
Sudah seminggu Rendi menghindari Rania. Tapi hari ini karna motornya mogok lagi terpaksa dia pulang bersama Radit. Didalam mobil tidak ada pembicaraan seperti biasa. Mereka hanya diam saja. Pas mobil mereka melewati jalan yang banyak menjual jajanan kaki lima. Rania melihat makanan kesukaan bundanya. Seketika dia ingin membelinya.
''Boleh kita berhenti sebentar pak?''tanya Rania.
''Kamu mau ngapain?'' tanya Radit.
''Saya mau beli sesuatu diseberang sana'' jawab Rania menunjuk orang menjual makanan.
''Emang kamu mau beli apa?'' tanya Radit. Ada perasaan tidak enak mengizinkan Rania kesana. Sedangkan Rendi hanya diam saja sambil memainkan ponselnya.
''Saya pengen beli makanan kesukaan bunda'' jawab Rania.
''Hmm, ya udah. Kamu hati-hati'' ucap Radit terpaksa.
''Makasih pak'' kata Rania senang. Dia keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat orang jualan makanan yang mau dia beli. Radit terus melihat kearah Rania. Tapi karna Rania fokus keseberang jalan. Dia tidak tahu kalau sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya.
''Rania awaaas'' teriak Radit ketika melihat mobil tersebut. Tapi Rania terlambat mengelak. Tubuhnya terpental beberapa meter akibat di hantam mobil. Membuat orang-orang disana terkejut mendengar suara kecelakaan itu. Sedangkan mobil tersebut melarikan diri. Semua orang yang ada disana berlarian. Radit juga langsung berlari ketempat tubuh Rania tergeletak diikuti Rendi. Dia langsung memeluk tubuh Rania yang penuh darah.
''Tidak,tidak, bangun rania. Kamu tidak boleh tinggalkan saya''kata Radit histeris. Bajunya sudah penuh dengan darah Rania.Semua orang mengerumuninya.
''Pak Radit'' kata Rania lemah hampir tidak terdengar.
''Iya ini saya'' kata Radit. Rania melihat kearah Radit dia sempat tersenyum sebelum akhirnya dia pingsan.
''Raniiiaaa bangun'' Teriak Radit sambil menangis histeris memeluk Rania. Rendi melihatnya ikut panik.
''Kita harus segera membawanya kerumah sakit kak'' kata Rendi.
''Iya, ayo cepat'' kata Radit sambil mengendong tubuh Rania ke mobil. Rendi dengan cepat membukakan pintu mobil. Radit masuk dan memeluk Rania dipangkuanya. Rendi segera menyetir mobil menuju rumah sakit terdekat.
''Ayo cepat Ren. Tidak bisa kami bawa mobilnya lebih cepat lagi'' bentak Radit panik. Dia sangat cemas dengan kondisi Rania. Darahnya terus keluar.
''Iya kak, ini sudah kecepatan tinggi'' jawab Rendi. Dia juga ingin cepat sampai. Tapi rasanya rumah sakit yang mereka tuju sangat jauh.
''Bertahan Ran, kamu pasti selamat. Saya yakin kamu kuat'' ucap Radit masih menangis. Rendi mendengarnya ikut sedih. Dia baru sadar kalau kakaknya sangat mencintai Rania. Demi dirinya dia rela mengalah mengejar Rania. Hari ini dia melihat sosok Radit yang begitu hancur kedua kalinya setelah Radit putus dengan pacarnya dua tahun lalu. Padahal Radit baru bisa bangkit dari luka hatinya. Sekarang sudah terluka lagi. Rendi tidak tahu begitu besar pengorbanan Radit untuknya. Sekarang dia sudah bertekad merelakan Rania untuk Radit.
Mereka sampai dirumah sakit. Radit dengan berlari mengangkat tubuh Rania ke UGD. Dia berteriak-teriak seperti orang gila memanggil dokter. Rendi mengikutinya dari belakang. Tidak lama petugas UGD datang membawa tempat tidur dorong. Rania diletakan diatas sana dan dibawa keruang operasi.
''Maaf pak anda tidak boleh masuk'' cegah perawat.
Radit dan Rendi hanya bisa menunggu didepan ruang operasi.
''Radit kenapa kami disini?''tanya Dimas yang buru-buru ke ruang operasi.Dia melihat baju Radit penuh dengan darah.
''Tolong selamatkan Rania, Dim'' kata Radit.
''Jadi yang didalam ruang operasi adalah Rania'' kata Dimas terkejut.
''Iya'' jawab Radit.
''Kalau begitu aku masuk dulu. Akan aku usahakan'' kata Dimas sambil meninggalkan Radit dan Rendi.
Radit duduk tertunduk di bangku tunggu. Dia sangat takut kehilangan Rania. Rendi juga sama terpukulnya. Sudah seminggu dia menghindari Rania. Tapi hari ini dia melihat Rania kecelakaan. Rasa bersalah menghantuinya. Dia juga takut kehilangan Rania.
Beberapa saat kemudian Dimas keluar dari ruang operasi.
''Bagaimana Dim?'' tanya Radit tidak sabaran.
''Ada benturan dikepalanya. Dia kehilangan banyak darah. Kita membutuhkan darah untuk Rania. Kondisinya masih kritis. Kamu harus cepat mencari pendonor darah yang cocok dengannya, biar operasi bisa dilaksanakan'' ucap Dimas.
''Apa golongan darah Rania?'' tanya Radit.
''AB'' jawab Dimas.
''Hmm. Aku harus telepon paman Rendra. Dia paman Rania semoga saja cocok golongan darahnya'' ucap Radit.
''Ok. Aku kedalam dulu'' kata Dimas.
Radit mencari nomor Rendra diponselnya. Kebetulan waktu di Bandung di sempat menyimpan nomornya.
Tut,tut,tut.
''Hallo paman ini Radit'' kata Radit
''Iya ada apa nak Radit'' jawab Rendra.
''Kita membutuhkan darah untuk Rania paman. Dia mengalami kecelakaan. Apa golongan darah paman sama dengannya?'' Tanya Radit.
''Apaa... Rania kecelakaan? Gimana kondisinya. Golongan darah paman berbeda dengannya'' Jawab Rendra terkejut.
''Sedang diruang operasi paman. Kata dokter ada benturan dikepalanya. Dia kehilangan banyak darah. Kondisinya kritis'' jawab Radit.
''Coba kamu hubungi tuan Gunawan. Mungkin golongan darah mereka sama. Paman akan berangkat langsung malam ini ke Jakarta'' jawab Rendra cemas.
''Ya paman'' telepon dimatikan Radit.
''Gimana kak?'' tanya Rendi. Di baru menelpon Davin mengabari tentang Rania.
''Kita harus telepon om Gunawan'' jawab Radit sambil mencari nomor Gunawan diponselnya.
Tut,tut,tut.
''Hallo Dit'' jawab Gunawan.
''Hallo om, lagi dimana?'' tanya Radit.
''Lagi dirumah, ada apa tumben kamu menelpon?'' tanya Gunawan.
''Rania sekarang dirumah sakit om. Dia membutuhkan darah. Golongan darahnya AB. Apa sama dengan om?'' tanya Radit
''Apaa yang terjadi? Om akan kesana. Golongan darah om juga AB'' jawab Gunawan cemas.
Telepon dimatikan. Radit lega akhirnya bisa menemukan darah untuk Rania.
''Gimana kak?'' tanya Rendi.
''Katanya om Gunawan mau kesini. Golongan darahnya sama dengan Rania'' jawab Radit.
''Syukurlah'' jawab Rendi lega.
''Apa kakak tidak pulang dulu ganti baju. Biar aku yang jaga disini'' kata Rendi. Dia melihat Radit sangat kacau. Raut wajahnya masih panik. Bajunya penuh dengan darah.
''Tidak, aku akan disini sampai Rania keluar dari ruang operasi'' jawab Radit.
Kemudian Rendi mengabari keluarganya. Mama dan papanya juga ingin datang kerumah sakit.
Beberapa saat kemudian Davin dan Sisi datang. Sisi menangis sepanjang perjalanan kerumah sakit.
''Gimana keadaan Rania?'' tanya Davin cemas ketika sampai ditempat mereka. Dia terkejut melihat keadaan Radit.
''Dia masih diruang operasi. Menunggu om Gunawan untuk mendonorkan darahnya'' jawab Radit.
''Kenapa kecelakaan bisa terjadi. Apa anda tidak bisa menjaga Rania?'' kata Sisi marah sambil menangis.
''Maaf'' jawab Radit lemas.
''Bukan salah kak Radit'' jawab Rendi. Kemudian Rendi menceritakan kronologi terjadinya kecelakaan. Sisi terduduk lemas mendengarnya. Dia menangis terisak-isak.
''Apa Rania akan selamat kak?'' tanya Sisi sama Davin.
''Kita berdoa saja semoga Tuhan memberikan keselamatan kepada Rania'' jawab Davin sambil memeluk Sisi.
''Dimas yang akan mengoperasi Rania'' jawab Radit.
''Kak Dimas? Dia pasti menyelamatkannya'' kata Sisi menguatkan hatinya sendiri.
Mereka semua terdiam duduk menunggu kedatangan Gunawan. Ada rasa cemas dari raut wajah mereka. Malam terasa panjang bagi mereka.