Rania

Rania
84.Kelumpuhan Cynthia



Radit kembali keruangannya setelah selesai meeting. Hari ini pekerjaannya sangat banyak. Apalagi sudah lebih seminggu dia tidak fokus bekerja. Disela bekerja Radit membuka ponselnya. Ternyata ada pesan masuk. Ketika dibukanya pesan dari Rania. Hatinya sangat senang. Dia sangat merindukannya. Walaupun baru kemarin mereka bertemu tapi Radit merasa ingin bertemu Rania lagi.


Kemudian Radit menelpon Rania.


Tut,tut,tut,


''Hallo kak'' jawab Rania


''Iya sayang, kamu lagi apa?''


''Sedang berbaring dikamar. Baru selesai nemanin kakek ditamannya. Trus disuruh tante Nella istirahat. Katanya tidak boleh terlalu lama diluar karna aku masih belum sehat. Masih perlu banyak istirahat. Aku jadi bosan tidur terus. Dirumah sakit tidur disini juga tidur. Kapan bisa pergi keluar?'' jelas Rania.


''Hehe. Betul kata tante Nella kamu harus banyak istirahat. Ntar kalau sudah sehat kita akan keluar untuk jalan-jalan'' ucap Radit


''Iya kak, apa kak Radit tidak sibuk?'' tanya Rania.


'' Sibuk, tapi kalau untuk menelponmu masih bisa. Dari semalam aku ingin sekali mendengar suaramu. Oh ya Mungkin dalam minggu ini kita tidak bisa bertemu''


''Ooo''


'' Kok cuma bilang Oo?''


''Trus aku harus bagaimana?'' tanya Rania


''Apa kamu tidak kangen aku?'' tanya Radit.


''Tidak''


''Ya udah, aku tutup'' kata Radit sewot.


''Hehe, jangan ngabek dong kak. Iya aku kangen kakak. Kenapa kita tidak bisa bertemu?'' tanya Rania.


''Hehe, aku mau ke luar kota menggantikan papa untuk melihat proyek. Karna dia lagi kurang sehat'' jawab Radit.


''Trus siapa yang dikantor sini?'' tanya Rania.


''Ada Rendi dan Davin'' jawab Radit.


''Kapan kakak berangkat?''


''Ntar sore''


''Ya udah hati-hati dijalan''


'' Tapi kamu tidak apa-apa kalau kita tidak bertemu seminggu?'' tanya Radit.


''Kita masih bisa video call dan teleponan. Lagian aku juga tidak bisa kemana-mana'' jawab Rania.


'' Ya udah, kamu istirahat lagi. Aku mau menyelesaikan pekerjaan dulu''


''Iya, yang semangat kerjanya kak''


Panggilan dimatikan.


......................


Sudah dua hari Cynthia terbaring. Dia belum juga siuman. Nita dan Hendra menjaga Cynthia disiang hari sementara Candra dimalam hari. Paginya di pulang kerumah dan pergi kekantor sebentar.


Hendra dan Nita lagi duduk disofa manjaga Cynthia.


''Apa yang harus kita katakan sama Cynthia ketika dia siuman. Apalagi kalau dia benar-benar lumpuh?'' tanya Nita sedih.


''Entahlah'' jawab Hendra. Dia juga binggung. Nita melihat Cynthia mulai siuman


''Tangan Cynthia bergerak mas'' kata Nita sambil mendekat ke tempat tidur Cynthia dikuti Hendra.


''Sayang'' panggil Nita. Ketika mata Cynthia mulai terbuka.


'' Hhm, aku dimana?'' tanya Cynthia lemah.


''Kamu dirumah sakit. Sudah dua hari kamu koma'' jawab Nita.


''Apa yang terjadi denganku ma?'' tanya Cynthia.


''Kamu mengalami kecelakaan'' jawab Hendra.


''Kecelakaan?'' tanya Cynthia sambil mengingat kejadian malam itu. Ketika dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi dan hilang kendali karna perutnya terasa kram dan menabrak pohon dipinggir jalan. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


''Kamu ingat apa yang terjadi sayang?'' tanya Nita lembut.


''Iya ma, tiba-tiba perutku kram sehingga hilang kendali'' jawab Cynthia.


''Apa maksud papa?'' tanya Cynthia terkejut.


''Perut kamu kram karna kamu hamil dan kecelakaan mengakibatkan kamu keguguran'' jelas Hendra.


''Tidak mungkin aku hamil'' teriak Cynthia tanpa sengaja mencoba mengerakan kakinya.


''Tapi itu kenyataanya'' jawab Hendra


''Kenapa aku tidak bisa merasakan apa-apa pada kakiku ma?'' tanya Cynthia heran


Nita tidak bisa menjawab. Dia langsung menangis melihat ekpresi Cynthia bertanya tentang kakinya.


''Kenapa mama menangis? Ada apa dengan kakiku?'' tanya Cynthia cemas.


'' Kata Dokter kakimu kemungkinan mengalami kelumpuhan'' jawab Hendra ragu. Bagaimanapun dia tidak tega melihat putrinya seperti itu.


''Aakhhh, tidak mungkin, tidak mungkin aku lumpuh. Papa bohong kan ma? kalian semua bohong kan?'' teriak Cynthia histeris. Dia mencoba memukul kakinya dengan tangan. Walaupun tenaganya tidak ada.


Nita yang melihat Cynthia seperti orang gila langsung menahannya. Cynthia terus berteriak-teriak sambil menangis.


''Cepat panggil dokter mas'' kata Nita cemas.


Hendra kemudian memencet bel yang ada di samping tempat tidur Cynthia.


Tidak lama dokter datang. Cynthia masih tidak terima dengan kelumpuhannya. Dia masih terus menangis histeris sambil memukul kakinya. Dokter yang melihatnya langsung menyuruh perawat menyuntikkan obat penenang untuk Cynthia. Sesaat kemudian Cynthia mulai tenang dan tertidur.


''Bagaimana ini dok, Kaki anak saya tidak bisa digerakan'' ucap Nita melihat ke Cynthia yang sudah tertidur.


''Ibu sabar dulu. Biar kami cek kondisinya'' jawab Dokter.


''Apa kelumpuhannya bisa disembuhkan dok?'' tanya Hendra.


''Saya juga belum bisa memastikanya pak. Kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut'' jelas Dokter.


''Kapan bisa dilakukan Dok?'' tanya Hendra.


''Secepatnya. Kami akan menyiapkan peralatannya dulu. Kalau begitu saya permisi dulu'' kata Dokter.


Setelah dokter pergi Nita terduduk lemas di sofa.


''Bagaimana ini mas, apa yang akan terjadi sama anak kita'' kata Nita sambil menangis menatap Cynthia ditempat tidurnya.


''Aku takut dia akan ngamuk-ngamuk lagi kalau sudah bangun'' kata Nita lagi


Hendra hanya diam. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia juga sedih melihat nasib anaknya.


''Semua gara-gara perempuan itu'' ucap Nita marah.


''Kalau sampai Cynthia tidak bisa jalan . Dia juga harus menanggungnya'' katanya .


''Cukup, kamu tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa Cynthia'' bentak Hendra.


Nita terdiam, dia tidak menjawab perkataan Hendra. Kemudian Hendra mengabari Candra dan Gunawan kalau Cynthia sudah siuman. Candra segera kerumah sakit mendengar kabar tersebut.


Cynthia di bawa keruang pemerikasaan. Untuk memastikan kelumpuhannya. Setelah selesai dia bawa kembali keruang rawat. Cynthia masih tertidur karna pengaruh dari obat penenang.


''Apa kata Cynthia ketika siuman tadi pa?'' tanya Candra.


''Dia sangat syok ketika tahu kakinya lumpuh. Bahkan dia sampai mengamuk. Untung dokter segera memberikan obat penenang'' jelas Hendra.


''Huft, dia pasti tidak akan bisa menerimannya'' jawab Candra.


''Ya, gimana lagi. Mau tidak mau dia harus menerimanya dengan ikhlas'' ucap Hendra mencoba menguatkan hatinya juga.


''Semoga aja pa'' jawab Candra.


''Katanya kakekmu dan Nella mau kesini'' ucap Hendra.


''Ya udah, kita tunggu saja'' jawab Candra.


Beberapa saat kemudian Wiratmaja dan Nella sampai disana. Mereka langsung menuju ruang rawat Cynthia. Setelah melihat dan menanyakan kondisi Cynthia. Mereka kembali pulang. Karna Rania dirumah hanya berdua pembantu saja. Nella cemas meninggalkan Rania terlalu lama.


Ketika Hendra, Nita dan Candra sedang menjaga Cynthia. Perawat mengabari kalau hasil pemerikasaan Cynthia sudah keluar. Hendra diminta untuk menemui dokter.


Hendra pergi ke ruang dokter sendirian. Nita dan Candra menjaga Cynthia. Setelah sampai disana dokter menjelaskan hasil pemerikasaan Cynthia. Dokter memberikan amplop yang berisi kertas pemeriksaan Cynthia.


Ketika Hendra melihat kertas tersebut. Raut wajah Hendra berubah seketika...