
Sorenya Rania sudah bangun. Karna acara resepsinya dilakukan jam tujuh malam. Mau tidak mau dia harus bangun untuk bermakeup dan memakai gaun untuk resepsi nanti. Sebelum MUA datang dia mandi terlebih dulu. Radit masih terlelap.
Ketika Rania sudah selesai mandi. Radit sudah bangun dan segera mandi. Karna MUA sudah datang. Dan mereka mulai mendadani Rania.
Tepat jam tujuh malam semua tamu undangan dan relasi kedua perusahaan mulai berdatangan. Rania dan Radit duduk bagai raja dan Ratu semalam. Dua insan yang membuat mata terpana. Rania dengan kecantikan yang menawan dan Radit dengan kegagahan yang berkharisma. Pasangan yang sangat serasi. Mereka sibuk menerima salam dan ucapan selamat dari para undangan yang datang. Wajah mereka berdua terlihat berseri layaknya penganten baru umumnya.
Disisi lain Butik datang bersama papa mamanya yang kebetulan teman Surya.
''Selamat ya Sur. Akhirnya Radit menikah juga dengan jodohnya'' ucap Alan papa Butik sambil menyalami Surya.
''Makasih ya Lan sudah datang. Ini putrimu?'' tanya Surya ketika melihat Butik bersama mereka.
''Iya om, Nama saya Butik alias Bunga Cantik. Seperti papa saya yang suka barang antik dia memberi nama saya juga antik. Padahal saya bukan barang antik'' sapa Butik. Surya tertawa mendengar ucapan Butik yang selancar jalan tol.
''Bukannya itu kakak cantik yang menolongku waktu itu'' kata Butik ketika melihat Rania. Walaupun waktu bertemu Rania dia masih pakai kaca mata. Tapi melihat senyumannya Butik mengenali Rania. Dia sangat senang sekali ketika melihat Rania. Apalagi setelah pertemuan mereka Butik sangat mengagumi Rania.
''Kamu kenal?'' tanya Alan heran.
''Iya'' jawab Butik. Kemudian dia menceritakan bagaimana Rania menolongnya waktu itu. Alan dan Surya terkejut dengan apa yang dilakukan Rania. Terutama Surya dia bangga dengan menantunya. Walaupun dia sudah tahu dengan kemampuan Rania. Tapi dia masih terkejut mendengarnya.
''Ngomong-ngomong bukannya anakmu ada dua. Dimana yang satu lagi?'' tanya Alan. Surya mengedarkan pandangannya dan melihat Rendi tidak jauh dari mereka berdiri sedang bicara dengan teman-temannya.
''Itu dia, Ren sini dulu'' panggil Surya. Rendi segera mrnghampirinya.
''Ada apa pa?'' tanya Rendi. Alan terkejut ketika Rendi memanggil ayah sama Surya.
''om antik?'' sapa Butik terkejut. Rendi menoleh kearahnya. Dia juga terkejut.
''Ngapain toko baju ada disini?'' tanya Rendi santai.
''Hei, jaga bicaramu'' tegur Surya. Dia tidak enak hati dengan keluarga Alan.
''Ya ngapain lagi. Tidak mungkin aku beli emas disini'' jawab Butik asalan.
''Mana tahu. Kamu kan suka yang aneh-aneh'' ucap Rendi.
''Om jangan membicarakan diri sendiri'' ejek Butik.
''Kalian saling kenal?'' tanya Surya heran melihat Rendi dan Butik adu mulut.
''Iya'' jawab Butik.
''Tidak'' jawab Rendi. Apalagi Rendi melihat kearah Alan. Dan mengingat masalah kaca spion hari itu membuatnya tidak senang. Surya bingung dengan jawaban mereka berdua.
''Ren, kenalkan ini om Alan teman papa dan juga teman om Gunawan'' jelas Surya.
''Hallo om, saya Rendi'' ucapnya sambil menyalami Alan walaupun enggan. Alan hanya tersenyum canggung menerima salam Rendi. Dia juga masih ingat bagaimana kasarnya dia sama Rendi waktu itu. Ada sedikit rasa bersalah dihatinya. Tapi sebagai yang tua dia enggan meminta maaf.
''Sepertinya anak kita cocok nih. Bagaimana kalau kita jodohkan seperti anak pertamamu'' usul Alan. Dia sudah lama mendambakan menantu yang sama hobinya dengan dia. Salah satunya Rendi. Apalagi Rendi anak temannya. Sudah jelas asal usulnya.
''Aku tidak bisa memutuskan. Semua terserah mereka.'' jawab Surya.
''Tidak'' jawab Rendi dan Butik serentak. Mereka saling pandang mengejek.
''Om ini terlalu tua, aku suka orang yang tidak jauh beda umurnya denganku dan juga ganteng seperti orang itu'' tunjuk Butik. Mereka melihat kearah tunjuk Butik. Yang ternyata tertuju pada Angga.
''Biar anak kecil tapi dia lebih ganteng dari om. Om siap tua hidup lagi'' ejek Butik.
''Ya iyalah hidup. Kalau mati akan ku hantui hidupmu. Dasar tokoh baju berjalan cerewet lagi'' balas Rendi.
Surya pusing melihat perdebatan mereka. Dia hanya geleng-geleng kepala.
''Udah ya pa. Aku ketempat teman-temanku dulu'' kata Rendi kemudian meninggalkan mereka. Sedangkan Butik dan Keluarganya pergi ketempat Radit dan Rania memberi ucapan selamat.
''Selamat ya Dit'' ucap Alan sambil tersenyum.
''Makasih om'' jawab Radit.
''Selamat kakak wonderwoman'' ucap Butik.
''Hei Butik, makasih ya'' jawab Rania senang. Dia kemudian memeluk Butik.
'' Hari ini kakak terlihat sangat cantik sekali. Masnya juga sangat ganteng. Kalian berdua terlihat sangat serasi. Apa masih ada laki-laki seperti ini satu lagi untukku'' Puji Butik. Rania hanya tersenyum.
''Pasti ada, apalagi kamu imut dan cantik. Nanti pasti banyak laki-laki yang mengantri'' jawab Rania.
''Tapi jangan seperti om itu'' tunjuk Butik kearah Rendi. Radit dan Rania melihat kearah tunjuk Butik.
''Kenapa?'' tanya Rania.
''Siap tua aneh lagi'' jawab Butik. Rania dan Radit tertawa melihat tingkah lucu Butik. Kemudian mereka turun.
''Kamu kenal sama anak om Alan?'' tanya Radit
''Iya, dia anak yang antik'' jawab Rania tersenyum. Sambil menceritakan awal mereka bertemu. Radit ikut tertawa mendengar cerita Rania. Dia juga bangga dengan kebaikan Rania yang suka menolong.
Tidak lama Davin dan Sisi datang memberi selamat.
''Selamat ya say, doakan aku cepat nyusul'' ucap Sisi.
''Aamiin. Makasih ya'' jawab Rania sambil memeluk Sisi. Diikuti Davin.
''Ntar Unboxingnya jangan terlalu ganas'' bisik Davin ketelinga Radit ketika mereka berdua saling rangkulan. Satu tinju mendarat diperut Davin membuatnya agak meringis.
''Tidak perlu loe ingatkan gue'' bisik Radit sambil tersenyum. Sisi dan Davin turun. Kemudian Dimas naik.
''Selamat ya Dit, Ran'' ucap Dimas.
''Makasih Dim'' jawab Radit.
''Kakak sendiri saja?'' tanya Rania.
''Iya, karna calon jodohku sudah diambil Radit duluan'' canda Dimas. Radit menatap tajam kearah Dimas. Sedangkan Rania hanya tersenyum mendengar jawaban Dimas.
Kemudian Dimas turun sambil tersenyum dari tempat mereka. Tanpa memperdulikan tatapn tajam dari Radit.
Suasana resepsi pernikahan Rania dan Radit sangat meriah dan mewah. Ketika berfoto lagi-lagi Rendi membuat kehebohan.
Kedua keluarga merasa sangat bahagia atas pernikahan Mereka berdua. Jam 10 malam semua undangan selesai memberi salam. Rania terlihat capek. Dia pamit duluan kekamar. Sedangkan Keluarga yang lain pulang kerumah masing-masing. Hanya Rania dan Radit yang menginap di hotel. Ketika Rania kekamar. Radit masih mengobrol dengan teman-temannya.