The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Penghianatan



Satu jam kemudian, ulangan pun berakhir. Devan pun ditugaskan untuk mengumpulkan tiap lembar soal yang ada pada mereka. Tak sedikit dari mereka meremehkan dan menatap sinis Devan. Devan menyadari… tapi Ia terbiasa dengan hal seperti itu.


Setelah mengumpulkan semua, Devan lalu memberikannya ke pak Ridwan. Ia pun duduk dibangkunya. Karna jam istirahat 10 menit lagi, beliau pun sedikit memberikan nasehat.


“Anak-anak sekalian, bapak ingatin sekali lagi ya. Jangan pernah untuk mengganggu Angga lagi ya”.


“Aduh pak, kok bisa-bisanya bapak bela anak itu! Ngak adil banget”. Ucap salah satu murid yang bernama trio.


“Bapak bukannya mementingkan membelanya, tapi… Angga memang membutuhkan dukungan. Apalagi keadaannya makin sulit. Jika kita biarkan, bahkan mengganggu nya lagi… nanti Ia terlepas dari luar kendali. Ia ngak akan seperti itu kalau kalian tidak bertindak samau kalian. Lagi pula, Ia kini tak bersekolah, Ia sekarang putus asa dan kehilangan semangatnya… bapak harap kalian dapat datang kerumah dan menjenguknya agar kalian tahu bagaimana kondisinya”. Lanjut pak Ridwan. Murid yang lain hanya bertindak cuek seakan-akan mereka yang paling benar.


KRIIIIII…..NG….


Bel istirahat pun berdering. Pak Ridwan pun mempersilahkan muridnya beristirahat.


“Pak”. Panggil Devan, Ridwan yang hendak ingin keluar menoleh.


“Ya Devan?… ada apa”. Balas pak Ridwan.


“Terima kasih pak”. Ucap Devan yang sungguh sangat berterima kasih atas dukungan dari gurunya.


“Iya, yang penting, jangan pantang menyerah ya”. Kata pak Ridwan sambil memegang bahu muridnya dan tersenyum.


Semua murid semakin jengkel melihatnya.


“Yaudah, kalian istirahat dulu sana Assalamuàlaikum”.


“Baik pak, waàlaikum salam”. Jawab mereka kompak.


“Hei Devan!… ke kantin?”. Tanya Jesika.


“Hem… ngak lah”. Jawab Devan.


“Teros? Mau kemana?”. Tanya Jian, tak sempat Devan menjawab, awak kelas langsung mulai pengjinaan.


“Eh! Tahu ngak sih. Kasian banget si Devan”.


“Iya, dulunya bertiga… sekarang malah ditinggal… hehehe… kasian banget sih”.


“Udah tahu punya sahabat ngak berguna malah disahabatin”.


Dan… berbagai hal lainnya yang berupa hinaan. Devan seketika menggeram tangannya yang berupa kebencian darinya.


Temannya pun langsung mencegah.


"Lagian, mau aja punya sahabat kayak pembunuh gitu?! hiih!~~~ apa hebatnya coba!"


"Haha... ya gue kasian banget sama kak Robin, untung kita ngak kena mental sama mereka ya kan?! hahahaha".


“Mereka! Mereka harus diberi pelajaran!”. Kata Bagas yang bersiap untuk adu mekanik.


“Bagas biarin aja, jangan memancing pertengkaran lagi”. Cegah Mulan.


“Mulan benar, Dev, keluar aja yuk”. Kata Jesika setuju.


“Ya… kasian banget… sih. Bagaimana nih sahabat sejatinya… bakal mati ngak sih”. Kata Deta salah satu teman kelas,… ya… bukan teman sih, yang lebih patut dinyatakan musuh ya.


Karna tak dapat menahan emosi, Devan mendorong Bagas dan berjalan kearah Deta dengan langkah kasar penuh amarah. Temannya kaget melihat emosi Devan yang keluar penuh.


Devan pun tiba didepan Deta yang telah duduk santai dengan beberapa murid sekelasnya. Deta menatap Devan yang melotot kearahnya, begitu juga dengan yang lain, mereka mengetahui Devan akan melakukan apa, yang pastinya Ia tak akan tinggal diam.


Devan pun berdiri didepan meja Deta dengan tatapan tajam. Semua berpaling ngeri kearah mereka berdua, begitu pula dengan teman Devan.


“Huwah… ngapain lo hah!”. Kata Deta santai melihat Devan yang berdiri didepannya. Devan yang mendengar kalimat Deta, langsung menarik kerah baju Deta dengan kasar. Semua yang melihat mulai panik, mereka hanya berharap Devan bisa mengendalikan amarahnya


“Enak bener lo ya seenakan ngata-ngatain begituan!”. Kata Devan dengan nada tinggi.


“Apa?! Ha! Apa! Tenang. Lo pikir gue tenang beginian heh!… ”.


BRAMMM….!!…


GEDUBRAK….!!


Devan semakin emosi, Ia melempar Deta hingga terjatuh mengenai meja disampingnya. Bagas, Dito dan Raki pun segera menenangkan Devan.


“Dev udah lah, jangan ladenin mereka, biarin aja”. Kata Bagas sambil memegang tangannya. Devan terlihat begitu marah sampai-sampai nafasnya sulit diatur.


“Ingat ya! Kalo kalian memang benci sama sahabat dan teman gue!… yaudah benci aja!… jangan sampai kalian hina mereka ngerti!!!”.


“Hei!… ada apa ini!”. Seru Dika yang baru selesai dengan perkumpulan rapat OSIS dengan tiga temannya, Rido, Mauzan dan Reyan.


“Devan!… lo jangan ajak keributan ya!”. Sambung Dika yang membuat Devan semakin emosi. Devan lalu melepas pegangan tangan Bagas dan Raki dan, melipat kedua tangannya dengan senyum kesal.


“Oh… pemancing keributan ya!… kalian apa! Pemancing emosional heh!”. Ucap Devan dengan emosi membara.


“Dev cukup!….”. Tegas Dika dengan nada tinggi terputus akan adu mulut dari Devan.


“Apa!… lo nyuruh gue cukup!… heh!. Lo pikir lo apa… gue nyuruh cukup ntuk menghina temen gue malah diterusin!… bangsat macam apa coba”. Kata Devan dingin.


“Wah!… elo macam-macam ya hah!”. Seru Devan dan mengarah pukulan kearah Devan yang membuat semua berseru syok. Namun, Devan tidak mengelak, tidak membalas, Ia berdiri dengan tetap pada posenya dengan muka datar yang membuat Dika menghentikan tindakannya.


“Apa… napa berhenti!. Pukul! Ayo cepat! Pukul gue! Pukul sampe sepuas lo! CEPAT!!. Kata Devan dengan nada tinggi menyeramkan, Dika dan yang lain hanya diam.


“Devan udahlah… ”. Kata Raki, namun Devan tak peduli.


“Heh!… napa, emosikan kalo gue panggil lo bangsat!!!?… brengsek!. Begitu juga dengan gue, bahkan dua sahabat gue…. Itu yang kalian sebut, gue pemancing keributan! Iya!”. Kata Devan sambil menunjuk-nunjukkan kearah mereka.


“Kalian punya pikiran apa hah!. Dilan yang hampir sekarat! Angga yang kini mulai gila ingin menghilang dari hidupnya! Apa kalian masih belum puas hina kami hah!…. Siapa! Siapa lagi…. Gue! Yaudah nih hajar sampe gue MATI!!… ayo cepet!”. Lanjut Devan yang membuat semua syok berat akan pernyataan Dilan yang hampir sekarat dan paling buruknya Angga yang ingin menghabisi nyawanya sendiri. Sekarang kini mereka baru tahu, dan tak banyak dari mereka menganggap kalau mereka sudah terlalu berlebihan termasuk Dika.


“Heh!… sekarang kalian baru tahu hah!… napa diem! Lanjutin aja hinaan kalian! Yaudah lanjutin!!!… gue persilahkan! Jangan diem! Lanjutin brengsek!!”.


“Udah Dev, udah-udah”. Seru teman cewe, tapi Devan tetap tak peduli.


“Gue, Dilan, dan Angga, udah melewati banyak cobaan dari orang-orang seperti kalian!!… sekarang liat! Heh! Liat!!… udah hampir mati semua kalian bahkan belum puas!”. Kata Devan kasar dengan kata-kata yang keluar dari kepalanya.


“Devan istigfar Devan, istigfar… biar aja”. Kata Mulan.


“…. Sekarang, terserah kalian mau apa! Hina?! Hina aja sepuaaaas kalian sampe mereka berdua mati!, itu yang kalian mau kan?!!!… yaudah sekalian aja gue pergi dari sini dan dunia ini!… karna gue ngak bisa berbuat apa-apa lagi!… karna kalau kami belum gila akan kematian, belum berhenti kan!?!!”. Kata Devan menatap tajam dan pergi begiti saja. Teman sependukungannya pun mengikutinya dan meninggalkan kelas yang mulai lengang.


Semua yang kini berada dikelas hanya diam terpaku. Diak memang tak percaya akan perkataan Devan.


“Apa iya kalau Dilan dan Angga….”. Kata Sachika.


“Mungkin benar sih… Dilan… Gue dengar… besok hari terakhirnya”.


“Apa!…”. Seru semua murid mendengar jawaban dari Rija.


“Dari mana tahu, mereka tak pernah bilang pun”. Tanya Dika tak percaya.


“Aku tak sengaja dengar dari pembicaraan para guru kemarin”. Jawab Rija.


“Ya tapi… Angga…”.


“Hei Dika… kok serius gitu sih heh, anak dukun itu kalau gila gila saja! Apa masalahnya”. Ucap Rio tak bersalah.


“Tapi… mikir ngak kalau tindakan kita dah berlebihan kali ngak sih”. Sambung Dika.


“Halah… denger tu yang dikatakan Rio… kan bener, kalau anak batin itu mati atau gila kan ngak apa, asal ngak ada gangguan gaib lah ya”. Balas Deta santai. Namun, tak banyak dari mereka yang menyetujui tiap perkataan Dika itu benar.


Dika hanya berdiri menyesali pwrbuatannya selama ini.