
Penyesalan yang begitu dalam belum apa-apa dengan penderitaan yang selama ini dirasakan Retno. Mungkin tidak cukup hanya dengan kata penyesalan.
''Saya begitu marah menerima foto itu. Dalam keadaan kacau saya memutuskan pulang malam itu juga. Saya ingin memastikan sendiri berita itu. Tapi di tengah perjalanan rem saya blong dan terjadilah kecelakan. Kecelakaan membuat kaki saya menjadi lumpuh. Karna kondisi seperti itu saya putus asa dan membuat amarah saya sama kalian memuncak. Apalagi sebelum saya pergi berobat keluar negeri saya dapat kabar kalau mayat Retno di temukan terbakar. Hati saya waktu itu hancur. Tapi emosi saya malah mengalahkan rasa simpati. Sehingga saya sampai berbicara seperti itu. Kemudian papa membawa saya berobat keluar negeri. Supaya saya bisa sembuh dari kelumpuhan. Mengenai istri saya yang sekarang. Dia dijodohkan dengan saya oleh papa. Karna Retno sudah meninggal dan tidak ada harapan kami untuk kembali lagi. Saya menerimanya...'' jelas Gunawan sambil menitikan air mata.
'' Kalau dari awal saya tahu Retno tidak meninggal. Saya pasti akan mencarinya sampai kemana pun'' ucap Gunawan lagi.
'' Anda tahu tuan. Saya yang tidak tahu apa tentang bertani. Harus bertahan disini. Dengan beberapa kali kegagalan. Kami bahkan dulu harus makan sekali sehari karna tidak ada lagi uang yang tersisa. Ketika kebakaran Retno dan Susi tidak membawa apapun. Hanya baju dibadan. Untung waktu itu saya mempunyai tabungan. Tapi karna selama lebih setahun tidak bekerja tabungan saya mulai habis. Retno yang mengalami tekanan batin paska dia melahirkan juga tidak bisa saya obati. Bahkan emosi sering tidak terkontol. Pernah suatu kali dia tidak sadar hampir membunuh Rania. Untung Susi melihatnya dan melarikan Rania keluar rumah. Selama setahun tinggal disini saya selalu gagal dalam bertani dan berladang. Untuk bertahan hidup Retno dan Susi menjajakan kue keliling kampung. Tapi sering kali tidak laku. Ketika Rania sakit keras. Kami tidak bisa membawanya berobat karna tidak ada uang. Bahkan Rania sempat kejang-kejang. Malam itu kami sudah mengira kalau Rania akan pergi meninggalkan kami. Tapi ternyata tuhan berkehendak lain. Rania selamat dari maut. Ketika Rania berumur lima tahun dia pernah dilempar teman-temannya ke sungai hanya gara-gara dia tidak punya ayah. Dia cap sebagai anak haram. Untung saya datang tepat waktu menolongnya. Sejak saat itu Rania trauma sama sungai. Sampai sekarang dia tidak bisa berenang. Berkali-kali selamat dari maut membuat dia kuat. Terkadang ketika ketakutanya datang Retno akan melampiaskan sama Rania. Dia akan menerima semua kemauan bundanya tanpa menangis. Luka di badan bisa ditahan tapi luka di hati dia sembunyikan. Cacian dan makian yang dia terima karna tidak punya ayah tidak terhitung lagi. Belum lagi Retno mengharuskanya berpenampilan seperti sekarang mulai dari SMA. Masa dimana anak remaja perempuan lainnya bersolek dia tidak mendapakan. Karena Retno takut suatu saat anda akan datang mengambil Rania. Rania dijauhi, diejek bahkan dihina. Tapi dia tetap sabar menerimanya asal bundanya senang. Dia akan marah kalau bundanya dihina orang. Dia tumbuh menjadi sosok yang melindungi orang yang dia sayang. Dia tidak akan melihatkan kesedihanya didepan kami. Dia akan menangis ditempat yang tidak kami ketahui. Rania akan bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus membebani kami. Mulai dari berjualan, bekerja di bengkel bahkan jadi sopir taksi online. Bekerja sudah dilakukannya sejak dar SD sampai kuliah. Apa anda tahu bagaimana perasaan saya sebagai paman. Ketika melihat keponakan perempuan saya menghabisi masa mudanya seperti itu? Harus berjuang sendiri, harus mengorbankan kehidupan pribadinya'' cerita Rendra sedih matanya berkaca-kaca.
''Saya merasa orang yang gagal ketika melihat dua orang wanita yang saya sayangin menderita'' ucap Rendra lagi.
''Trus kenapa kamu tidak mencoba menghubungi saya lagi?''tanya Gunawan.
''Retno tidak mengingikan. Hatinya sudah hancur dengan ketidakpercayaan orang yang sangat dicintai membuat dia berubah menjadi dingin. Dia bahkan bersumpah akan membawa rahasia ini sampai meninggal. Jangankan anda, Rania yang anaknya sendiri tidak tahu'' ucap Rendra.
Gunawan tertegun mendengar ucapan Rendra. Begitu besar penderitaan yang dia berikan kepada Retno dan Rania.
''Sekarang dimana Retno?'' tanya Gunawan.
''Tidak ada guna anda mencarinya lagi'' ucap Rendra dingin. Kalau mengingat semua penderitaan adiknya selama ini ingin dia melampiaskan kepada Gunawan. Bahkan tidak cukup hanya membunuh Gunawan kemudian dia hidup lagi. Rendra ingin rasanya menghancurkan Gunawan dan orang yang menfitnah mereka sampai ke tulang-tulang.
Sedangkan Rania sudah tidak sabar menunggu diluar. Emosinya sudah mau meledak ingin masuk kedalam. Tapi Susi mencoba menahannya. Radit dan Davin terkejut mendengar kenyataan tentang Rania. Mereka tidak menyangka akan mendengar semua ini. Dan melihat Gunawan seperti itu.
''Saya sudah bilang tidak bisa tuan'' jawab Rendra dingin.
''Kenapa?'' teriak Gunawan
''Karna dia sudah meninggal dua hari yang lalu'' teria Rendra marah. Air matanya tidak kuasa lagi di tahan mengingat kalau adiknya sudah tidak ada.
''Tidak... Tidak mungkin, kamu pasti bohong Ren'' teriak Gunawan sampai terduduk di lantai. Air matanya keluar mendengar ucapan Rendra. Pupus sudah harapannya untuk bertemu Retno. Biarpun dia selama ini sangat marah tapi di juga merindukan Retno.
''Selama ini Retno menderita penyakit kepala dan maag akut akibat stress yang berlebihan. Bertahun-tahun dia menanggungnya. Sampai ketika Rania bercerita kalau dia bertemu dengan anda. Penyakitnya semakin parah karena rasa takut kehilangan anaknya. Dia tambah takut kalau anda akan merampas Rania dari dia karena begitu dalam rasa bencinya terhadap anda. Sampai meninggalpun dia membawa penderitaanya tanpa memberi tahu anaknya sendiri. Akhirnya sumpah yang diucapkanya memang dibawanya sampai mati '' ucap Rendra.
''Tidak Retno, kenapa kamu hukum aku seperti ini'' ratap Gunawan. Lama Gunawan tertunduk lemas. Seluruh rasa penyesalan dan rasa bersalah bercampur menjadi satu.
''Trus dimana anak saya'' Gunawan mulai mengila mencari Rania. Matanya yang merah mencari-cari keberadaan Rania.
Rendra hanya diam seribu bahasa. Gunawan mencoba mengguncang tubuh Rendra. Dia terus menanyakan Rania. Tidak ada jawaban dari Rendra. Dia masih tetap diam melihat keputusasaan Gunawan. Dia ingin melihat keputusasaan Retno waktu itu pada diri Gunawan. Rendra tahu kalau tidak semua yang terjadi kesalahan Gunawan. Tapi salah satu penyebabnya adalah Gunawan. Kalau Retno hidup pun dia akan tetap melakukan hal tersebut terhadap Gunawan. Dengan tatapan penuh amarah Rendra melihat ke arah Gunawan.
''Saya mohon Rendra, pertemukan dengan putri saya'' kata Gunawan lagi dengan memelas.
''Putri anda sudah meninggal bersama dengan bundanya''...