Rania

Rania
111. Malam Pertama



Radit sampai dikamar. Selama berbicara dengan teman-temannya. Pikirannya tertuju pada Rania. Sebelum dia pamit istirahat duluan Radit melihat wajah Rania agak pucat seperti menahan sakit.


Sampai dikamar hotel Radit tidak melihat Rania. Kemudian dia menuju kamar mandi. Radit mengetuknya.


''Sayang, Apa kamu didalam?'' panggil Radit.


''Iya, bisa aku minta tolong?'' jawab Rania dari dalam kamar mandi.


''Coba buka dulu pintunya'' ucap Radit.


''Aku lagi tidak pakai baju malu'' jawab Rania.


''Apa yang kamu malukan. Aku ini kan suamimu. Bentar lagi aku juga akan lihat semuanya'' goda Radit.


''Ih mas, mau bantu aku tidak'' ucap Rania.


''Hehe iya. Kamu mau apa?'' tanya Radit.


''Tolong ambilkan pembalutku di dalam koper'' ucap Rania.


''Apaaa?'' tanya Radit tidak ngerti.


''Pembalut mas masak tidak tahu'' teriak Rania lagi.


''Seperti handuk atau kain yang panjang ya?'' tanya Radit


''Aduh, pembalut itu untuk menahan darah haidku. Ada di dalam koper tulisannya s****k'' jelas Rania.


''Kamu sedang haid?'' tanya Radit tidak semangat.


''Iya, cepatan dong. Ini darahnya udah mulai keluar'' jawab Rania.


''Ya batal deh'' ucap Radit.


''Apa mas? aku tidak dengar'' tanya Rania.


''Iya, ini mas mau ambilin'' jawab Radit sambil berjalan menuju koper mereka diletakan. Setelah mencari apa yang di minta Rania. Radit kembali ke kamar mandi.


''Sayang ini sudah aku bawakan'' panggil Radit.


Ceklek pintu kamar mandi terbuka sedikit.


''Makasih mas'' kata Rania sambil mengeluarkan kepalanya sedikit. kemudian dia kembali menutup pintu kamar mandi. Radit masih berdiri mematung didepan kamar mandi. Semangatnya yang tadi membara sekarang hilang.


''Loh, kok masih disini mas? mau mandi?'' tanya Rania yang melihat Radit masih berdiri di depan kamar mandi.


''Hmmm'' tak ada jawaban Radit. Rania kemudian berjalan kearah tempat tidur. Tiba-tiba Radit memeluknya dari belakang. Rania berhenti berjalan.


''Kenapa harus sekarang datangnya?'' tanya Radit sambil meletakan kepalanya dipundak Rania.


''Maksud mas apa?'' tanya Rania tidak mengerti.


''Palang merahmu kenapa harus datang hari ini'' jelas Radit tidak semangat.


''Hehe, kirain apa. Aku juga tidak bisa mencegahnya mas. Kalau sudah waktunya datang ya dia datang'' jawab Rania sambil memegang pipi Radit dengan sebelah tangannya. Sebagai pengantin baru Rania tahu kalau Radit pasti kecewa. Tapi tidak dipungkiri Rania juga takut membayangkan apa yang terjadi malam ini. Ada sedikit rasa bersyukur tamu bulanannya datang.


''Lebih baik mas ganti baju dulu'' ucap Rania.


''Iya'' jawab Radit tidak semangat sambil melepaskan pelukannya.


Radit masuk kedalam kamar mandi. Mungkin karna lama dikamar mandi ketika dia keluar dilihatnya Rania sudah tertidur.


Radit juga merasa lelah dan mengantuk. Dia kemudian naik ketempat tidur. Ketika Radit mau mendekati Rania satu tendangan mendarat di badannya membuat Radit terjatuh kebawah tempat tidur.


''Awww'' pekik Radit membuat Rania terbangun.


''Kamu kenapa mas?'' tanya Rania yang terkejut melihat Radit terduduk dibawah tempat tidur.


''Tidak'' jawab Rania heran.


''Ya udah, kamu tidur lagi'' ucap Radit.


''Tapi mas,'' Rania masih penasaran.


''Ayo kita tidur. Kelihatannya kamu capek. Aku juga sudah mengantuk'' ajak Radit. Rania akhirnya menuruti kata Radit. Tidak butuh waktu lama dia pun tertidur.


Radit masih belum bisa tidur. Tendangan Rania begitu kuat membuat perutnya terasa nyeri. Kemudian dia teringat saran Dimas untuk memeriksakan Rania ke psikolog pasca penculikan kemarin.


''Apa ini efek trauma penculikan kemarin. Sebaiknya nanti aku tanya sama Dimas lagi'' gumam Radit menatap Rania yang tidur dengan lelap tanpa tahu apa yang terjadi.


''Ternyata ada suka dukanya aku mendapatkanmu'' ucap Radit sambil menc**m kening Rania.


''Selamat malam bidadariku'' ucapnya lagi sambil ikut tidur dengan memeluk Rania. Malam terasa sunyi yang terdengar hanya nafas mereka menandakan mereka telah tertidur lelap.


Paginya Rania merasakan berat diperutnya. Ketika dia membuka mata ternyata tangan Radit yang sedang memelukanya.


Dia menatap wajah orang yang sekarang sudah menjadi suaminya. Baru sekarang Rania sadar betapa tampannya Radit. Dulu karna sibuk mengurus permasalahnnya Rania tidak ada waktu memikirkannya. Biarpun mereka sering berkomunikasi dan bertemu tapi baru sekarang Rania menyadari betapa dia sangat mencintai suaminya dan merasa bersyukur memiliki dia.


''Sudah selesai menatapnya? Aku tahu kalau aku sangat tampan. Kamu beruntung mendapatkanku'' ucap Radit tersenyum memuji diri sendiri.


''Mas kepedean'' jawab Rania sambil beranjak dari tempat tidurnya.


''Kamu mau kemana sayang'' tahan Radit.


''Mau mandi mas hari sudah pagi'' jawab Rania.


''Nanti aja mandinya. Biasa pengantin baru akan menghabiskan waktu yang lama diatas tempat tidur'' kata Radit menarik tangan Rania untuk berbaring lagi.


''Tapi kita mau ngapain disini? Lebih baik kita pulang saja'' ucap Rania.


''Ya mau apalagi. Kalau kamu tidak ada palang merahnya tidak mungkin kita hanya tiduran saja'' ucap Radit menarik Rania kepelukannya.


''Sekarang kita begini saja seharian ini. Kalau sudah kembali kekantor tidak ada waktu untuk kita bermalas-malasan seperti ini'' ucap Radit


''Apa mas gak lapar?''tanya Rania menatap Radit.


''Jadi dari tadi pikiranmu hanya makanan?'' tanya Radit.


''Hehe, aku lapar. Soalnya kemaren malam tidak makan'' jawab Rania polos.


'' Hehe.Ya udah kita makan dikamar saja'' jawab Radit sambil memencet hidung Rania. Kemudian Radit memesan makanan dan menyuruh pelayan hotel mengantar kekamarnya. Radit kembali ke tempat tidur.


''Sebentar lagi makanannya di antar'' ucap Radit.


''Ya udah aku mau mandi dulu'' kata Rania.


''Sebentar saja seperti ini'' ucap Radit.


''Tapi mas''


''Kamu tidak mau?''


''Bukan gitu, aku mau ganti pembalut. Sepertinya darah haidku banyak keluar ntar bisa bocor'' ucap Rania malu.


''Huft, ya udah. Berat sekali cobaan jadi pengantin baru'' ucap Radit melepaskan pelukannya.


''Hehe, yang sabar'' jawab Rania sambil beranjak dari tempat tidur.


Rania langsung kekamar mandi untuk mandi. Beberapa saat kemudian Rania selesai. Dia menyuruh Radit untuk mandi. Tapi Radit malas beranjak dari tempat tidurnya. Sampai pelayan hotel datang mengantar sarapan mereka. Baru Radit bangun.


Mereka menghabiskan hari di kamar hotel aja. Layaknya pengatin baru bedanya mereka hanya menghabiskan waktu dengan bercerita dan bermalas-malasan. Sore hari Rania dan Radit memutuskan untuk pulang kerumah orang tua Radit. Sebenarnya Radit malas pulang tapi karna Rania mendesak untuk pulang karna merasa bosan akhirnya dia mengalah.