
“Haha... Kalian keluarga yang cukup keras kepala ya. Anak begini harus dibesarkan untuk apa hah untuk apa! bikin malu sendiri?! ”. Hina mereka. Yang membuat Rangga menggeram tangannya.
“Kalian tahu apa hah! Dasar kalian manusia iblis! Tak punya hati! Dasar binataang!”. Seru sang Ibu yang berdiri dan dibantu oleh Karin. Terlihat sang Ibu sangat murka terhadap mereka.
“Kau bilang apa! Dasar wanita ngak tahu diri”.
BUGH!....
BRAK!.....
“Dasar manusia! Haaa! ”.
Teriak Rangga murka dan langsung lawan fisik dengan bapak-bapak itu. Tak satu manusia, tapi para pria yang lain ikut menghabisi Rangga karna menghalangi rencana mereka.
“RANGGA! ”.
“KAKAK?! ”.
Seru mereka panik karna Rangga telah salah pilih kendalinya. Mana melawan banyak pria yang jauh dewasa berhenti pula.
Namun, demi adiknya Ia akan melakukannya, meski taruhannya adalah nyawa. Sang ayah tak tinggal diam, beliau mengambil tongkat bisbol yang terletak di keranjang peralatan olah raganya Angga disamping pintu dan...
BRUK!...
Beliau memukul salah satu pria dan kembali memancing emosi pria yang lainnya.
Devan, Bagas dan dua anak buahnya Raki dan Dito tak tinggal diam. Karna kerumunan berubah menjadi kriminal, mereka dapat celah dan langsung menerobos menuju ke Angga.
“Kalian yang cewe tunggu disini! ”. Perintah Bagas yang disertai anggukan mereka. Devan pun langsung memasuki kamar Angga dan disusul oleh tiga temannya.
Mulan dan yang lain terus berusaha memanggilkan bantuan, tapi jawaban tetap sama. Satu panggilan pun tak aktif. Entah karna keadaan kota atau apa.
“Heeh! Ni pada napa sih! ”. Seru Jian kesal.
“Ngak mungkin masalah jaringan disini! Padahal tadi saat Bagas hubungi Devan dan lagi bicara sama kakaknya Angga bisa kan?!! ”. Protes Sarah kesal.
“Kakak juga ngak tahu... ”. Jawab Mulan panik.
Bahkan Mulan, Ia sedikit curiga dengan tatapannya yang terus diponsel. Ia pun langsung berlari keluar.
“Mu! Mulan! Mau kemana?! ”. Panggil Jesika, namun Mulan langsung menuruni tangga, dan temannya yang lain ikut mengikutinya.
“Haha... Pemandangan yang mengembirakan bukan? Hehe... Kau meminatinya”.
“Kau mala petaka Angga, benar-benar tak berguna. Hehe... Mungkin kau akan mengerti saat salah satu dari orang yang kau sayangi akan menghilang yaa hahaha!... ”. Balas makhluk itu yang masih belum puas dengan trauma yang Angga alami. Mendengarnya saja, Angga benar-benar tersiksa, nafasnya semakin sesak dengan gerakan tangan yang semakin kuat.
Arga yang berada disamping Angga kembali panik melihat adiknya yang seperti tak terkendali.
“Ga? Ga? Angga?! Ada apa?!! ”. Tanya Arga panik namun, Angga tak menjawab dengan nafasnya terengah-engah.
“Tenanglah, semua akan kembali... Kami akan melindungimu”. Kata Arga sambil memeluk erat sang adik. Tak lama kemudian, Devan dan tiga temannya datang menghampiri tanpa ketahuan oleh para pria itu.
“Kak Arga! ”. Panggil Devan.
“Dev?! ”.
“Kita harus cepat bawa Angga pergi dari sini!”. Kata Devan pelan namun panik.
“Kau benar! Tapi... Kita tak mungkin aman jika langsung menerobos mereka Dev! ”. Sahut Raki. Bagas yang melihat dan memantau keadaan sekitar. Dan untunglah terdapat jendela besar yang ada dikamar Angga.
Bagas mencoba untuk mencari tali disekitar dan akhirnya, matanya terpusat pada bagian atas lemari, terdapat seutas tali piton yang panjang.
Bagas langsung gas mengambil tali tersebut dengan hati-hati tanpa ketahuan. Setelah mendapatkannya, Bagas langsung menghampiri jendela dan mengikatnya pada bagian pagar balkon dengan kuat.
“Kak! Kakak bisa kan pangku Angga dan turun”. Kata Bagas yang selesai dengan pekerjaannya.
“.... Insyaallah, kita coba”. Jawab Arga dengan penuh keyakinan.
Arga pun mengendong sang adik yang setengah sadar dan lemah itu dan dibantu oleh Devan. Sang Ibu, Karin dan Laila yang masih berdiri melihat rencana mereka langsung mengerti.