The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Semangat Untuk Devan



Devan dan beberapa temannya pun pergi ke halaman belakang sekolah dimana disana tak ada siapa pun selain mereka.


Devan duduk menenangkan diri di sebuah kursi tua disana. Temannya hanya diam melihat Devan membisu akan kekesalan, jadi, Bagas pun dengan senang hati mengembirakannya.


“Dev, mau air”. Tanya Bagas sambil duduk disampingnya dengan memberikan sebotol air mineral. Tapi, Devan tak menjawab, tak melirik dan tak menerima air dari teman barunya.


“mmm… ngak mau?… bakso? Nuget? Sate?…. Kue? Gorengan?… tokek?”. Sambung Bagas.


“Apasih”. Balas Jesika.


“Dev… udahlah jangan pikirin mereka, tenang aja pasti ada jalan keluar”.. Kata Dito yang duduk diatas pohon mangga yang tak terlalu tinggi.


“Tenang apa coba, coba pikirin, apa aku bisa tenang kalo dua sahabat gue dah rusak gini heh”. Jawab Devan.


“….. gu… gue ngerti, maaf”. Ucap Dito.


“Ngak apa, lagian kalian juga udah ngebantu… makasih ya”. Jawab Devan yang mulai sedikit mereda.


“Sama-sama…”. Jawab mereka kompak.


“Tapi… maaf, apa perkataanmu tentang Angga, benar?”. Tanya Sarah.


“…. Ya”. Jawab Devan.


“Yang bener?!!… kapan”. Seru Dito yang syok sampai terjatuh dari pohon.


“Tadi malem… setelah pulang jenguk Dilan… aku… pergi kerumah Angga. Tiba-tiba saja Angga tak terkendali…. Dengan berpegangan pisau yang berniat mengakhiri hidupnya….”.


“Ha! Terus! … apa! Mengapa seperti ini!”. Seru Jesika syok bukan main-main. Ia tak percaya akan perkataan Devan sampai-sampai entah pertanyaan apa yang betul Ia tanyakan.


“Ia masih selamat dengan luka berat saja… aku takut kalau… Angga dan Dilan….”. Jawab Devan yang mulai terisak tangis sambil menutup wajahnya dengan lengan dan duduk merunduk.


“Dev Dev, udah-udah…. Jangan pikir yang aneh-aneh ok… pasti semua akan baik-baik saja”. Kata Bagas sambil memeluk Devan. Ia dan temannya mulai ikutan mengeluarkan air matanya mendengar keluhan Devan.


“…. Aku mau lakuin apa lagi…. Kagak ada kesempatan lagi kalau keadaan seperti ini”. Ucap kembali Devan tak kuat menahan tangis.


“Devan… pasti ada jalan keluar, aku yakin. Kita bantu doa bersama supaya Angga dan Dilan baik-baik saja…. Kami berjanji akan selau mendukung, dan berada disisi mu Devan”. Kata Mulan.


“Mulan benar…. Jadi…. Hiks…. Hiks…. Haaa… jangan menangis seperti ituuuu…. Kami ngak kuat kalo liat kamu nangiiiiisss….! Giniii!!”. Kata Jesika dengan tangisan yang histeris.


Devan pun berusaha menenangkan dirinya agar temannya tak terlalu khawatir.


“Mengapa keadaan menjadi seburuk ini,… ya Allah, mudahkanlah urusan ini”. Kata Mulan dalam hati.


“…. Maaf telah membuat kalian repot dan khawatir”. Kata Devan yang telah menghapus air matanya.


“Ngak kok… yang namanya teman, selalu saling bantu kak”. Jawab Bagas.


KRIÌIIIIING……. KRIIÌIÌIIIING……


Tak berapa lama kemudian, bel masukbpun berbunyi. Mereka semua pun memutuskan untuk masuk kelas. Sesampainya dikelas, tiap gerakan langkah diperhatikan oleh murid yang telah berada didalam, namun Devan dan temannya tak mempedulikannya.


Dua jam kemudian, bel pulang pun berbunyi, ini saatnya mereka untuk pulang.


“Nanti mau jenguk Dilan dan Angga?”. Tanya Bagas.


“Iya”.


“Kita pergi barengan ya”. Lanjut Jian.


“Boleh….”.


DREEET….. DREEET…


Belum habis pembicaraan tiba-tiba, Suara ponsel Devan pun berbunyi panggilan dari tim MB( Marchin Band).


“Halo Waàlaikum salam kak”. Kata Devan yang mengangkat panggilan.


“Dev… hari ini kita latihan, kamu bisa ikutkan”. Kata kakak pelatihnya yang bernama Anwar.


“Sekarang ya”.


“Baik kak”.


TUT…. TUT….


Panggilan pun berakhir. Terlihat raut wajah Devan semakin berubah. Ia tak dapat menjenguk dua sahabatnya itu, hatinya,… semakin…. Kesal.


“Napa? Tadi siapa?”. Tanya Raki.


“….. huh!… tim MB, kami ada latihan hari ini,…”.


“Lah…. Ngak bisa jengukin dong”. Kata Sarah.


“Biasa kalau sekarang latihan, pulangnya jam berapa?”. Tanya Mulan.


“…. Jam 4 Sore”. Jawab Devan.


“hih! Lama amat”. Ucap Jesika.


“Hehe… ngak apa, kalian duluan aja… aku pergi latihan dulu”. Kata Devan.


“Yaudahlah”.


Devan pun langsung bergegas menuju lapangan untuk berlatih. Ia pun mengambil drumnya. Ketika semua berkumpul, mereka pun dengan cepat mengatur barisan masing-masing dan mulai latihan…


“Eh…. Kita liat Devan yuk”. Ajak Jesika.


“Woke”. Jawab Bagas setuju.


Mereka pun langsung kelapangan melihat Devan. Terdengar suara alunan musik yang keras dan kompak. Temannya takjub melihat Devan yang lihay memainkannya. Tapi, terlihat juga ekspreksi Devan yang tak fokus sambil memainkan musiknya, Ia terlihat melongo memikirkan nasipnya akan sahabatnya. Sehingga, Devan salah memainkan irama akan lamunannya.


“Devan!… kamu mau berlatih apa ngak sih!”. Kata kakak pelatih yang bernama Anwar.


“Ma… maaf kak”. Kata Devan.


“Maaf maaf…. Makanya fokus dong”.


“Iya kak”. Jawab Devan, 7 temannya merasa kasian pada Devan.


“Galak amat pelatihnya… kasian Devan”. Ucap Jesika.


“Kayaknya, Devan lagi banyak pemikirannya deh”. Kata Sarah.


“Nyemangatin aja yuk”. Ajak Jian dan temannya pun setuju.


“Devaaaaaaaaaaaan…..!”. Panggil temannya yang membuat dirinya menoleh termasuk para tim MBnya dan para pelatih.


“SEMANGAT DEVAN!…. KAMU BISA…! DEVAN BISA…..!… AYO DEVAN AYO DEVAN AYO DEVAN”. Sorak sorai mereka yang membuat semangat Devan kembali. Pelatihnya hanya geleng-geleng kepala, ya meski dikenal galak dan emosional, namun Anwar memang pelatih yang baik bagi Devan.


“Itu teman mu”. Tanya Anwar.


“A…hahahah”. Jawab Devan tertawa.


“Hem…. Baiklah kita mulai….! Satu, dua…. Satu dua tiga empat”.


DRAM TAM TAM TAM DRAM TA TA TAM. Alunan yang betul pun keluar. Devan mulai menaikkan semangat dari temannya. Temannya pun ikut senang.


“Hei!… kalian jika tak berkepentingan pulang sana”. Ucap salah satu pelatih bernama Arman yang membuat Mulan dan enam temannya kaget.


“Eh… iya kak, kami pulang dulu”. Kata Bagas, mereka pun langsung pulang.


Sambil berjalan, 7 temannya ini mengacungkan jempol dan memberi senyum semangat kepada Devan. Devan yang melihat aksi kocak temannya kembali senyum semangat.


(Ayo… siapa yang punya teman seperti Devan… kepengan ngak)