
Pagi ini semua orang sudah berkumpul dimeja makan untuk sarapan. Hanya Rania yang belum datang. Tidak lama kemudian Rania keluar dengan kursi Rodanya. Karna dia belum bisa terlalu lama berjalan tanpa bantuan kursi roda. Angga menolong mendorong sampai ke meja makan.
''Pagi'' sapa Rania.
''Pagi sayang, kamu duduk disebelah sini saja'' kata Nella yang duduk disebelah Gunawan.
''Aku duduk disamping paman aja tante'' jawab Rania. Kemudian Rendra membantu Rania duduk dikursi dekatnya.
Mereka mulai sarapan. Nella dengan telaten mengambilkan nasi goreng untuk Wiratmaja dan Gunawan. Sedangkan Susi juga mengambilkan nasi goreng untuk Rendra.
''Biar tante ambilkan nasinya untukmu'' kata Nella sama Rania.
''Gak usah tan, Aku bisa ngambil sendiri kok'' jawab Rania sambil tersenyum. Dia tidak terbiasa dilayani seperti itu. Selama ini dia sudah terbiasa hidup mandiri.
''Apa tidurmu nyenyak Ran?'' tanya Gunawan.
''Iya pak'' jawab Rania. Semua orang terdiam ketika Rania masih memanggil Gunawan dengan panggilan pak. Tapi Gunawan tidak peduli dengan semua itu. Yang terpenting sekarang dia bisa melihat Rania tiap hari.
''Apa kamu langsung kekantor?'' tanya Wiratmaja
''Iya pa, Candra sudah pasti tidak kekantor hari ini'' jawab Gunawan.
''Trus kapan kita melihat Cynthia kerumah sakit?'' tanya Wiratmaja.
''Bgaimana kalau papa pergi sama Rendra saja'' jawab Gunawan.
''Sebenarnya saya hari ini mau kembali ke Bandung tuan. Tadi malam saya dapat kabar kalau sudah saatnya padi saya panen'' jawab Rendra.
''Oo. Jadi kamu berangkat jam berapa?'' tanya Gunawan.
''Mungkin pagi ini. Setelah sarapan kami langsung keterminal'' jawab Rendra.
''Apa tidak bisa diundur paman?'' tanya Rania sedih harus berpisah dengan paman dan bibinya.
''Tidak nak, kalau diundur terus bisa-bisa kita gagal panen'' jawab Rendra.
''Kamu masih disini kan dek?'' tanya Rania
''Aku ikut ayah pulang kak. Hari senin aku mau sidang'' jawab Angga
''Yah'' Rania menghela nafas.
''Kami akan sering mengunjungi kamu kesini'' hibur Susi.
''Lagian disini masih ada kakek, ayah dan tante. Kamu jangan sedih Ran'' kata Nella.
''Kalian pulang pakai mobil aja. Digarasi masih ada mobil Gunawan yang tidak dipakainya'' ucap Wiratmaja.
''Tapi tuan, kami pakai bus aja'' tolak Rendra. Dia tidak mau merepotkan orang.
''Aku tidak mau mendengar penolakanmu. Dan satu lagi ganti panggilanmu terhadapku. Panggil aku seperti Gunawan memanggilku'' kata Wiratmaja tegas
''Iya Ren, kalau kamu bawa mobil ke Bandung. Pas kamu mau kesini jadi lebih gampang. Tidak repot naik bus lagi'' kata Gunawan.
Rendra hanya terdiam. Dia masih ragu untuk menerimanya. Apalagi sudah lama dia tidak menyetir. Dia melihat kearah Rania dan Susi.
''Kamu ngak usah ragu. kalau badanku sehat dan semua masalah disini selesai. Aku mau tinggal denganmu di Bandung. Aku ingin hidup sebagai petani'' kata Wiratmaja.
''Iya tuan'' kata Rendra.
''Papa'' jawab Wiratmaja.
''Hehe, iya pa'' kata Rendra. Semua orang tersenyum.
''Oh ya Angga, kalau semua urusan kamu sudah selesai. Lebih baik kamu kesini. Sambil menunggu wisuda kamu belajar di perusahaan bersama om'' ucap Gunawan.
Angga melihat ke Rania. Seolah meminta persetujuanya.
''Kamu gak usah lihat sama Rania. Karna setelah Rania pulih dia akan bekerja dikantor juga. Saat itu kamu boleh memilih untuk ikut dia'' jelas Gunawan.
''Saya belum kepikiran untuk bekerja dikantor'' jawab Rania.
''Apa kamu akan tetap jadi sopirnya Radit?'' tanya Wiratmaja.
''Belum tahu kek'' jawab Rania. Dia masih belum memikirkan mau apa kedepannya. Apalagi sekarang ayahnya masih sehat. Masih bisa memimpin perusahaan.
''Biar dia dirumah saja bersama saya. Jadi saya ada teman ngobrol'' kata Nella.
Setelah selasai sarapan. Gunawan pamit mau kekantor. Sebelumnya dia menyuruh Nella memberikan kunci dan surat-surat untuk mobil yang akan dibawa Rendra.
Rania kembali kekamarnya. Dia duduk ditepi tempat tidurnya. Dari malam dia belum membuka ponselnya. Ternyata semalam Radit menelpon. Karna sudah tidur dia tidak mendengar ponselnya berbunyi.
Rania ingin menelpon Radit. Tapi dia berpikir kalau pagi ini pasti Radit sibuk.
''Apa aku kirim pesan aja ya'' gumam Rania. Kemudian dia mengetik pesan untuk Radit.
''Pagi kak'' tulis Rania. Pesannya langsung terkirim. Tapi belum di baca Radit. Rania juga mengirim pesan sama Sisi. Tapi tidak dibaca juga.
''Hmm, semua orang sibuk'' kata Rania sambil memperhatikan ponselnya.
''Ran'' panggil Rendra dipintu kamar.
''Iya paman, masuk'' kata Rania
''Paman mau berangkat'' kata Rendra.
''Sekarang?'' tanya Rania.
''Iya. Kamu baik-baik disini. Kalau ada apa-apa telepon paman'' kata Rendra. Dia merasa sedih meninggalkan Rania.
''Iya paman'' jawab Rania sambil memeluk pamannya.
''Kamu mau antar paman kedepan?'' tanya Rendra
''Iya'' jawab Rania lansung berdiri.
''Sebaiknya kamu pakai kursi roda saja'' kata Rendra. Rania mengangguk.
Kemudian Rendra mendorong kursi roda Rania kedepan. Semua orang sudah menunggu di depan pintu keluar. Angga sudah mengeluarkan mobil yang akan mereka pakai. Karna Rendra belum memiliki sim untuk membawa mobil. Maka Angga yang akan menyetir sampai Bandung.
''Saya pulang dulu pa'' kata Rendra.
''Iya, kamu harus sering mengunjungi kami disini'' jawab Wiratmaja.
''Iya pa'' jawab Rendra. Kemudian dia berpamitan sama Nella dan Rania. Dikuti Susi dan Angga.
Setelah Rendra dan keluarganya pergi. Rania dan yang lain masuk kedalam rumah. Nella membantu mendorong kursi roda Rania.
''Kamu mau kekamar atau disini Ran?'' tanya Nella.
''Aku bosan dikamar terus tante'' jawab Rania.
''Bagaimana kalau kita duduk ditaman belakang. Kakek mau lihatkan sama kamu taman kakek'' ajak Wiratmaja.
''Boleh juga kek'' jawab Rania senang.
''Tapi tidak boleh lama-lama. Kamu masih perlu banyak istirahat. Biar cepat sehat'' kata Nella.
''Iya tante'' kata Rania tersenyum.
Mereka berjalan menuju taman dibelakang rumah. Ternyata disana terdapat berbagai macam tanaman dan bunga. Rania jadi ingat dengan bundanya yang suka menanam bunga. Nella kembali kedalam rumah untuk mengambil minuman dan beberapa cemilan untuk Rania dan Wiratmaja.
'' Cantiknya'' ucap Rania.
''Kamu suka?'' tanya Wiratmaja sambil duduk di bangku yang terdapat disana.
''Iya, suka kek'' jawab Rania pindah duduk dari kursi rodanya kesamping Wiratmaja.
''Setelah kakek dirumah saja. Kakek menggabiskan waktu disini. Dulu kakek bercita-cita kalau sudah tua ingin hidup seperti pamanmu. Semoga saja terkabul'' kata Wiratmaja.
''Aamiin.''
Wiratmaja menatap Rania. Ada kesedihan diwajahnya ketika melihat Rania. Mungkin karna ada perasan bersalah yang terjadi kepada Retno dan Rania.
''Maaf'' kata Wiratmaja pelan.
'' Untuk apa kek?'' tanya Rania heran
''Untuk semuanya. Kakek juga termasuk dalam membuat kalian menderita'' kata Wiratmaja. Rania menatap wajah tua kakeknya. Dia sudah memutuskan untuk tidak membicarakan masa lalu lagi.
''Semua sudah berlalu. Sekarang aku juga mencoba menerima semua dengan ikhlas'' jawab Rania. Wiratmaja menghela nafas lega mendengar jawab Rania.