
Rania sampai diklinik Sisi. Sebelum kesana Rania membeli beberapa minuman dan cemilan untuk dimakan bersama Sisi dan karyawannya.
''Raniiaaa'' sapa Sisi sambil memelukanya.
''Kamu tambah cantik aja sejak kita tidak bertemu'' ucap Rania.
''Hmm, kamu meledek aku? Ayo kita keruanganku. Kita mengbrol disana'' ajak Sisi. Rania hanya mengangguk. Sebelum masuk ruangan Sisi dia meninggalkan minuman dan cemilan yang dia beli tadi untuk karyawan Sisi. Mereka merasa senang. Rania hanya membawa sedikit untuk mereka makan didalam.
''Gimana keaadaanmu sekarang?'' tanya Sisi setelah mereka berdua duduk disofa.
''Seperti yang kamu lihat aku sudah sehat. Biarpun masih terasa nyeri dikepala'' jawab Rania sambil menyeruput minumannya.
''Tapi aku senang melihat kamu sudah seperti biasa. Oh ya aku dengar kasus Cynthia tidak kamu lanjutkan'' kata Sisi.
''Iya, aku kasihan sama om Hendra dan kak Candra. Apalagi kondisi Cynthia seperti sekarang. Setidaknya dia sudah mendapatkan ganjaran dari semua perbuatannya. Dari kehilangan anak sampai tidak bisa jalan. Dia juga masih saudara denganku'' jawab Rania.
''Trus bagaimana dengan om Gunawan dan kak Radit tentang semua ini?'' tanya Sisi.
''Mereka memyerahkan semua ini kepadaku. Karna korbannya kan aku'' jawab Rania.
''Kamu selalu baik seperti biasanya. Bicara soal kak Radit. Sebenarnya aku ingin protes terhadapnya'' kata Sisi sewot.
''Hhmm, masalah apa?'' tanya Rania heran. Dia memang tidak tahu masalah apa yang dibicarakan Sisi.
''Kak Radit sebagai bos kak Davin terlalu egois. Dia tidak membolehkan aku dan kak Davin menikah duluan kalau kalian belum menikah'' jelas Sisi sewot.
''Haha'' Rania tertawa mendengarnya.
''Kamu malah tertawa. Sebaiknya kamu tanyakan kenapa dia se egois itu jadi bos'' Sisi cemberut.
''Iya, ntar aku tanyakan. Emang kamu dan kak Davin sudah ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat?'' tanya Rania.
''Hmm belum, karna orang tuaku masih diluar negeri. Tapi setidaknya kak Radit tidak membuat pernyataan seperti itu. Mana tahu kami ingin cepat menikah. Sedangkan kalian tidak tahu kapan akan menikah. Iya kali kami harus menunggu kalian sampai bertahun-tahun'' ucap Sisi.
''Iya bawel, kalau kamu mau nikah ya nikah aja. Urusan kak Radit biar aku yang urus. Kamu bilang saja sama kak Davin seperti itu'' ujar Rania.
''Makasih ya, kamu memang sahabat terbaikku. Kapan kamu tidur diapartemenku lagi. Aku kangen masakannmu'' kata Sisi.
''Lain kali kalau ada waktu. Untuk sekarang aku ingin menghabiskan waktu bersama keluarga baruku. Ntar kalau sudah nikah aku pasti ikut suami. Kasihan ayah hanya sebentar denganku'' jelas Rania.
''Sama aku gak kasihan?'' tanya Sisi.
''Hehe, kamu masih punya kak Davin'' jawab Rania.
''Tapi dia selalu sibuk, sekarang aja kami sangat susah untuk bertemu''
''Bagaimana kalau akhir pekan kita pergi main'' hibur Rania.
''Serius kamu ada waktu akhir pekan? Apa kamu tidak ada janji sama kak Radit'' tanya Sisi
''Tidak'' jawab Rania.
''Ok, tidak terasa semua berubah dalam beberapa bulan. Sekarang kamu sudah menjadi anak dari seorang pemilik perusahaan. Bukan sopir lagi''
''Iya, aku juga tidak menyangka akan mengalami perjalanan hidup seperti ini'' jawab Rania.
Mereka mengobrol sambil mengenang masa-masa lalu. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Rania kemudian pamit pulang dan mereka berjanji akan bertemu akhir pekan.
Sore hari Rendi pulang dengan mengunakan motor antiknya. Kebetulan hari ini Rendi mau membeli kaca spion untuk motor antiknya. Makanya hari ini dia kekantor membawa motor tersebut.
''Huft, sial padahal sudah capek-capek ngumpulkan uang untuk membelinya. Malah dijual kepada orang lain. Dia tidak tahu apa kalau mengumpulkan uang penuh perjuangan antara hidup dan mati. Tau gini aku pakai dulu uang mama. Nasibmu tong tidak bisa punya kaca spion baru yang antik. Padahal kaca spion itu sangat cocok untukmu'' omel Rendi sambil meninggalkan tempat tersebut.
Diperjalan pulang Rendi masih dengan suasana hati yang kesal. Sehingga dia tidak melihat orang hampir ditabraknya. Untuk Rendi cepat mengerem motornya.
''Kalau jalan lihat-lihat. Anak kecil seharusnya jam segini dirumah tidak berkeliaran dijalan'' omel Rendi.
''Siapa yang anak kecil sih om. Biar begini saya sudah kuliah loh walaupun baru semester satu. Dan satu lagi kenapa om yang marah-marah padahal om yang mau menabrak saya. Om mau saya laporkan membawa motor ugal-ugalan dijalanan'' kata cewek itu tidak kalah galaknya.
''Hei enak saja saya dipanggil om-om. Orang saya ganteng tiada duanya. Lagian siapa yang bawan motor ugal-ugalan. Kamu tidak lihat motor saya yang antik ini jalannya pelan. Kalau sempat kencang mungkin kamu sudah jadi ondel-ondel'' jawab Rendi.
''Cih, gantengan om yang didalam mobil itu lagi'' kata cewek itu melihat kearah mobil lewat. Rendi juga melihat kearah sana ternyata yang lewat Radit. Dia tidak melihat Rendi disana karna fokus menyetir.
''Dimana-mana kak Radit selalu terdepan'' batin Rendi.
''Hey anak kecil, kecil-kecil mulutmu sepedas cabe rawit. Siapa namamu'' tanya Rendi.
''Namaku Butik om'' jawabnya
''Haha, namamu seperti toko baju'' ledek Rendi sambil tertawa.
''Om tahu tidak kepanjangan Butik adalah Bunga cantik''
''Tapi gak ada cantik-cantiknya'' ucap Rendi lagi.
''Setidaknya aku imut, beda dengan om udah tua jomblo lagi, haha'' ledek Butik.
''Kok tahu, kamu tukang ramal ya'' tanya Rendi.
''Bukan, tapi tukang kibul'' jawab Butik.
''Hey kenapa kamu belum pulang juga. Apa orang tuamu gak cemas anak kecil masih berkeliaran dijam segini'' ucap Rendi.
''Saya lupa bawa dompet, jadi gak ada uang untuk ongkos pulang. Bagaimana kalau om antar saya pulang'' katanya.
''Kamu tidak takut kalau saya apa-apakan?'' tanya Rendi.
''Tidak'' jawabnya santai.
''Kenapa?'' tanya Rendi.
''Karna kelihatannya om bodoh'' jawab Butik lagi.
''Apa? kamu minta dijitak ya. Lebih baik kamu pulang sendiri aja'' kata Rendi sewot sambil menaiki motornya.
''Tunggu, om tega ninggalin saya disini sendirian'' Butik memelas. Rendi jadi tidak tega meninggalkannya.
''Tadi kamu juga sendirian'' jawab Rendi lagi.
''Tapi sekarang saya bersama om. Kalau om mau antar saya. Akan saya kasih imbalan. Sepertinya om suka barang antik. Papa saya kolektor barang antik. Dirumah penuh dengan barang antik miliknya'' bujuk Butik. Rendi berpikir.
''Apa ada kaca spion antik untuk motor saya ini?'' tanya Rendi.
''Kebetulan sekali, papa baru membelinya dua hari lalu'' jawab Butik.
''Ok, let's go'' kata Rendi senang.
Mereka segera meninggalkan tempat tersebut. Menuju rumah Butik.