
Rania dan pamanya sampai didalam kamar bunda Rania.
''Kamu duduk disini'' kata paman Rendra sambil menepuk kasur tepat disebelah dia duduk. Rania menuruti perintah pamannya.
''Bundamu meninggalkan ini sama paman sebelum dia masuk rumah sakit'' kata paman sambil mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku celananya.
Dengan tangan gemetar Rania menerima amplop tersebut.
''Bukalah, setelah kamu baca. Apapun pertanyaan kamu akan paman jawab semuanya'' jelas paman.
Rania diam sejenak, kemudian dengan mengambil nafas dalam-dalam. Dia mulai membuka amplop tersebut. Ternyata didalamnya terdapat sebuah surat. Rania mulai membacanya.
Untuk anakku tersayang,
Ketika kamu membaca surat ini, berarti bunda sudah tidak ada didunia ini. Tapi kamu tidak boleh sedih karna dimanapun bunda berada, bunda akan selalu bersamamu.
Padahal bunda masih ingin melihatmu bahagia. Terus mempunyai suami dan anak yang menyayangimu. Tapi Tuhan berkata lain, kamu tidak boleh sedih ya. Biarpun bunda tidak disisimu, yang menyayangimu masih banyak. Hehe semangat Rania!!! kata-kata yang sebelumnya tidak pernah terucap dari bibir bunda, baru melalui surat ini bunda ucapkan.
Oh ya bunda minta maaf, karna selama ini bunda sudah membuat kamu menuruti keinginan bunda. Bunda tahu itu sangat memperngaruhi masa mudamu. Tapi karna keegoisan, bunda terus memaksamu. Sekarang kamu boleh menentukan jalan hidupmu sendiri. Jadilah seperti apa yang kamu inginkan.
Terakhir kamu tidak boleh marah sama pamanmu. Dia sudah banyak berkorban demi bunda. Karna bunda juga tidak mengizinkan pamanmu memberi tahu tentang penyakit bunda. Hehe, kamu tahu kalau paman tidak bisa menolak keinginan bunda.Tapi sekarang semua pertanyaan yang selama ini ingin kamu ketahui. Kamu boleh bertanya kepada pamanmu. Dia akan menceritakan semuanya. Bunda sudah bahagia semua masalah bisa bunda bawa pergi sebelum kamu mengetahuinya. Ketika kamu mengetahuinya apapun keputusan yang kamu ambil bunda ikhlas.
Sudah dulu ya sayang. Bunda sudah tidak kuat lagi menulis. Bunda mau istirahat dulu.
*D*ari bunda yang selalu mencintaimu.
Rania terisak setelah membaca surat dari bundanya. Setelah tenang baru Rania mulai bertanya kepada pamannya.
''Apa yang sebenarnya terjadi paman. Sehingga bunda membawa semua rahasia sampai dia meninggal?'' tanya paman.
''Ceritanya akan panjang. Kamu harus berjanji setelah paman bercerita kamu tidak boleh marah'' ucap paman Rendra.
''Iya Rania janji'' ucap Rania.
Akhirnya paman Rendra menceritakan semua Rahasia yang selama ini mereka tutupi dari Rania.
Flas**hback On**
Dua puluh lima tahun yang lalu. Retno adalah seorang istri dari pengusaha muda yang bernama Gunawan. Retno seorang gadis yang cantik jelita. Dia dibesarkan dipanti asuhan dan bertemu dengan Gunawan. Karna cintanya yang begitu besar sama Retno, Keluarga Gunawan menerimanya sebagai menantu. Walaupun latar belakang Retno hanya hidup di panti asuhan. Merekan hidup dengan bahagia.
Siang itu karna suaminya Gunawan pergi mengunjungi proyek diluar kota. Asisten sekaligus pengawal pribadi Gunawan yang bernama Rendra datang kerumah. Dia mau mengambil berkas yang tinggal di ruang kerja Gunawan. Karna selama Gunawan pergi Rendra yang akan mengantikanya.
Bel berbunyi, Retno yang sedang duduk diruang tamu menyuruh Susi yang merupakan asisten rumah tangganya membukakan pintu.
''Siapa yang datang Susi?'' tanya Retno dari dalam rumah.
''Pak Rendra buk'' jawab Susi.
''Suruh masuk'' perintah Retno yang masih sibuk membaca majalah.
''Siang buk'' ucap Rendra ketika sudah berada di ruang tamu.
''Siang, ada perlu apa anda kesini?'' tanya Retno.
''Saya mau mengambil beberapa berkas yang ditinggalkan tuan diruang kerjanya'' jawab Rendra.
''Ooo, ya udah silakan masuk'' kata Retno memberi izin. Setelah Rendra pergi dia melanjutkan membaca majalah.
''Kalau begitu saya kembali ke kantor dulu buk'' kata Rendra menghampiri Retno.
''Iya'' jawab Retno.
Sebelum Rendra membalikan badan. Dia terpaku dengan kalung yang dipakai Retno. Selama ini dia tidak pernah melihat Retno memakai kalung itu. Rendra terdiam di tempat dia berdiri seperti memikiri sesuatu.
''Apa masih ada yang ketinggalan?'' tanya Retno heran melihat Rendra masih berdiri disana. Begitu juga dengan Susi yang datang membawakan jus untuk Retno.
''Hmm, kalau boleh... Apa bisa saya melihat kalung yang ibuk pakai?'' tanya Rendra ragu. Retno juga terkejut mendengar pertanyaan Rendra tapi dia berusaha bersikap tenang.
''Emang kenapa dengan kalung yang saya pakai?'' tanya Retno.
''Saya hanya ingin memastikan sesuatu?'' kata Rendra lagi.
''Memastikan apa?'' tanya Retno penuh selidik.
''Memastikan apakah ada tanggal lahir di belakang huruf R itu?'' jawab Rendra.
Deg, Retno terkejut. Kenapa Rendra bisa tahu kalau dibelakang huruf R ada tanggal lahir. Dia tidak pernah melihatkan kalung ini selain kepada ibu panti dan suaminya Gunawan.
''Kenapa anda yakin ada tanggal di balik huruf R ini?'' tanya Retno.
''Karna kalung itu mengingatkan tentang adik saya yang hilang dua puluh tahun lalu dalam sebuah kecelakaan?'' jelas Rendra.
Mendengar jawaban Rendra hati Retno bercampur aduk. Baru kemarin malam dia membicarakan dengan suaminya tentang kalung ini. Apakah bisa dia bertemu keluarganya melalui kalung ini dan hari ini Rendra mengatakan hal yang selama ini dia cari. Tapi Retno harus memastikan lagi.
''Kok anda bisa tahu kalau ini seperti kalung adik anda'' tanya Retno lagi.
''Ketika adik saya lahir. Saya yang meminta mama dan papa membuatkan kalung ini. Saya juga yang meminta untuk membuat tanggal lahirnya dibelakang kalung ini'' jelas Rendra.
''Siapa nama adik anda?'' tanya Retno
''Rania'' jawab Rendra
''Tapi nama saya Retno bukan Rania''
''Kalau begitu izinkan saya melihatnya sebentar. Agar hati saya bisa tenang buk'' mohon Rendra.
Retno menyuruh Rendra duduk dulu. Kemudian dia membuka kalungnya dan memberikan sama Rendra. Setelah menerima kalungnya Rendra memejamkan mata sebelum melihat apa yang ada di belakang huruf R. Ketika dia melihat kalung itu. Seketika tangan Rendra bergemetar dan matanya mulai berkaca-kaca.
''Benar, ini kalung Rania'' kata Rendra parau melihat ke arah Retno.
Retno terkejut mendengar ucapan Rendra. Dia tidak ada ingatan sedikitpun tentang keluarganya selama ini. Karna kata ibu panti asuhan dia ditemukan dalam keadaan pingsan di tepi sungai. Umurnya waktu itu baru dua tahun. Karna tidak ingat dengan namanya ibu panti memberi nama Retno setelah melihat huruf R dari kalung yang dia pakai.
''Anda adalah adik yang saya cari selama ini'' ucap Rendra sambil menangis. Retno yang selama ini melihat asisten suaminya selalu bersikap tegas dan kaku. Tidak menyangka akan melihatnya menangis.
''Apa anda punya bukti lain untuk meyakinkan bawa saya adik anda?'' tanya Retno. Sebenarnya dia sudah mulai percaya tapi dia harus yakin dulu.
''Dipundak sebelah kanan adik saya ada tahi lalat tanda lahir. Karna saya juga mempunyai tanda lahir yang sama dengannya'' kata Rendra meyakinkan.
Seketika Retno menangis. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Selama ini dia ingin mengetahui dimana keluarganya berada. Ternyata orangnya berada dekat dengannya bahkan hampir tiap hari mereka bertemu.
''Kakak'' tangis Retno sambil berjalan ketempat Rendra dan memeluknya. Mereka menangis antara sedih dan bahagia karna bisa bertemu kembali. Susi yang melihat juga ikut menangis. Tapi mereka tidak tahu kalau ada orang yang memotret mereka dari luar.