Rania

Rania
51.Dia Memang Cucuku



Cynthia pulang kerumahnya pagi hari. Ketika dia mau masuk ke dalam rumah Candra keluar mau pergi kerja.


''Cynthia... Kamu dari mana? Kenapa baru pulang?'' tanya Candra marah.


''Bukan urusan kak'' jawab Cynthia sambil masuk kedalam Rumah.


''Apa katamu, anak gadis pulang pagi... kemana kamu tadi malam?'' Candra tambah marah. Dia memegang tangan Cynthia dengan kasar.


''Sakit kak'' kata Cynthia meringis.


''Kalau kamu berbuat sesuatu yang merugikan keluarga kita diluaran sana. Jangan salahkan aku berbuat lebih kasar dari ini. Biarpun mama terus membelamu aku tidak takut'' ancam Candra sambil menghempaskan tangan Cynthia. Dari nafas Cynthia, Candra tahu kalau adiknya habis minum-minum malam tadi.


''Ada apa ini?'' tanya Nita yang keluar karna mendengar suara Candra sedang marah. Sedangkan Cynthia hanya diam saja. Dia bergidik mendengar ancaman kakaknya. Baru kali ini dia melihat Candra begitu marah.


''Mama tanya saja sama anak yang selalu mama manjakan ini. Kenapa dia baru pulang'' jawab Candra


''Cynthia...'' kata Nita melihat ke arah Cynthia. Cynthia yang dilihat oleh mama malah menangis.


''Kamu tidak usah menangis. Kalau aku mendengar kabar yang tidak baik tentangmu diluar sana. Bahkan kamu nangis darahpun aku tidak akan kasihan. Dan mama tolong urus anak mama ini. Kalau mama masih memanjakannya jangan salah aku tidak memandang mama ketika marah'' ancam Candra sambil masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan Nita dan Cynthia menuju kantor.


''Kamu kenapa sampai ketahuan sih pulang pagi sama kakakmu?'' tanya Nita kesal.


''Cynthia tidak tahu kalau kakak belum pergi kekantornya'' jawab Cynthia masih menanggis. Badannya terasa capek. Dia sangat mabuk semalam. Bahkan dia tidak tahu apa yang terjadi. Yang di tahu pagi ini dia terbangun disebuah kamar dibar.


''Ya udah ayo masuk dulu, kamu bau alkohol. Kakak kamu itu kalau sudah marah sangat mengerikan. Mama mungkin tidak bisa melawannya. Lain kali kamu jangan seperti ini lagi'' ucap Nita.


''Iya ma'' jawab Cynthia. Dia langsung kekamarnya. Yang dipikirkannya bagaimana untuk bisa tidur sekarang.


Sementara Gunawan sampai dirumahnya. Dia masuk kedalam Rumah dengan tidak semangat.


''Loh mas kok sudah pulang? Apa kamu sakit?'' tanya Nella heran melihat Gunawan pulang.


''Aku lagi malas kekantor'' jawab Gunawan sambil duduk di sofa ruang tamu.


''Tumben kamu malas?'' tanya Nella dia juga ikut duduk disana.


''Papa dimana?'' tanya Gunawan.


''Papa tadi masih dikamarnya, mau aku panggilkan?'' tanya Nella.


''Tidak usah'' kata Gunawan.


''Apa mas Gunawan sedang ada masalah. Tidak biasanya dia seperti ini'' batin Nella.


''Apa kamu sedang ada masalah mas? Kalau iya kamu bisa cerita sama aku'' ucap Nella.


''Huft'' Gunawan menghela nafasnya dengan berat.


''Apa aku ini orang yang sangat jahat sehingga tidak bisa dimaafkan?'' tanya Gunawan pada diri sendiri. Ada kesedihan di wajahnya.


''Maksud mas apa? Selama kita menikah mas selalu baik, tidak pernah kasar sama aku'' jawab Nella.


''Bahkan biarpun sampai sekarang kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu tidak pernah berniat menceraikanku. Ditambah lagi aku tidak bisa memberimu keturunan. Kamu masih mempertahankan aku disisimu. Itu saja sudah membuatku bersyukur mencintaimu mas'' batin Nella.


''Tapi anakku sangat membenciku. Karna kesalahan yang aku perbuat. Dia bahkan tidak mau mengakui aku sebagai ayah'' ucap Gunawan semakin sedih.


''Apa mungkin mas Gunawan selingkuh dibelakangnya''pikir Nella.


''Anak... Maksud mas anak siapa? Apa mas punya wanita simpanan yang tidak aku ketahui?'' tanya Nella curiga.


''Dia anak istriku sebelumnya, Retno'' jawab Gunawan.


Nella terkejut mendengar ucapan Gunawan. Dia tahu Gunawan sangat mencintai istri pertamanya itu bahkan sampai sekarang.


''Bukannya istri pertama mas sudah meninggal?'' tanya Nella.


''Ternyata dia selamat dari kebakaran. Dan dia tinggal di Bandung selama ini'' jawab Gunawan


''Berarti mas ke Bandung kemarin untuk bertemu dengannya?'' tanya Nella. Munafik dia tidak merasakan sedikit cemburu. Tapi dia harus tetap tenang apapun jawaban Gunawan.


''Iya, tapi...'' jawaban Gunawan terputus. Dia terkejut ternyata papanya sudah berdiri dibelakang mereka.


''Tapi apa mas?'' tanya Nella. Dia berusaha menahan air mata. Dia takut Gunawan akan meninggalkannya dan kembali ke istri pertamanya itu.


''Tapi dia sudah meninggal sehari sebelum aku sampai disana?'' jawab Gunawan sedih. Ada rasa kasihan dan lega dihati Nella.


''Apa yang kamu bicarakan Gunawan. Kenapa kamu masih mencari Retno?'' tanya Wiratmaja yang merupakan papa Gunawan. Umurnya sudah tujuh puluh tahun tapi badannya masih kelihatan kuat.


''Retno dan Rendra tidak bersalah pa. Selama ini kita yang salah'' jawab Gunawan sedih.


''Maksudmu...?'' tanya papanya.


Kemudian dia menceritakan semuanya. Mulai dia mencurigai Rania ketika mereka bertemu, mencoba mencari identitasnya. Terus sampai di Bandung bertemu Rendra. Mengetahui kenyataan selama ini. Retno yang sudah meninggal serta bertemu putrinya.


''Dia membenciku pa. Dia tidak mau mengakuiku sebagai ayahnya. Hatiku hancur dan semua gara-gara kesalahanku'' ucap Gunawan mulai berkaca-kaca.


''Cucuku yang malang'' ucap Wiratmaja ikut sedih. Ada rasa senang ketika dia mengetahui anak sulungnya mempunyai anak. Tapi ada juga rasa sedih mengingat apa yang terjadi dengan menantu dan cucunya selama ini.


Nella mendengar cerita Gunawan. Juga merasa bersimpati. Selama ini, sama dengan Gunawan. Yang ia tahu tentang istri pertama Gunawan hanya tentang perselingkuhannya. Ternyata itu hanya fitnah. Sekarang dia melahirkan anak Gunawan. Nella ingin juga bertemu dengan Rania. Karna dia sudah tidak mungkin lagi memiliki anak. Dia ingin merawat Rania seperti putrinya sendiri.


''Bagaimana kalau kita bawa dia kesini mas'' kata Nella.


''Aku juga ingin seperti itu. Tapi jangankan mau ikut. Menganggap aku ayahnya saja dia tidak mau. Ketika ketemu kemarin dia sangat membenciku'' jawab Gunawan.


''Pokoknya papa tidak mau tahu. Kamu harus membawanya kesini. Papa ingin bertemu dengannya sebelum papa meninggal. Ini semua juga salah papa. Andai saja papa mau bertemu dengan Rendra sebelum kita pergi keluar negeri mungkin semua akan baik-baik saja'' ucap Wiratmaja sedih.


''Semua bukan salah papa. Aku yang sebagai suami saja tidak percaya dengannya'' kata Gunawan menyalahkan dirinya.


'' Bawa cucuku kesini. Kalau perlu Rendra sekalian. Pasti dia cantik seperti bundanya. Tapi bila kamu tidak sanggup biar papa yang menjemputnya ke Bandung'' ucap Wiratmaja tegas.


''Iya pa, beri aku waktu. Dia sangat keras kepalanya sama denganku'' ucap Gunawan.


''Berarti dia memang cucuku'' jawab Wiratmaja tersenyum bahagia. Dia senang sekarang punya satu orang cucu lagi.


Gunawan yang melihat papanya tersenyum. Membuatnya tidak boleh putus asa mendapatkan hati putrinya.


''Rania, ayah akan berusaha membuatmu memaafkan ayah dan mengakui keberadaan ayah'' batin Gunawan.