The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Makhluk Bayangan Hitam



Trit! Trit! …


Ponselnya berbunyi pesan dari Devan. Ia pun mengambil dan membacanya.


“Ga, bagaimana kabarmu baik?!”.


“Em”. Balas Angga.


“Kakakmu bilang, kau pinsan …kenapa?”.


“Ya …aku juga dah lupa bagaimana kejadiannya”.


“Udah diduga deh. Dan maaf, aku ingin menanyakan sesuatu”.


“…. Apa”.


“Kamu mau coba bunuh diri ya?”. Tanya Devan yang membuat Angga bingung mau balas apa. Setiap pertanyaan seperti itu seperti berulang-ulang dikepalanya.


“Tahu dari mana?”.


“Dari Jesika dan temannya. Tapi …mengapa kau nekat seperti itu”.


“Udahlah lupakan”. Balas Angga singkat, Devan mengerti, Ia pun memancing pembicaraan ke topik yang lain.


“….eee …besok pergi kesekolah?. Kalau tak salah hitung …besok ulangan kan?!”.


“Ya. Omong-omong …bagaimana sekolah mu disana?, sekolah dimana?”.


“Heh baru nanyak. Ya …baik. Aku sekolah di …eeee … SMP Juang Merdeka Jakarta”. Jawab Devan berbohong, Ia sebenarnya tidak sekolah disana karena mengetahui Ia pasti akan kembali.


“Oh …”. Jawab Angga singkat percaya, Devan yang disana yang dalam perjalanan pulang, tertawa kalau Angga mempercayainya.


Singkatnya, mereka berdua telah mengobrol bersama. Angga terlihat tersenyum kecil atas chat yang disampaikan Devan. Senyumannya itu, tak sadar telah dilihat oleh Ibunya dibalik pintu sambil tersenyum dan pergi.


“Oke ya. Kamu istirahat dulu sana …jangan kayak Vampire oke …”.


“Ya …kamu juga jaga diri baik-baik”.


“Oke friend! …good bye …”.


“Em”.


“Siapa pria itu?! …apa yang Ia inginkan dariku” gumam Angga sambil mengeluarkan napas panjangnya. Dan kembali mengingat tiap nasehat yang diberikan oleh orang-orang yang peduli padanya.


“Mereka selalu memeringatiku. Tiap kejadian yang ku alami, mereka terkadang terlihat baik-baik saja pada ku. Tapi, kalau dibelakang, mereka merasa takut akan kejadian yang menimpaku, seperti Ibu dan ayah, saudara bahkan temanku sendiri”. Kata Angga dalam hati. Ia pun, kembali mengingat kejadian dimimpinya tadi.


“Apa aku sanggup melakukannya jika keadaan sekelilingku seperti ini?. Mengapa rasanya begitu berat untuk mengakhirinya”. Gumam Angga. Lalu tiba-tiba, terdengar tawa menyeramkan misterius dikamarnya yang membuat Ia terkejut.


“Wahahahaha!! ….. kau masih memikirkannya ya hahaha”. Suara tawa makhluk yang tak asing lagi bagi Angga. Suaranya bergetar kemana-mana, tapi anehnya, hanya Angga saja yang mendengar.


“Tolong jangan mengganggu ku!. Tunjukkan dirimu! ….Hah!”. Kata Angga panik dan Ia terkejut saat melihat sesosok bayangan menyerupai dirinya itu berada di cermin lemari didepannya. Makhluk pengganggu itu tersenyum seram dan menatap Angga dengan tajam.


“Kau …”. Angga mulai panik dan ketakutan. Ia lalu berlari menuju pintu. Tapi karena keadaannya masih lemah, Ia pun terjatuh. Sesosok tersebut mulai keluar dari cermin dan datang menghampiri Angga dengan muka gilanya.


Angga kembali bangkit, dan berusaha menuju pintu meski keadaanya yang cukup lemah.


Krek! Krek!!


“Sial! Mengapa terkunci …”. Kata Angga panik sambil berusaha membuka pintu yang dikunci oleh makhluk itu.


“IBU! AYAH! Tolong! KAK! KAKAK! TOLONG BUKA PINTUNYA!!”. Teriak Angga dengan badannya yang berkeringat. Tapi, tidak ada yang mendengar teriakannya.


Hehehe …


Sesosok tersebut kembali tertawa.


“Menjauh dariku! …apa yang kau inginkan heh!”. Kata Angga.


“Heh! Jiwamu”. Jawab makhluk itu dengan singkat yang membuat Angga syok bukan main.


“Untukku!”. Lanjutnya, dan kemudian, tangan bayangannya diangkat perlahan dan


Gedubrak!.


Angga terangkat dan terlempar ke depan. Tubuhnya seakan-akan mau remuk karena terlempar beberapa meter. Sesosok itu kemudian mendekat dan Angga pun bangkit sambil memegang kepalanya yang mulai sakit.


“Mengapa masih berpikir untuk mengakhiri hidup mu. Kau pikir kau akan lolos dari kendali ku heh!”. Kata makhluk tersebut Angga mulai waspada.


Sesosok bayangan itu mulai senang, Ia lalu mengangkat tangannya yang membuat Angga tidak bisa bergerak dan lehernya seperti dicekik oleh makhluk itu.


Makhluk bayangan itu senyum kembali dan menghilang lalu, Zap!. Muncul didepan Angga. Angga syok berat, Ia tidak tahu harus melakukan apa, Ia tidak bisa bergerak bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya.