
Sementara dirumah Hendra, Nita uring-uringan. Sejak suaminya pulang kerumah dia bersikap dingin dan cuek kepadanya. Bahkan terkesan menghindari Nita. Siang hari Hendra memilih pergi keluar dari pada dirumah. Dia pulang kerumahnya hanya untuk menjaga hati Candra agar tidak sedih melihat keadaan orang tuanya. Kalau bukan bujukan Candra, Hendra enggan untuk pulang kerumahnya.
Pagi ini setelah sarapan Hendra juga langsung pergi meninggalkan rumah. Nita tidak tahu kemana dia pergi. Karna setiap dia bertanya Hendra tidak pernah menjawab. Hendra juga mengabaikan Cynthia sehingga membuatnya terus menyalahkan Nita atas perubahan sikap Hendra kepadanya.
Nita mengantar sarapan kekamar Cynthia. Karna dia tidak ikut sarapan pagi ini. Nita membuka pintu kamar Cynthia. Dilihatnya kamar Cynthia sangat berantakan. Sejak kecelakaan yang menyebabkan kakinya lumpuh emosi Cynthia sering tidak stabil. Dia sering meluapkan kemarahannya kepada benda-benda yang ada dikamarnya. Apalagi sejak dia juga tahu kalau Hendra bukan papa kandungnya. Dia tambah emosi bahkan sekarang juga membenci Nita.
''Sayang kamu sarapan dulu ya'' bujuk Nita melihat Cynthia duduk dikursi roda sambil menatap keluar.
''Untuk apa mama peduli denganku. Biarkan saja aku mati. Hidupku sudah tidak berarti lagi. Sekarang aku bukan anak papa. Apa yang bisa aku harap dari hidup dengan kelumpuhan ini'' jawab Cynthia dingin.
''Mama mohon nak, kamu harus kuat dan menerima semua ini. Mama yakin papamu butuh waktu untuk menerima semua ini. Dia akan kembali seperti dulu lagi'' bujuk Nita.
''Hah, mama yakin papa akan seperti dulu lagi. Mama kira aku tidak tahu kalau papa bahkan sudah tidak menganggap mama sebagai istrinya'' ejek Cynthia.
Nita terdiam, dia tidak bisa menjawab kata Cynthia. Semua yang dikatakannya kenyataan. Hendra bahkan memilih pisah kamar darinya.
''Kenapa mama diam? mama tidak bisa jawab. Kenapa mama yang berbuat dosa tapi aku yang menanggungnya. Kalau sampai aku diusir dari rumah ini. Semua adalah salah mama. Aku yang dari kecil sudah terbiasa hidup mewah dibawah nama Wiratmaja. Gara-gara mama semua hancur seketika. Aku tidak akan pernah memaafkan mama'' ucap Cynthia marah.
''Tidak sayang, kamu tidak akan pernah diusir dari keluarga ini. Mama akan melakukan semuanya untukmu'' kata Nita.
''Untuk pengobatan kakiku saja papa sudah tidak peduli. Apalagi yang lainnya'' ucap Cynthia.
''Mama akan bicarakan masalah pengobatan kakimu sama Candra. Mama yakin dia pasti akan mengusahakan kesembuhanmua'' jawab Nita.
''Apa mama bisa mengembalikan semuanya sedia kala? Semua yang harusnya jadi milikku harus tetap milikku'' tanya Cynthia menatap tajam kearah Nita. Nita terdiam. Keegoisan Cynthian menurun darinya. Sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan keegoisannya itu.
''Sekarang mama keluar dari kamarku. Aku tidak mau melihat muka mama lagi. Sebelum mama merubah semuanya'' ucap Cynthia.
''Tapi sayang,''
''Keluaaar'' teriak Cynthia. Dia mulai histeris. Nita segera meninggalkan kamar Cynthia dengan mata berkaca-kaca.
Nita segera kekamarnya. Dia merasa sangat marah. Dan melempar barang-barang yang ada diatas meja riasnya. Setelah Hendra mengabaikannya sekarang Cynthia juga tidak mau bertemu dengannya.
''Semua gara-gara kamu anak Retno sialan. Andai kamu tidak datang kedalam kehidupan kami. Anakku sekarang pasti jadi putri satu-satunya dikeluarga Wiratmaja. Kamu membuat kami semua menderita dan aku akan buat kamu juga menderita'' ucap Nita marah.
Kemudian dia menelpon seseorang.
''Hallo''
''Hallo, kamu harus bantu saya'' ucap Nita tegas.
''Bantu apa?''
''Bantu saya menyingkirkan anak sialan itu. Dia sudah merebut semua hak Cynthia''
''Maaf nyonya, saya bukan bawahan anda yang bisa anda suruh seenaknya''
''Tapi kamu berada dikantor yang sama dengannya. Bukankah lebih gampang bagimu menyingkirkannya. Apalagi semua ini demi Cynthia. Demi masa depannya. Sejak mas Hendra tahu dia bukan anak kandungnya. Masa depan Cynthia sekarang hancur'' bujuk Nita.
Telepon dimatikan.
''Sial, kenapa semua tidak berjalan sesuai dengan yang aku inginkan. Tapi aku tidak akan menyerah. Tanpa bantuannya aku pasti bisa menyikirkan anak sialan itu'' ucap Nita marah sambil melempar hp keatas kasurnya.
Sementara diruangnya Rania sibuk menyelasaikan semua laporan yang disuruh ayahnya. Seminggu pertama jaka memang membantunya. Tapi setelah Rania bisa mengerjakan sendiri. Jaka pindah menjadi asisten Candra.
Rania berjalan menuju ruang Gunawan. Ditengah jalan dia berpapasan dengan Jaka.
''Pak Jaka'' sapa Rania hormat. Karna umur Jaka sudah empat puluhan. Jadi Rania sebagai yang lebih muda menghargainya.
''Iya, Anda mau keruangan tuan Gunawan?'' tanya Jaka sopan.
''Iya pak. Apa anda sudah makan?'' tanya Rania.
''Belum'' jawab Jaka.
''Bagaimana kalau anda ikut saya makan bersama ayah diruangannya. Kebetulan saya bawa banyak bekal dari rumah'' ajak Rania sambil tersenyum.
''Terima kasih buk. Tapi saya sedang ada keperluan'' tolak Jaka.
''Ya sayang sekali. Kalau gitu bisa saya minta tolong beritahu kak Candra untuk makan siang diruangan ayah sekarang?'' tanya Rania.
''Bisa buk. Kebetulan saya juga mau keruangan pak Candra'' jawab Jaka.
''Terima kasih pak'' ucap Rania senang. Kemudian dia pergi menuju ruang Gunawan.
''Anak yang baik dan sopan. Sama dengan ayahnya. Bahkan aura tuan Gunawan juga mengalir pada dirinya'' batin Jaka.
Setelah Rania pergi. Dia pun meninggalkan tempat tersebut menuju ruang Candra.
Rania sampai diruang ayahnya. Dilihatnya Gunawan juga lagi sibuk dengan pekerjaannya.
''Kita makan siang dulu yah'' ajak Rania.
''Iya, apa kamu sudah beritahu Candra?'' tanya Gunawan memberhentikan pekerjaannya.
''Sudah, tadi mau kesini ketemu pak Jaka. Rania titip pesan sama dia. Rania juga ngajaknya sekalian tapi ditolak'' jawab Rania.
''Jaka memang seperti itu. Sejak dia bekerja dengan ayah. Dia selalu menyendiri. Ayah sendiri tidak pernah tahu kehidupan pribadi maupun keluarganya. Bagi ayah dia bekerja dengan profesional semua sudah cukup. Sejak pamanmu tidak ada disamping ayah. Kepercayaan ayah kepada asisten pengantinya tidak seperti ayah percaya sama pamanmu'' jelas Gunawan.
''Apa ayah tidak ada curiga sedikitpun dengannya?'' tanya Rania.
''Selagi dia bekerja sesuai yang ayah inginkan. Masalahnya bukan urusan kita. Kita semua pasti ada rahasia yang tidak bisa kita beritahu kepada siapapun. Kalau kita baik pada semua orang balasan kebaikan itu akan kembali kepada kita'' ucap Gunawan. Rania mengannguk tanda setuju dengan apa yang ucapkan ayahnya.
Tidak lama kemudian Candra datang. Mereka mulai makan siang bersama. Sejak Rania bekerja di kantor ayahnya. Mereka selalu makan siang bersama kalau tidak ada jadwal keluar kantor. Candra merasa senang dengan semua itu. Terlebih suasana dirumahnya terasa dingin. Sehingga dia bisa melupakan masalahnya sejenak.