
Hari pernikahan Radit dan Rania pun tiba. Acara mereka dilaksanakan di hotel paling mewah di Jakarta. Walaupun Rania lebih suka pesta pernikahannya sederhana saja. Tapi kedua keluarga berkata lain. Apalagi ini penikahan anak pertama dari masing-masing keluarga.
Rania berada disalah satu ruang untuk make up dan ganti gaun. Dia ditemani sama Sisi. Setelah semua selesai MUA meninggalkan mereka.
''Kamu hari ini terlihat luar biasa cantiknya Ran. Walaupun makeupmu terlihat natural. Apalagi hari-hari biasa kamu jarang berdandan. Sekarang orang-orang pasti pangling melihatmu. Terutama kak Radit bisa langsung berhenti jantungnya melihatmu'' puji Sisi panjang lebar karna senangnya.
''Huss, jangan sampai jantung kak Radit berhenti bisa jadi janda aku dihari pernikahan'' jawab Rania.
''Haha, kalau janda tinggal cari yang lain. Janda perawan masih banyak yang incar'' ucap Sisi. Rania menepuk punggung Sisi yang duduk disebelahnya.
''Aww sakit'' teriak Sisi.
''Habisnya kamu mendoakan aku jadi janda. Kalau berdoa yang baik-baik kek. Mau aku doakan juga kamu batal nikah sama kak Davin?'' tanya Rania.
''Iih, jangan atuh. Kami sudah menunggu lama untuk menikah. Apalagi katanya kak Davin akan datang melamar sesudah acara pernikahan kalian'' jawab Sisi.
''Iya, aku ikut senang kalau sahabat terbaikku akhirnya menyusul untuk menikah juga'' ucap Rania. Mereka kemudian bicara sambil tertawa dan bercanda.
Rendra masuk kedalam ruangan. Dia tersenyum melihat Rania yang tampil cantik bak seorang putri hari ini.
''Kamu cantik sekali sayang'' ucap Rendra tersenyum.
''Paman sendirian kesini. Mana bibi?'' tanya Rania tersenyum.
''Bibimu sama yang lain diluar. Sebentar lagi acara pernikahanmu akan dimulai. Paman hanya mau melihatmu sebelum kamu jadi istri orang. Waktu berlalu begitu cepat. Baru kemaren rasanya kamu menangis ketika dilempar anak-anak kedalam sungai sampai akhirnya kamu trauma yang namanya sungai. Sekarang kamu menjadi wanita yang cantik dan kuat. Paman rasa kalau bundamu disini dia akan bahagia melihatmu sekarang. Tanggungjawab paman mulai hari ini akan pindah kepada suamimu. Tapi kalau suatu saat kamu merasa tidak bisa bertahan dengannya paman dengan senang hati menerimamu. Sampai kapanpun kamu tetap keponakan sekaligus putri bagi paman'' ucap Rendra dengan air mata tertahan. Hatinya sedih sekaligus bahagia melepas Rania untuk menikah.
'' Hehe, Kamu jangan menangis, keponakan paman bukan anak cenggeng'' ucapnya lagi. Rania memeluk Rendra. Dia terharu mendengar ucapan pamannya. Bagaimanapun pengorbanan pamannya selama ini begitu besar. Karna pamannya juga dia masih ada didunia ini. Sisi menghapus air mata melihat Rania dan Rendra.
Gunawan masuk kedalam ruangan Rania. Dia melihat Rania memeluk Rendra. Ada rasa haru dihatinya.
''Sekarang sudah waktunya. Ayahmu sudah datang menjemput'' ucap Rendra sambil melepaskan pelukan Rania.
''Kalau kamu mau mengantar Rania aku akan mengizinkannya. Sebenarnya kamu lebih pantas untuk itu'' ucap Gunawan.
''Tidak, tugasku sampai disini saja'' tolak Rendra.
''Paman dan ayah yang mengantarku'' kata Rania sambil mengandeng tangan Gunawan dan Rendra. Keduanya saling menatap binggung.
''Ayo'' ajak Rania. Merekapun mengiyakan kemauan Rania. Gunawan disebelah kanan dan Rendra disebelah kiri. Sedangkan Sisi membantu memegangkan gaun yang panjang dibelakang.
Ketika mereka memasuki ruang upacara pernikahan semua mata tertuju sama Rania. Semua yang hadir merasa kagum akan kecantikan yang terpancar dari wajah Rania hari ini. Sisi langsung bergabung duduk ditempat Davin. Pernikahan mereka hari ini hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat kedua belah pihak.
Rania memakai Gaun warna putih yang tidak terlalu mewah. Tapi karna kecantikannya membuat gaun tersebut terlihat elegan dan mewah. Rania berjalan menuju tempat Radit. Diapit Gunawan dan Rendra. Radit yang memakai setelan berwarna senada dengan baju Rania. Membuatnya terlihat sangat gagah dan berkharisma.
Wajahnya yang berseri memancarkan kebahagiaan. Terpesona melihat kedatang wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Bahkan dia tidak bisa berkata-kata untuk memuji kecantikan Rania.
Acara pernikahan berlangsung khidmat. Semua berjalan dengan lancar tanpa ada ganguan. Semua orang mengikuti upacara dengan tenang dan terharu. Akhirnya Rania dan Radit sah menjadi suami istri. Betapa bahagia hati Radit hari ini.
Semua proses pernikahan sudah selesai. Sekarang mereka akan melakukan sesi foto dan beramah tamah dengan kerabat yang datang. Sedangkan untuk resepsi pernikahan akan dilakukan malam hari. Semua tamu undangan dan relasi kedua perusahaan akan datang malam hari.
Untuk karyawan kedua perusahaan akan datang setelah upacara pernikahan mereka.
Sesi foto dipenuhi dengan kehebohan. Apalagi Rendi yang tidak mau kalah untuk foto berbagai macam gaya dengan Rania. Semua orang tertawa melihat tingkah konyol Rendi.
''Sudah Ren, kasihan Rania dari tadi kamu ajak foto terus'' kata Radit.
''Hanya sekali kakak ipar berpenampilan seperti ini. Sayang untuk dilewati. Mentang-mentang dia sudah jadi istri kakak. Kak Radit mau memonopolinya sendiri'' jawab Rendi. Rania hanya tersenyum melihat perdebatan kedua kakak beradik. Yang lain sudah pergi hanya Rendi yang masih tinggal untuk minta foto.
''Tapi semua karyawan sudah mulai datang. Kami harus menyambutnya dulu'' ucap Radit.
''Ya'' jawab Rendi tidak semangat. Dia kemudian bergabung dengan keluarga yang lainnya.
Sedangkan Radit dan Rania sibuk menerima ucapan selamat dari karyawan yang datang. Wajah keduanya terlihat bahagia. Walaupun terasa capek mereka tetap tersenyum ramah pada karyawan yang datang mengucapkan selamat.
Beberapa jam berlalu. Akhirnya semua karyawan sudah datang dan pergi. Rania dan Radit beristirahat dikamar hotel yang sudah disiapkan untuk mereka berdua. Nuasan untuk pengantin sangat terasa dikamar mereka dengan berbagai taburan bunga. Sedangkan keluarga yang lain juga masuk kekamar hotel mereka masing-masing. Mereka istirahat sebentar mengisi tenaga untuk acara resepsi malam ini.
''Kamu capek yank?'' tanya Radit ketika Rania sudah selesai ganti baju. Raut wajah Rania terlihat lelah.
''Iya mas, aku mau tidur sebentar. Badanku terasa capek. Ternyata menikah secapek ini. Cukup sekali ini aku menikah'' jawab Rania mulai merebahkan badannya di sofa.
''Kenapa kamu tidur disitu?'' tanya Radit heran.
''Sayang hiasan tempat tidurnya jadi rusak'' jawab Rania sambil menutup matanya. Radit mengeleng kepala mendengar jawaban Rania. Dia berjalan mendekat ketempat Rania.
Radit kemudian mengendong Rania untuk pindah keatas kasur.
''Apa yang mas lakukan?'' kata Rania terkejut. Dia tidak menyangka Radit akan mengedongnya. Radit hanya tersenyum. Kemudian dia meletakan Rania di atas kasur.
''Kenapa kamu harus memikirkan tentang hiasan ini. Ntar malam akan rusak juga'' goda Radit. Rania jadi malu. Membuat Radit gemas. Dia kemudian mendekatkan wajahnya ke Rania dan menc**mnya. Rania gelagap karna belum pernah seperti itu. Melihat Rania gelagapan Radit melepaskan c**mannya. Nafas Rania terengah-engah.
''C**m pertamaku'' ucap Rania tanpa sadar.
''Tapi sekarang jadi milikku suamimu'' ucap Radit tersenyum bahagia sambil memeluk Rania.
''Udah mas, aku mau tidur sebentar'' kata Rania.
''Hehe iya, tadi booster untuk acara nanti'' jawab Radit. Rania kembali memejamkan matanya. Radit ikut berbaring disamping Rania sambil memeluknya.