Rania

Rania
70.Mengoda



Rania membuka matanya. Yang pertama dia lihat Radit tersenyum kepadanya.


''Kamu sudah bangun?'' tanya Radit lembut.


''Sudah pak, dimana yang lain?'' tanya Rania karna hanya melihat Radit saja.


''Sisi sudah pulang. Katanya mau ganti baju sekaligus saya suruh istirahat. Kalau yang lain belum lihat dari saya datang tadi'' jelas Radit.


''Ooo,'' kata Rania. Dia ingat kalau Gunawan dan istrinya dia yang menyuruh pulang. Sedangkan paman dan bibinya juga izin pulang untuk mandi.


''Kamu makan dulu ya, biar saya suapkan'' kata Radit.


''Emang ini sudah jam berapa?'' tanya Rania.


''Sudah jam tujuh malam, waktunya kamu makan setelah itu baru minum obat'' kata Radit sambil mengambil makanan yang diantar perawat tadi untuk Rania.


''Saya bisa makan sendiri pak'' tolak Rania. Dia merasa malu kalau harus disuapin Radit makan.


''Udah, kamu jangan keras kepala. Biar saya saja yang menyuapin kamu'' paksa Radit.


Rania pasrah saja. Kemudian Radit mengatur posisi tempat tidur Rania biar dia nyaman untuk makan. Radit mulai menyuapkan Rania makan. Tapi Rania masih bengong.


''Aaa, buka mulutmu'' kata Radit. Rania dengan malu-malu membuka mulutnya. Dia mulai memakan nasi yang disuapkan Radit.


''Nah pintar, kalau kamu banyak makan. Kamu bisa cepat sehat'' ucap Radit senang


''Tapi saya tidak bisa menghabiskannya''jawab Rania. Dia memang tidak berselera makan.


''Hhmm,tapi kalau saya yang suapin pasti kamu bisa menghabiskannya'' kata Radit pede. Dia menatap Rania. Yang ditatap malah jadi salah tingkah.


''Kenapa anda seyakin itu?'' tanya Rania sambil mengunyah makananya.


''Kalau tidak habis dengan cara ini. Aku bisa pakai cara lain'' kata Radit senyum licik.


''Apa maksud pak Radit ya. Aku jadi mikir yang aneh-aneh. Lebih baik ku habiskan saja makanannya daripada dia berbuat yang aneh''batin Rania.


''Kenapa diam, ayo dimakan lagi. Atau kamu mau coba cara lain'' goda Radit.


''T-tidak, cara ini saja'' jawab Rania gugup.


Radit tersenyum, dengan telaten dia menyuapin Rania sampai mereka tidak tahu kalau Dimas datang.


''Ehm, romantisnya'' goda Dimas.


''Ee, ada kak Dimas'' jawab Rania terkejut. Dengan cepat dia tarik mulutnya yang mau menerima sendok makanan dari Radit. Dia jadi malu tapi Radit cuek aja.


''Malam Dim'' sapa Radit masih tetap menyodorkan sendok makannya. Rania terpaksa menerima.


''Malam Dit. Bagaimana kondisi kamu sekarang Ran?''tanya Dimas


''Sudah agak baikkan kak'' jawab Rania tersenyum.


''Apa dia makan dengan banyak Dit?'' tanya Dimas.


''Harus dipaksa dulu baru mau makan kalau tidak terpaksa menggunakan cara lain'' jawab Radit santai


''Maksud kamu?'' tanya Dimas penasaran


''Maksud sa...mmm'' mulut Radit dibungkam Rania dengan tanganya.


''Hehe, maksudnya saya sudah makan kak'' jawab Rania cepat. Radit masih berusaha melepaskan tangan Rania. Dimas geleng kepala melihat mereka berdua.


''Ya udah, semoga kamu cepat sehat. Setiap bertemu saya kamu selalu saja terluka'' ucap Dimas.


''Iya kak, makasih'' jawab Rania.


''Kalau begitu saya keruangan pasien lain dulu. Jangan lupa minum obatnya'' kata Dimas.


''Iya kak'' jawab Rania lagi. Dimas melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Rania.Dia berhenti pas sampai didepan pintu dan membalikan badannya.


''Kamu cantik kalau tidak pakai kacamata'' kata Dimas tersenyum sambil keluar dari ruangan Rania.


''Aaa'' kata Rania benggong sambil memeriksa kacamatanya.


''Sempat-sempatnya dia mengoda kamu'' kata Radit sewot melihat kepergian Dimas


''Mana kacamata saya pak?'' tanya Rania baru sadar dia tidak pakai kacamata.


''Trus gimana dong'' rengek Rania.


''Ntar aku suruh Davin buatkan yang baru. Biar tidak ada yang mengoda kamu lagi'' jawab Radit masih sewot.


'' Anda kenapa sewot gitu'' tanya Rania penuh selidik.


''Aku gak sewot kok'' jawab Radit membuang muka.


''Lihat sini, beneran anda tidak sewot?'' goda Rania. Radit kemudian melihat kearah Rania. Mata mereka beradu. Lama mereka saling menatap. Dag dig dug bunyi jantung mereka. Waktu seakan berhenti.


''Iya aku sewot, cup'' kata Radit sambil menc**m pipi Rania.


Rania tersentak pipinya dic**m tiba-tiba sama Radit. Dia jadi gugup. Kini jantungnya malah tambah tidak karuan. Sedangkan Radit hanya tersenyum melihat tingkah Rania.


''Anda kenapa...'' kata Rania terpotong


''Sekarang minum obat dulu ya'' potong Radit sambil mengambil obat dan air minum untuk Rania.


''Tapi...''


''Tapi apa? Kamu mau lagi?'' goda Radit centil.


''Tidak, saya mau minum obatnya sekarang'' jawab Rania cepat. Kemudian Radit memberikan obat Rania.


''Setelah minum obat, boleh tambahan ekstra kok'' kata Radit lagi.


''Tidak, saya mau langsung tidur'' jawab Rania cepat.


''Benaran?'' tanya Radit mendekatkan wajahnya.


''Iya'' jawab Rania sambil memalingkan wajahnya. Sudah seperti kepiting rebus wajah Rania yang terus digoda Radit.


''Ya udah, kamu sekarang istirahat'' ucap Radit tersenyum. Dia kemudian mengembalikan posisi tempat tidur Rania.


''Makasih ya pak'' ucap Rania setelah Radit kembali duduk.


''Untuk apa?'' tanya Radit pura-pura tidak tahu.


''Untuk semua yang anda lakukan kepada saya'' jawab Rania sambil tersenyum.


''Berarti ada hadiahnya dong'' goda Radit sambil tersenyum nakal.


''Hmm, saya serius loh pak'' jawab Rania.


''Saya juga serius'' kata Radit lagi.


''Ya sudahlah, saya mau tidur aja'' kata Rania sewot.


''Hehe, jangan sewot gitu. Saya hanya bercanda'' kata Radit.


''Oh ya, saya ingat sebelum pingsan. Pak Radit teriak memanggil nama saya sambil menangis. Saya tidak menyangka orang seperti anda bisa menangis karna saya'' kata Rania.


''Ya bisalah, kalau kamu tahu betapa takutnya aku kehilanganmu saat itu'' batin Radit.


''Emang saya orang seperti apa?'' tanya Radit.


''Ya seperti itu'' jawab Rania.


''Maksud kamu seperti bos yang kejam'' jawab Radit.


''Hehe'' Rania tertawa.


''Senang?'' kata Radit.


''Hehe, tidak pak. Oh ya pak tadi pak Gunawan dan istrinya kesini'' kata Rania serius.


''Trus?'' tanya Radit.


''Saya mengusirnya, paman Rendra jadi marah kepada saya. Apa saya salah?'' tanya Rania sedih.


''Hmm, sebenarnya saya yang memberi tahu om Gunawan kalau kamu sudah siuman. Saya tidak tahu mau bilang apa. Tapi yang saya tahu om Gunawan dan tante Nella sangat mencemaskanmu. Bahkan ketika dia tahu kamu kekurangan darah. Tanpa ragu sedikitpun dia mendonorkan darahnya untukmu. Bahkan dia bilang akan memberikan semua darahnya asal kamu bisa selamat. Mereka berdua juga menjagamu selama kamu koma. Kakekmu juga datang pas malam kecelakaan itu. Kalau menurut saya lebih baik kamu mulai membuka hati untuknya. Sesalahnya dia, Dia tetap ayahmu. Tidak ada yang bisa memungkiri itu. Sekarang lebih baik kamu terima dia dulu. Mencoba untuk menjalani hidup bersama seperti keluarga. Apalagi kita harus tahu dalang dibalik kejadian dua puluh lima tahun lalu'' jelas Radit.


Rania hanya terdiam mendengar kata-kata Radit. Dia ingin juga mengakhiri semuanya.