
Mereka sampai dirumah. Rania merasa perutnya agak mual. Dia langsung berlari kekamar mandi yang ada dilantai bawah. Rania mulai memuntahkan semua makanan yang dimakannya ke wastafel kamar mandi. Radit yang melihat Rania muntah jadi panik dan cemas.
'' Sayang, kita kerumah sakit saja ya'' ajak Radit. Dia tidak tega melihat Rania seperti itu.
''Gak mas, aku gak apa-apa'' jawab Rania setelah selesai muntah.
''Gimana gak apa-apa. Kamu muntah kayak gitu'' ucap Radit.
''Serius mas, paling dibawah istirahat besok pasti baikan'' jawab Rania.
''Ya udah, kita kekamar dulu. Apa kamu sanggup jalan?'' tanya Radit.
''Sanggup'' jawab Rania. Mereka kemudian naik keatas menuju kamar. Radit memapah Rania. Dia takut Rania terjatuh ketika menaiki tangga.
Sampai dikamar Rania langsung merebahkan badannya di tempat tidur. Radit kemudian mengambil baju tidur Rania dan membantunya menganti baju. Selesai ganti baju Rania berencana tidur. Sedangkan Radit pergi ganti baju diruang ganti.
Baru mau tidur perut Rania mual lagi. Dia berlari kekamar mandi. Radit yang sedang menganti bajunya langsung berlari kearah kamar mandi. Dia melihat Rania masih mual-mual di wastafel walaupun tidak ada yang mau dikeluarkan.
''Sayang, kita kerumah sakit yuk'' bujuk Radit. Rania geleng kepala. Dia kembali ketempat tidur diikuti Radit. Rania mulai berbaring ditempat tidur. Badannya agak panas.
Radit ikut juga tidur disamping Rania sambil memeluknya.
''Mas kamu pakai sampo apa sih?'' tanya Rania.
''Sampo yang biasa mas pakai. Emang kenapa?'' tanya Radit heran.
''Rambut mas bau sekali. Aku gak suka baunya'' jawab Rania mulai memencet hidungnya.
''Aaa, kamu kok aneh sih Yang. Biasanya kamu suka sekali dengan bau sampo yang mas pakai'' ucap Radit heran melihat sikap Rania.
''Sekarang mas tidur disofa aja. Aku gak tahan bau rambut mas'' rengek Rania.
''Iya, iya. Kamu gak perlu nangis. Ntar kamu makin sakit'' jawab Radit sambil pindah kesofa yang tidak jauh dari tempat tidur mereka.
Rania mulai tidur. Mungkin karna capek habis muntah. Dia langsung terlelap. Radit yang melihat Rania sudah tidur mendekat ketempat tidur. Dia menatap wajah Rania yang damai saat tidur.
''Kenapa kamu aneh sekali hari ini yang. Padahal trauma pasca penculikanmu baru saja sembuh. Sekarang kamu malah gak suka dengan bau sampoku. Apa penyakit Rania tambah parah ya. Kata psikiater dia sudah sembuh'' gumam Radit.
Radit kembali kesofa untuk tidur. Dia tidak mau menganggu tidur Rania. Apalagi melihat Rania yang muntah-muntah membuat Radit iba.
Hari sudah pagi, Radit terbangun dilihatnya Rania masih tidur. Radit kemudian naik ketempat tidur dan memeluk Rania. Membuat Rania terbangun.
''Pagi sayang'' ucap Radit ketika Rania membuka mata.
''Hmm, mas kenapa tidur disini?'' tanya Rania.
''Emang mas gak boleh tidur disamping kamu. Semalaman mas tidur di sofa. Badan mas sakit semua'' ucap Radit.
''Boleh, tapi mas harus ganti sampo dulu'' jawab Rania.
''Iya, ntar mas beli sampo yang lain'' ucap Radit.
''Ya udah mas mandi sana. Bukannya mas pagi ini ada meeting penting'' kata Rania.
''Hmm, tapi mas masih mau memelukmu. Semalam tidak memelukmu rasanya ada yang kurang'' jawab Radit.
''Jangan mengombal mas. Udah sana mandi. Biar aku siapkan sarapan untuk mas'' ucap Rania.
''Kamu disini saja. Hari ini kamu gak usah kekantor dulu. Kamu istirahat dirumah aja. Ntar sarapan biar bik Inah yang antar kekamar. Janji kamu gak kemana-mana'' perintah Radit.
''Iya, lagian badanku juga masih lemas'' jawab Rania.
Radit mencium kening Rania sebelum dia pergi kekamar mandi. Selesai mandi Radit melihat Rania sudah tertidur lagi. Dia bersiap-siap mau kekantor.
''Mana Rania sayang?'' tanya Diva ketika tidak melihat Rania.
''Dia dikamar ma. Badannya masih kurang sehat. Jadi Radit suruh saja istirahat. Sekarang dia masih tidur. Oh ya bik nanti antar sarapan Rania kekamar saja ya'' ucap Radit sambil duduk.
''Baik tuan'' jawab bik Inah.
''Kakak ipar sakit kak?'' tanya Rendi.
''Iya'' jawab Radit mulai sarapan.
''Kenapa gak dibawa kerumah sakit saja?'' tanya Surya.
''Rania gak mau pa. Katanya dibawa istirahat sehari saja udah sembuh. Radit juga cemas tapi mau gimana lagi. Pagi ini kami ada meeting penting dengan klien'' jawab Radit.
''Kamu gak usah cemas. Biar mama yang jaga Rania. Kalau ada apa-apa mama akan hubungi kamu'' ucap Diva.
Mereka menyelesaikan sarapan. Radit dan Rendi langsung pergi kekantor mengunakan mobil Radit.
Rania terbangun menjelang siang. Dilihatnya ada sarapan diatas meja yang diantar bik Inah. Tapi Rania malah tidak selera melihat makanan tersebut.
Rania masih mengingat kopi yang diminum Radit. Dia ingin sekali minum kopi. Tapi maunya kopi yang ada di dekat kantor Radit. Dimana Radit sering membeli kopi disana.
Rania beranjak dari tempat tidurnya dan masuk kekamar mandi untuk mandi. Setelah mandi Rania berganti baju untuk pergi keluar.
Rania turun kelantai bawah. Tidak ada siapa-siapa disana. Rania pergi kedapur dan ada Bik Inah yang sedang menyiapkan makan siang.
''Bik kalau mama nanya bilang saya keluar sebentar ya'' ucap Rania.
''Apa non sudah sehat?'' tanya bik Inah.
''Udah, saya gak apa-apa. Saya pamit ya bik'' jawab Rania.
''Iya non'' jawab bik Inah.
Rania pergi menggunakan taksi online. Dua puluh menit kemudian dia sampai di tempat orang menjual kopi yang tidak jauh dari kantor Radit. Ketika Rania mau memesan kopi dia melihat mobil Radit berhenti disana. Spontan Rania bersembunyi di bawa meja yang tidak jauh dari tempat dia pesan kopi.
''Hmm, kenapa aku sembunyi disini? Tapi kalau ketahuan pasti mas Radit marah. Bukannya dia menyuruhku istirahat dirumah'' batin Rania
Tapi tiba-tiba Rendi ikut juga sembunyi didekat Rania.
''Rendi'' bisik Rania terkejut.
''Kakak ipar ngapain disini?'' tanya Rendi berbisik juga.
''Kamu sendiri ngapain disini dan pakai sembunyi segala?'' tanya Rania berbisik.
''Ada kak Radit. Tadi kak Radit pesan agar aku tidak kemana-mana. Karna ngatuk dan boring aku pergi kesini beli kopi. Kakak ipar ngapain disini?'' tanya Rendi berbisik.
''Ekhm'' dehem Radit. Mengejutkan Rania dan Rendi. Ketika Rania mau berdiri dia tidak sadar kalau sedang bersembunyi di bawah meja.
''Aww'' teriak Rania ketika kepalanya terbentur meja. Rendi menahan tawanya melihat Rania.
''Kamu gak apa-apa sayang'' tanya Radit cemas melihat Rania kesakitan.
''Lagian kenapa kakak mengejutkan kami sih?'' tanya Rendi.
''Harusnya aku yang nanya. Kenapa kalian sembunyi disini. Bukannya kamu aku suruh dikantor menyelesaikan laporan. Kok kamu ada disini?'' tanya Radit agak marah sama Rendi.
''Aku ngantuk kak. Jadi aku kesini mau beli kopi'' jawab Rendi sambil tersenyum.