Rania

Rania
117. Cemburu



Pagi ini Rania dan Radit akan kembali ke Jakarta. Walaupun Radit masih enggan untuk balik ke Jakarta. Tapi mengingat banyaknya pekerjaan yang ditinggalkan ditambah keluhan Rendi yang tiada henti membuatnya memutuskan kembali. Rania sibuk memasukan pakaian mereka kedalam koper.


''Sayang'' ucap Radit sambil memeluk Rania dari belakang.


''Ya mas'' jawab Rania masih sibuk.


''Kita jadikan saja seminggu tinggal disini bagaimana?'' tanya Radit manja.


''Hmm, kasihan Rendi mas. Kita sudah tiga hari disini katanya banyak pekerjaan yang menumpuk. Kalau seminggu kita disini bisa ubanan dia mikirin pekerjaan. Apalagi Kak Davin bulan depan juga mau nikah sama Sisi. Pasti dia sudah mulai sibuk mempersiapkan acaranya'' jawab Rania.


''Tapi aku masih pengen berduaan sama kamu. Kalau sudah di Jakarta pasti kita akan sibuk dengan kerja masing-masing'' ucap Radit.


''Kita kerjanya siang, malam masih bisa bertemu. Udah dong mas jangan manja. Biasanya mas tiap hari kerja bahkan tanpa henti dan tidak ada aku juga'' jawab Rania.


''Tapi sekarang beda. Mas tidak ingin jauh-jauh darimu'' goda Radit.


''Gombal, sekarang bicara seperti itu. Nanti kalau sudah bosan ditinggalkan'' jawab Rania.


''Siapa bilang mas mau meninggalkanmu?'' tanya Radit agak kesal.


''Cup,cup,cup. Jangan marah aku cuma bercanda'' jawab Rania membalikan badannya sambil memegang pipi Radit.


''Mas kalau ngambek kayak anak kecil, lucu'' ucapnya lagi sambil tersenyum.


''Kalau lucu sayang dong'' ucap Radit sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rania.


Tok,tok,tok


''Tunggu mas sepertinya ada tamu'' ucap Rania melepaskan pelukannya dari Radit. Dia pergi membukakan pintu. Radit merasa kesal karna niatnya batal gara-gara digangu orang.


''Siapa sih yang datang'' umpat Radit sambil duduk diatas tempat tidur.


Ceklek,


Seorang pemuda sedang berdiri didepan pintu Rania. Dia seumuran dengan Radit.Dia terkejut melihat Rania ketika membuka pintu. Untuk sesaat dia tertegun.


''Kang Asep'' sapa Rania


''M-maaf menganggu Ran'' ucap Asep gagap kembali sadar.


''Ada perlu apa ya? Mau masuk dulu'' Tanya Rania ramah.


'' Tidak usah disini saja. Tadi abah menyuruh mengantarkan uang penjualan hasil panen kemaren. Kata Abah kalau uangnya lama dipegang takutnya terpakai. Abah juga sudah memberi tahu pak Rendra dan dia bilang suruh titip sama kamu'' jelas Asep sambil menyerahkan amplop berisi uang sama Rania.


''Oo gitu. Tolong sampaikan terima kasih kami sama mang Diman'' jawab Rania.


''Iya, ngomong-ngomong sudah lama tidak bertemu. Apa kamu masih kerja di Jakarta?'' tanyanya.


''Masih, hari ini mau balik ke Jakarta. Kang Asep kapan pulang?'' tanya Rania.


''Aku baru dua hari dirumah. Kebetulan dapat cuti dari kantor seminggu. Jadi aku pulang kampung'' jawab Asep.


''Oo, masih kerja di kota?'' tanya Rania.


''Iya, kamu sejak tidak pakai kaca mata tambah cantik saja'' puji Asep. Belum sempat Rania jawab.


''ekhm'' Radit nonggol mendengar Asep memuji istrinya. Dia tidak suka mendengarkannya.


'' Sayang kenapa lama sekali?'' tanya Radit lembut sambil memeluk pinggang Rania. Dia menatap tajam sama Asep. Orang yang ditatap terkejut melihat Radit keluar dari dalam rumah dan memeluk Rania.


''Ooh ini mas, ada Kang Asep anaknya mang Diman. Dia mengantarkan uang hasil panen. Kang Asep perkenalkan ini suami saya'' ucap Rania santai.


''Lain kali jangan suka memuji istri orang'' ucap Radit ketus.


''Udah selesai urusannya sayang?'' tanya Radit lembut sama Rania dengan mengertakan giginya.


''Sudah mas, oh ya kang Asep kami kedalam dulu. Mau siap-siap untuk berangkat ke Jakarta. Sekali lagi makasih ya'' ucap Rania sembari mengikuti Radit yang menarik tangannya kedalam dan menutup pintu. Asep yang masih berdiri bengong didepan pintu melihat Rania dan Radit masuk kedalam rumah. Dia kemudian meninggalkan rumah Rania dengan bingung apa yang terjadi.


Sesampai dikamar Radit melepaskan gengam tanganya dari Rania.


''Mas kenapa?'' tanya Rania heran melihat kelakuan aneh Radit.


''Kamu senang ya dipuji-puji laki-laki seperti tadi?'' tanya Radit sewot.


''Aah.'' Rania mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung dengan maksud Radit.


''Huft'' Radit menghela nafas. Dia tahu Rania tidak akan peka masalah seperti ini.


''Lain kali kalau kamu ketemu laki-laki harus pakai kaca mata. Biar mata laki-laki tidak pada jelatan melihatmu'' ucap Radit. Mungkin karna dia pernah diselingkuhi mantan pacarnya dulu. Membuatnya agak over protektif sama pasangannya. Dia sangat takut kehilangan Rania.


''Hehehe'' Rania tertawa mendengar ucapan Radit.


''Kok ketawa?'' tanya Radit heran.


''Jadi mas cemburu ya?'' goda Rania masih tersenyum.


''Hmm'' Radit tidak menjawab.


''Cemburu ya?'' Rania makin mengoda Radit.


''Iya mas cemburu puas kamu'' jawab Radit sedikit sebal.


''Hehehe, ternyata mas Radit bisa cemburu juga'' ucap Rania senang. Radit yang melihat Rania masih tertawa. Kemudian mengelitiknya. Rania yang tidak tahan geli mulai mengeliat menghindari Radit. Tapi kakinya tersandung dan membuat mereka kehilangan keseimbangan dan terjatuh diatas tempat tidur. Dengan posisi Rania dibawa Radit.


''Ampun mas, aku gak kuat nahan geli'' ucap Rania.


''Ini hukuman untukmu'' ucap Radit. Kemudian di mulai mengecup b***r Rania. Awalnya Rania mau mengomel. Tapi karna b***nya di c**um Radit.


Akhirnya Rania pasrah dengan apa yang dilakukan Radit. Bahkan dia menikmatinya. Rencana mau berangkat ke Jakarta jadi tertunda karna aksi panas mereka. Radit merasa puas setelah mencapai puncaknya. Mereka kelelahan dan tertidur dengan senyum menghiasi bibir Radit.


Menjelang siang Rania bangun. Dilihatnya Radit masih tertidur pulas. Rania turun dari dari tempat tidur dan pergi kekamar mandi.


''Gara-gara mas Radit aku jadi harus mandi lagi'' ucap Rania. Tapi dia tersenyum sendiri mengingat kelakuan suaminya.


Selesai mandi dia kemudian membangunkan Radit dan menyuruhnya mandi. Dengan malas Radit pergi kekamar mandi. Seperti biasa Radit mandi dengan lama.


''Apa mas lapar?'' tanya Rania ketika Radit sudah selesai berpakaian.


''Belum, kamu lapar?'' tanya Radit.


''Sedikit, tapi kita makannya dijalan saja'' jawab Rania membereskan pakaian kotor. Rencananya mau dicuci di Jakarta saja.


''Gak apa-apa kalau laparmu ditahan?'' tanya Radit.


''Gak apa-apa. Aku masih kuat kok. Ayo kita berangkat sekarang'' ajak Rania


''Iya sayang'' jawab Radit lembut.


Radit mengangkat koper dan barang lainnya keatas mobil. Rania keluar dan mengunci pintu rumah. Lama Rania memandangi rumahnya. Selain kenangan masa kecil dirumah ini. Kenangannya bersama Radit juga terukir disini.


Radit memeluk pinggang Rania mengajak untuk masuk kedalam mobil. Mereka kemudian meninggalkan rumah Rania menuju Jakarta.