pikirkan apa yang terjadi. Semua baik, ya.... ”. Ucap Gidran sambil mengusap kepalanya dengan pelan, meski.... Keadaan Angga masih tertekan berat.


Gidran pun memutuskan untuk pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan keponakannya yang akalnya tak dapat diharapkan. Angga pun dibiarkan didalam kamarnya dengan keadaan mata yang tertutup. Kini, untunglah Ia masih tenang, jadi... Ngak memberontak. Gidran pun dengan perlahan menutup pintu kamarnya, meninggalkan Angga dan berangkat kerumah sakit.