Rania

Rania
48. Sampai Di Rumah



Cynthia sampai di rumahnya. Ketika masuk dia melihat mama,papa dan kakaknya sedang duduk diruang tamu. Cynthia masuk dengan wajah kesal.


''Kamu kenapa sayang, kok cemberut gitu?'' tanya mamanya.


''Kak Radit ma, udah dua hari dia pergi ke Bandung belum juga pulang. Padahal aku pengen ketemu'' jelas Cynthia kesal.


''Emang ada urusan apa Radit ke Bandung?'' tanya mamanya.


''Karna ibu sopirnya meninggal'' jelas Cynthia sambil duduk disebelah mamanya.


''Hanya karna ibu sopirnya meninggal dia sampai rela pergi ke Bandung?'' tanya mama Nita heran.


''Itu dia yang membuat aku kesal. Sama sopir dia perhatian. Tapi aku orang yang dijodohkan dengannya dianggurin'' jawab Cynthia tambah kesal.


''Hhmm tadi pagi Om Gunawan juga pergi ke Bandung'' kata Candra kakak Cynthia.


''Kok bisa kebetulan ya?'' tanya mama Nita curiga.


''Mungkin mas Gunawan ada pekerjaan yang harus diurus di Bandung'' jelas Hendra.


''Tidak mungkin pa, setiap ada pekerjaan biasanya om Gunawan selalu bawa aku'' jawab Candra.


''Mungkin ada urusan yang mendesak. Jadi tidak memerlukanmu. Tidak semua urusan dia harus bawa kamu'' jelas Hendra lagi


''Iya mungkin pa'' jawab Candra.


''Alah mas, dari dulu kamu tidak pernah tahu dengan urusan kakakmu itu. Kamu terlalu takut dengannya. Mungkin kalau kamu lebih berani. Anak kita Candra sudah duduk diposisi ceo. Bukan hanya bawahan mas Gunawan aja'' jawab Nita sinis.


''Emang dari dulu mas Gunawan lebih bisa memimpin perusahaan daripada aku'' kata Hendra membela diri.


''Kamu aja yang terlalu takut. Mas Gunawan tidak punya anak. Kalau dia sudah meninggal siapa yang akan melanjutkan perusahaan kalau bukan anak kita. Seharusnya kamu bisa membujuk mas Gunawan memberikan sahamnya untuk Candra'' kata Nita.


Hendra hanya diam saja. Dia malas meladenin omongan istrinya. Bisa panjang kalau dia jawab. Kemudian dia pergi kekamar.


''Kalau sudah ngomongin masalah ini kabur terus'' teriak Nita marah.


''Udah ma, aku sudah senang dengan posisi sekarang. Apalagi om Gunawan sudah memberi kepercayaan kepada aku'' bujuk Candra.


''Kamu sama saja dengan papamu'' kata Nita sewot.


Tidak lama kemudian Cynthia berdiri dari tempat duduknya. Dia bersiap-siap untuk pergi.


''Kamu mau kemana?'' tanya Candra penuh selidik.


''Mau ketemu sama teman diluar'' jawab Cynthia santai.


''Kamu baru saja pulang. Sudah keluyuran lagi. Sebaiknya anak perempuan dirumah saja '' kata Candra tegas.


''Kakak tidak usah urus urusanku. Lebih baik kakak cari istri sana, biar tidak selalu mencampuri urusanku'' sindir Cynthia.


''Kamu...'' Candra mulai marah.


''Udah biarin aja dia ketemu sama temannya. Dia masih muda'' bela Nita.


''Makasih mama. Cynthia pergi dulu'' kata Cynthia sambil berjalan tanpa melihat Candra.


''Mama terlalu memanjakan Cynthia. Dia sudah besar. Seharusnya dia sudah bisa mandiri bukan manja seperti ini. Kerjanya hanya keluyuran tidak jelas seperti itu. Apalagi dia anak perempuan. Bahaya kalau sering pergi tidak jelas seperti itu'' ucap Candra.


''Mengapa dia harus mandiri. Kalau dia adalah cucu perempuan satu-satunya dari keluarga Wiratmaja. Apalagi dia juga mau nikah dengan keluarga Handoko. Jadi biarkan saja dia berfoya-foya selagi muda. Uang tidak akan habis hanya karna dia suka berfoya-foya'' jelas Nita santai.


''Susah bicara dengan mama. Kalau sempat terjadi apa-apa dengan Cynthia baru mama menyesal'' kata Candra sambil berdiri menuju kamar meninggalkan mamanya sendiri diruang tamu.


Cynthia sampai didepan sebuah bar. Ketika keluar dari mobil dia sudah ditunggu oleh seorang laki-laki. Pas berjumpa mereka saling berpelukan.


''Kenapa kamu mengajak aku kesini sayang?'' tanya Bastian.


''Aku lagi kesal, lebih baik kamu temanin aku malam ini'' ucap Cynthia manja.


''Ya udah, ayo kita masuk'' ajak Bastian sambil merangkul pinggang Cynthia masuk kedalam bar.


Sementara mobil Radit, Davin dan Sisi lewat disitu ketika Cynthia dan Bastian masuk kedalam bar. Davin secara tidak sengaja melihat Cynthia dengan laki-laki.


''Hmm, iya'' kata Radit melihat ke arah Cynthia yang masuk kedalam bar sambil dirangkul seorang laki-laki.


''Loe tidak menghentikannya?'' tanya Davin.


''Untuk apa?'' tanya Radit.


''Secara dia calon tunangan loh. Masak anak gadis mainnya di bar. Dengan laki-laki lagi'' ucap Davin.


''Bukan urusan gue'' jawab Radit cuek.


''Tapi bisa merusak citranya'' kata Davin lagi.


''Biarkan keluarganya yang mengurus'' kata Radit.


''Tapi kalau terjadi apa-apa. Nama keluarga loe akan terbawa-bawa. Karna dia adalah orang yang di jodohkan dengan loe'' ucap Davin.


Radit hanya diam saja. Tidak ada tanggapan darinya.


''Dulu mungkin aku akan berpikir untuk menghentikannya. Tapi sebelum aku tahu kalau Rania anak Om Gunawan. Sekarang sudah berbeda. Karna orang yang asli dari tali perjodohan denganku bukan Cynthia tapi Rania'' batin Radit.


''Biar aja, kita langsung saja pulang kerumah. Gue sudah capek'' jawab Radit.


''Ok bos, tapi kita antar Sisi keapartemennya'' kata Davin melirik kearah Sisi duduk. Ternyata dia tertidur. Mungkin karna sudah lelah. Davin kasihan dengan pacarnya itu. Dia kurang istirahat sejak bunda Rania meninggal.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di apartemen Sisi. Davin tidak tega membangunkan Sisi. Dia menggendong Sisi masuk kedalam apartemennya. Sedangkan Radit membantu membawakan tas yang berisi baju Sisi.


Setelah memasukan Sisi kekamarnya. Davin dan Radit langsung pergi untuk pulang kerumah Radit. Tidak butuh waktu lama mereka sampai di rumah Radit.


''Loe ngak masuk dulu?'' tawar Radit ketika sudah turun dari mobil Davin.


''Ngak, gue langsung pulang saja. Badan gue juga sangat capek'' tolak Davin.


''Ya udah, sampai ketemu besok di kantor'' ucap Radit.


Davin mengangguk, setelah itu dia meninggalkan rumah Radit. Radit langsung masuk kedalam rumahnya. Diruang tamu ada mama dan papanya lagi duduk.


''Malam ma, pa'' sapa Radit ketika sudah sampai disana.


''Kamu sudah pulang sayang'' ucap mamanya senang sambil berdiri memeluk Radit.


''Iya ma, kami baru sampai'' jawab Radit setelah mamanya melepaskan pelukan.


''Papa kapan pulang?'' tanya Radit lagi.


''Kemarin siang'' jawab papanya.


''Kakak baru pulang'' Rendi tiba disana.


''Iya'' jawab Radit.


''Trus dimana antik?'' tanya Rendi.


''Dia masih dikampungnya'' jawab Radit.


''Kapan dia ke Jakarta'' tanya Rendi penasaran.


''Belum tahu'' jawab Radit


''maksud kak Radit?'' tanya Rendi


Radit hanya diam saja. Dia juga tidak bisa menjelaskan kapan Rania akan ke Jakarta. Karna dia sendiri tidak tahu.


''Apa semua baik-baik saja?'' tanya mama Diva.


''Ada yang mau Radit ceritakan sama mama dan papa. Tapi Radit mandi dulu biar agak segaran'' ucap Radit sambil berjalan menuju kamarnya


''Kak Radit tunggu. kamu harus menjelaskannya dulu'' teriak Rendi mendesak.


Radit tidak menghiraukan Rendi, dia terus berjalan kekamarnya. Rendi agak kesal. Dia sudah menunggu-nunggu kabar tentang Rania. Bahkan dia sampai tidak fokus bekerja.