
Malam harinya Sasa baru sudah mandi ia sengaja memakai Lingerie yang sangat rendah diarea dadanya ia segera akan menggoda lelaki yang ia cintai sejak lama. setelah dirasa sudah ia pun melangkah menuju tempat tidur namun sebelum itu ia sengaja tak mengunci pintu agar Stev langsung bisa masuk kedalam.
Dirasa sudah selesai ia dengan cepat naik keatas tidur dan benar saja tak lama terdengar ketukan pintu dari luar dengan cepat ia memejamkan kan matanya berpura-pura untuk tidur.
Stev yang merasa tidak ada sahutan dari dalam mencoba membuka pintu dan ternyata tidak terkunci ia segera masuk sambil membawakan makan malam untuk Sasa.
ia terkejut saat melihat pemandangan didepannya ia melihat wanita itu tidur telentang dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan hanya menggunakan lingerie tipis dan juga rendah yang memperlihatkan dua buah gundukan padat dan paha mulus milik Sasa.
Stev mencoba mendekat dan mencoba membenari rambut Sasa yang berantakan namun ia urungkan dan mencoba untuk tidak tergoda dan bersikap biasa saja. ia pun bergegas membangunkan Sasa namun wanita itu tak kunjung bangun tentu saja wanita itu hanya berpura-pura tertidur ia ingin melihat sejauh mana Stev menahan hasratnya saat melihat bentuk tubuh dirinya yang begitu menggoda.
"Sa bangun lah dulu aku membawakan mu makan malam." ucap Stev kesekian kalinya.
karena masih tidak ada pergerakan dari Sasa akhirnya Stev pun memutuskan untuk keluar namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh wanita itu dan ia pun terjatuh dengan menindih Sasa diatas tempat tidur.
"Kamu sudah bangun." ucap Stev lalu ingin berdiri namun dengan segera Sasa memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.
"Aku menginginkanmu Stev." ucapnya dengan nada menggoda dan mengarahkan satu telapak tangan Stev ke wajahnya.
Stev yang merasa tergoda pun hilang kendali ia mulai membelai wajah Sasa dan mereka saling berpandangan sejenak.
"Lakukanlah Stev." ucapnya kembali.
Tanpa aba-aba lelaki itu mencium dan ******* bibir Sasa dengan nafsu yang memuncak lama mereka berciuman dan akhirnya turun ke leher, tangan Stev pun dengan nakal meremas gundukan padat Sasa yang membuat sang pemilik mengerang nikmat. saat desahan demi desahan lolos dari mulut Sasa membuat Stev sadar bahwa yang berada dibawahnya saat ini bukan lah wanita yang ia cintai akhirnya ia pun berhenti dan segera bangun membenari pakaiannya yang berantakan.
Merasakan Stev berhenti menyentuhnya membuat Sasa kesal dan juga heran.
"Kenapa berhenti Stev?"
"Maaf Sa aku hanya ingin melakukannya bersama dia." ucapan yang keluar dari mulut Stev membuat Sasa merasa semakin kesal namun berusaha ia tahan dan tersenyum.
"Dia menghianatiku mu Stev dia selingkuh dibelakangmu jadi lupakan dia dan belajar mencintaiku karena aku sangat mencintaimu." Stev terkejut mendengar pengakuan cinta dari Sasa.
Ia sama sekali tidak menyangka sahabat dari mantan kekasihnya itu mencintai dirinya dan dia sama sekali tidak tau akan hal itu.
"Apa maksudmu Sa."
"Dengar Stev aku mencintaimu lebih dari Rania mencintaimu jadi lupakan dia lalu buka hatimu untukku." ucapnya membuat Stev terdiam untuk beberapa saat.
"Aku akan belajar." ucapnya yang membuat senyum bahagia mengembang dibibir sasa.
"Benar." jawabnya sembari mengelus puncak kepala Sasa.
"Apakah kita bisa melakukannya malam ini." tentu saja lelaki itu mengerti jika Sasa menginginkan dirinya untuk berada dibawahnya.
"Untuk yang itu tunggu setelah aku mencintaimu Sa karena aku tak bisa melakukan itu tanpa cinta." sebenarnya Sasa sudah tau jika tak mungkin Stev begitu mudah bercinta dengan dirinya apalagi tubuh Rania jauh lebih menggoda dari tubuh miliknya.
"Tentu saja aku akan menunggu." ucapnya meyakinkan Stev.
Tak apa jika aku harus menunggu mu Stev karena saat ini aku adalah kekasihmu dan kita berada di bawah atap yang sama jadi tak susah untukku membuatmu menjadi milikku seutuhnya.
"Kau makan lah dulu sudah itu istirahatlah aku kembali kekamar." wanita itupun mengangguk.
***
Dua orang sahabat terlihat sedang makan malam berdua tiba-tiba Rania mendadak mual dan segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Sarah yang melihat itu begitu panik dan mencoba untuk mengelus punggung Rania.
Setelah dirasa semuanya sudah keluar dari dalam perutnya lalu melangkah keluar kamar mandi yang dituntun oleh Sarah.
Sarah menyuruh Rania untuk minum dan duduk di sofa karena wajah wanita itu yang nampak pucat. Rania pun menurut ucapan sahabatnya itu.
"Ran kita kedokteran ya." tawar Sarah yang khuwatir melihat keadaan sahabatnya yang begitu terlihat lemas dan pucat.
"Tidak usah Sarah aku hanya masuk angin dan istirahat sebentar saja juga pasti akan sembuh." ucapnya tak mau merepotkan Sarah.
Sarah menuntun Rania masuk kedalam kamar untuk istirahat lalu berpamitan untuk kedapur membereskan sisa mereka makan malam tadi yang belum sempat dibersihkan.
Rania heran kenapa dirinya tiba-tiba mual seketika ia meraba perutnya dan teringat akan sesuatu lalu ia melihat kalender.
Ia terkejut saat melihat kalender ternyata ia sudah telat datang bulan selama dua bulan lebih. ia terduduk lemas dilantai sembari memegangi perutnya dengan erat.
"Tidak, ini tidak mungkin." ucapnya sembari menangis tanpa suara.
namun saat itu juga ia tersenyum kenapa ia menangis harusnya ia senang karena ini adalah anak hasil cintanya bersama stev. ia segera keluar membeli tes pack untuk ia gunakan besok pagi setelah bangun tidur.
setelah membeli apa yang ia cari ia pun masuk kembali kedalam rumah langsung menuju kamar dan tertidur.