Rania

Rania
99.Cinta Pertama dan Terakhir



''Kamu kemana saja sayang?'' tanya Radit pura-pura tidak tahu kalau mereka melihat Rania dan Sisi tadi.


''Hanya putar-putar di mall saja dengan Sisi'' jawab Rania.


''Kamu tidak belanja. Biasanya anak gadis kalau sudah ke mall pasti akan banyak yang dibelinya'' ucap Diva ketika melihat Rania tidak bawa apa-apa.


''Tidak tante, tadi hanya menemanin Sisi belanja aja'' jawab Rania.


''Kenapa tidak?'' tanya Radit heran.


''Tidak ada yang aku butuhkan kak. Semua sudah dibelikan ayah dan mama. Itu aja belum terpakai semua. Kalau beli lagi takutnya mubazir. Lagian cari uang susah'' jawab Rania santai. Dia lupa kalau orang tuanya dan calon suaminya orang kaya. Surya hanya geleng kepala memdengar jawaban Rania.


''Ntar kalau kamu sudah menikah dengan Radit. Kamu boleh memakai uang Radit sepuasmu. Itu gunanya dia kerja'' kata Diva.


''Iya sayang'' ucap Radit.


''Hehe'' Rania tersenyum.Dia bingung harus jawab apa. Mungkin karna selama ini dia terbiasa hidup dengan pas-pasan.


''Gimana kabar Hendra, Ran?'' tanya Surya.


''Om Hendra sudah pulang kerumahnya kemaren om'' jawab Rania.


''Apa masalahnya sudah selesai?'' tanya Radit.


''Sepertinya udah kak. Tapi aku juga ngak yakin'' jawab Rania.


''Rencana tante dan om mau kerumah kamu minggu depan'' ucap Diva.


''Boleh tante, ntar biar Rania katakan sama ayah'' jawab Rania.


''Kamu tidak tanya kami mau ngapain kerumahmu'' ucap Diva lagi.


''Apa boleh aku tanya seperti itu?'' Rania ragu.


''Boleh sayang, Tante dan om mau bicarakan kelanjutan perjodohan kalian. Radit sepertinya sudah tidak sabar mau menikahimu. Tiap hari menanyakan kapan kami menemui orang tuamu. Sekarang dia semangat membahas perjodohan dulu selalu menolak kalau kami membicarakanya'' jelas Diva.


''Dulu bukan Rania ma, Jelas aku nolak. Kalau sama Rania langsung nikah sekarang aku mau'' jawab Radit


Rania hanya tersenyum malu.


''Yaudah ntar Rania katakan sama ayah'' jawab Rania.


Mereka sampai dirumah Radit. Karna rumah Radit dilewati lebih dulu. Surya dan Diva langsung turun begitu mobil berhenti.


''Kamu gak mampir dulu Ran?'' tanya Diva.


''Gak usah tante, kapan-kapan saja'' tolak Rania sambil tersenyum.


''Ya udah, kamu antar selamat sampai tujuan ya Dit, jangan sampai calon menantu mama lecet sedikitpun'' wanti Diva.


''Iya mama sayang, aku berencana mau ajak dia kencan dulu'' jawab Radit santai.


''Yang penting jangan antar Rania terlalu malam. Ntar ayahnya marah loh'' ucap Diva.


Kemudian Diva dan Surya langsung masuk kedalam rumah. Radit segera menyetir mobil meninggalkan rumahnya.


''Kita tidak pulang kak?'' tanya Rania.


''Tapi aku belum beritahu ayah. Dia hanya tahu kalau aku pergi sama Sisi'' jawab Rania.


''Kamu telepon saja ayahmu sekarang. Aku yakin ayahmu tidak keberatan'' jawab Radit.


Rania kemudian menelpon ayah memberitahu kalau dia makan malam diluar sama Radit. Ayahnya memberi izin asal jangan pulang terlalu malam.


''Tapi aku juga belum ganti baju'' ucap Rania.


''Emang selama ini aku pernah protes dengan apa yang kamu pakai? Bagiku sekarang kamu terlihat cantik kok'' jawab Radit.


''Is, kak Radit gombal'' cubit Rania usil.


'' Aww, sakit sayang. Kamu jangan mancing-mancing aku loh'' kata Radit memberhentikan mobilnya. Kemudian dia menatap Rania.


''Hehe, maaf kak'' ucap Rania menjauhkan tangannya. Tapi Radit masih menatap Rania. Membuatnya jadi malu.


Cup. Radit mencium pipi Rania karna gemas melihat tingkah Rania ketika malu.


''Ih kak Radit'' protes Rania sambil memegang pipinya.


'' Kalau kamu bertingkah lagi akan lebih dari itu'' goda Radit. Dia tersenyum melihat pipi Rania merona merah


Kemudian dia kembali menyetir mobil menuju sebuah cafe. Cafe tampak sangat ramai karna sekarang malam minggu. Cafenya khusus untuk pasangan. Sehingga suasana didalamnya terkesan romantis.


Rania yang tidak terbiasa pergi ketempat seperti itu sangat risih. Karna ini pertama kalinya dia pergi kencan. Tapi Radit segera menarik tangannya untuk masuk kedalam cafe. Mereka duduk di meja yang terdapat didekat jendela.


Pelayan datang membawa menu. Setelah memesan beberapa makanan dan minuman pelayan meninggalkan mereka untuk mengambil pesanan mereka.


Radit memegan tangan Rania. Dia menatap Rania sambil tersenyum.


''Kenapa kak Radit melihatku seperti itu?''tanya Rania malu ditatap Radit.


''Aku sudah ngak sabar kita menikah'' jawab Radit.


''Apa kak Radit benar-benar mencintaiku?'' tanya Rania.


''Kenapa kamu bertanya seperti itu?'' tanya Radit.


''Aku hanya tidak mau apa yang menimpa ayah dan bunda terjadi pada kita juga. Mereka saling mencintai tapi karna tidak percaya satu sama lain dan kurangnya komunikasi membuat mereka berpisah. Jujur selama ini aku sangat tidak percaya yang namanya cinta ketika melihat penderitaan bunda. Tapi setelah bertemu kak Radit aku mau mencoba membuka hati untuk mencintai kak Radit. Tapi aku masih takut'' jelas Rania serius. Radit mempererat pegangan tangannya.


''Makasih kamu sudah mau mencintaiku. Aku juga tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan orang yang kita cintai. Tapi aku janji kalau kita ada masalah atau apapun yang orang katakan tentangmu. Aku akan bertanya dulu kepadamu untuk memastikanya. Sehingga tidak ada salah paham diantara kita. Walaupun aku sedikit cemburuan tapi aku akan mencoba menahan semuanya'' jawab Radit lembut.


''Aku senang kak Radit mengerti apa yang aku rasakan. Trus bagaimana dengan mantan kak Radit yang masih ingin balikan. Secara dulu kak Radit bercerita sangat susah melupakannya'' tanya Rania.


''Sejak kamu mengisi hati ini. Tidak ada tempat untuknya lagi dihati ini. Dia hanya masa lalu yang penuh denga luka. Dan kamu datang untuk mengobatinya. Aku pastikan dia tidak akan menganggu kita lagi. Tidak ada celah untuknya merusak hubungan kita'' jawab Radit.


''Iya aku percaya. Lagian aku juga tidak mau merelakan kak Radit untuknya. Apa yang manjadi milikku tidak boleh dirampas orang lain'' jawab Rania tersenyum.


''Kalau dia masih nekat merebutnya?'' tanya Radit.


''Jangan salahkan aku bertindak kasar. Tapi kalau kak Radit yang ingin kembali. Berarti ini pertama dan terakhirnya aku mencintai seseorang dalam hidupku'' jawab Rania.


Radit tersenyum mendengar Rania. Walaupun selama ini Rania malu-malu mengatakan dia mencintai Radit. Tapi Rania juga tidak mudah melepaskan orang yang dia cintai. Untuk pertama kalinya Rania mencintai seaeorang selain keluarganya. Sekarang bagi Rania, Radit adalah cinta pertama dan terakhirnya.