The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Bayangan Kedendaman



Sang guru tidak percaya akan perkataan muridnya. “Jangan berperilaku bodoh Angga!. Sadarlah”.


“Sadar apa …walau Angga kehilangan nyawa atau kewarasan pun Angga tidak peduli”.


Pak Ridwan tak tahan, Ia mengeluarkan air matanya. Angga melihat gurunya, Ia sebenarnya tak tahan melihatnya.


Pak Ridwan pun memeluk Angga, sembari melepas rindu, dan meenangkan hati Angga.


“Dengar …apapun yang kamu usahakan untuk mengakhiri hidup mu. Kamu tetap ada orang yang selalu melindungimu nak”. Kata Pak Angga. Angga tidak membalas pelukan gurunya, sikapnya tetap dingin dan perasaannya yang sudah melewati frustasi.


Jam pulang pun tiba, kini mereka pulangnya lebih telat karena mengikuti ekstrakurikuler. Kaila disuruh untuk pulang duluan.


Angga memilih eskul beladiri karate. Ia kini ahli dalam menggunakan senjata. Mulan belum menentukan apa yang ingin Ia ikut. Jadi, Ia melihat temannya yang mengikuti tari. Perasaannya menjadi tidak enak akan keberadaan Angga.


Beberapa menit kemudian, mereka selesai. Lalu berencana ingin melihat Angga. Bagas juga telah selesai dari kegiatannya. Ia mengikuti tekwondo.


“Hey Mulan, kau belum memilih ingin mengikuti apa?”. Tanya teman Bagas bernama Raki.


“Ah belum, masih bingung sih”. Jawab Mulan.


“Emang ya, kalau anak pinter akan berpikiran labirin jika ingin mengikuti sesuatu”. Kata Bagas.


“Halah …dari pada mu yang berpikiran sesat”. Jawab Jian, yang membuat Bagas geram dan yang lain tertawa.


“Wah …itukan Angga”. Seru Jian.


“Liat yuk! …Ia sedang ingin menguasai senjatanya tuh pasti keren!!!”. Ajak Jesika, mereka pun pergi untuk melihat Angga.


“Satu ….!”.


“Ha!”.


“Dua …!”.


“Ha”.


“Tiga“.


”Hiya!!”. Suara teriakan guru karate dan murid yang lain. Hanya ada 12 orang yang mengikuti tampilan senjata termasuk Angga. Tampilan mereka memang perfect, mereka mengunakan senjata seperti pedang samurai. Ada banyak yang menonton.


“Waaaah!! Keren buangeeet!!”. Seru Jesika.


“Idih tu Angga di barisan depan yang tengah! gokil”. Seru Jian.


“Ha …sungguh. Apakah termasuk melawan gurunya?”. Kata Sarah.


“Ya iyalah, namanya aja bela diri”.


“Baiklah, kalian selesai. Sekarang, Angga menunjukkan kemampuannya!”. Tegas guru karate. Angga pun menunjukkan perkembangannya. Semua murid yang keras kepala merekamnya, terutama cewek.


Angga pun memberikan hormat didepan gurunya. Lalu melakukan sikap awal, tangannya melakukan gerakan memukul dan mengeluarkan pedangnya. Gerakan tubuhnya lincah dan cepat menanggap. Mengayunkan pedangnya kesana dan kemari Ia melakukannya dengan serius.Wajah tampannya terlihat dengan rambutnya yang terhempas. Semua yang melihat kagum terutama cewek, mereka terkadang ingin berseru bahkan muka mereka saja memerah tuh.


Tapi, jangan tanyakan Jesika dan Jian ya. Mereka telah berseru duluan. Sarah hanya menampilkan muka merahnya menahan seruan kocak.


“OMGG~ Haaa yaampun mengapa pemandangan ini terlihat didepan mataku sendiriii!!!”. Seru Jesika.


“Terkenal sekolah kita ada yang mirip artis korea. Tapi …tunggu, bagaimana kalau kita panggil Angga dengan ….”. Balas Jian.


“HAA ….OPPAAA!!”. Seru Jian dan Jesika kompak. Tampak mereka saja sih yang paliiiing kesaltingan. Yang lain hanya menahan karena malu. Mulan tampak dari tadi memperhatikan Angga serius.


“Hadeeeh …terlalu kebanyakan drakor”. Ucap temannya Bagas.


“Woy Mulan, kau ngak kayak temanmu tuh. Memangnya kamu ngak ada wow gitu sama Angga”. Seru Bagas.


“Eee ..ngak sih biasa aja. Tapi kalau di bicarakan tentang Jesika dan Jian, minimal kayak Sarah aja deh”. Jawab Mulan.


“Ya juga ….”.


Kita pikir Angga melakukan tiap gerakan menyerang karena latihan biasa, tidak. Ia melakukan hal tersebut sebagaai contoh pembalasan dendamnya ke seseorang. Dalam pemikirannya, Ia melihat dalam keramaian merupakan orang-orang yang telah menhianatinya. Itulah yang di perhatikan Mulan sejak tadi.


Satu hentakan pedang, kepala bayangan tersebut terputus, badan terluka dan darah yang berceceran.


“Satu serangan …berarti kesakitan …serangan kedua …mengakibatkan luka …serangan selanjutnya ….kematian yang di depan mata …”. Kata Angga dalam hati yang penuh dengan emosi.


Lalu prakteknya pun selesai, gurunya pun menyuruh Angga untuk bertarung dengan senior dari Kakak sekolah SMA 10 Nasional yang bernama Rihun, memiliki watak yang sombong. Tapi dengan menggunakan tongkat dulu. Angga yang masih dengan tatapan kosong, menurut.


“Nah kan, apa kubilang …”. Seru Bagas.


“Berisik !!”. Kata Sarah.


“Bertarung dengan senior??!. Tampak kuat sih …tapi sombong anjiiir”. Kata Jesika.


“Nah bocah batin!!, siap!. Untung pake kayu, kalau tidak …”. Kata Rihun terputus saat di marahi gurunya. Angga menatapnya dengan tatapan tajam mematikan.


Akhirnya pertarungan pun dimulai. Mereka pun memulai dengan sikapal salam, lalu, Angga maju duluan. Ia menyerang, tapi dapat di hindar oleh Rihun.