
Sesuai yang direncanakan malam ini Radit dan orang tuanya datang kerumah Gunawan. Rania juga memberitahu pamannya tentang pertemuan ini. Tapi pamannya menyerahkan semua kepada Gunawan. Karna semua tanggung jawab terhadap Rania diserahkan kepada Gunawan sebagai ayahnya. Kebetulan Hendra juga lagi disana. Sekalian Gunawan mengajaknya untuk menunggu kedatangan keluarga Radit.
Pukul tujuh malam Radit dan keluarganya datang. Mereka disambut langsung oleh Gunawan dan Wiratmaja serta Hendra. Sedangkan Nella dan Rania sibuk didapur menyiapkan makan malam dibantu bik Asih.
Setelah makan malam siap dihidangkan diatas meja. Rania kemudian memanggil semua orang untuk makan terlebih dahulu. Radit mengajak Rania duduk disampingnya. Tapi Gunawan menahan dan menyuruh Rania duduk disampingnya juga. Drama antara mertua dan menantu kembali terjadi. Untungnya Wiratmaja menjadi penengah. Sehingga Rania disuruh duduk disamping Nella.
Mereka memulai makan. Tapi Radit tetap menyuruh Rania mengambilkan nasi dan lauk untuknya. Begitupun dengan Rendi dia juga minta tolong agar Rania juga mengambilkan nasi dan lauk untuknya. Membuat Radit jadi sewot. Tapi yang namanya Rendi suka sekali mengoda kakaknya. Semua orang tertawa melihat kelakuan kakak beradik itu. Hanya Hendra sedikit sedih karna ingat dengan keluarganya. Melihat Hendra sedih Rania kemudian mengambilkan Nasi untuknya. Hendra merasa sangat senang dengan perlakuan Rania.
''Masakannya enak'' puji Surya.
''Semua Rania yang masak'' jawab Nella.
''Iya pa, Calon mantu kita pintar masak. Mama sudah pernah merasakan masakannya sebelum ini'' jawab Diva bangga.
''Kakak ipar is the best pokoknya'' ucap Rendi dengan dua jempol. Semua orang tertawa. Rania juga ikut senang mereka menyukai masakannya.
''Cucuku paket komplit. Radit tidak akan rugi mendapatkannya'' ucap Wiratmaja. Radit hanya tersenyum.
''Kalau kak Radit masih merasa rugi. Biar kakak ipar untuk saya saja opa'' goda Rendi. Satu tepukan mendarat dipaha Rendi. Radit yang duduk disebelahnya menepuk Rendi. Rendi hanya meringis menahan sakit.
'' Kalau makanan enak seperti ini. Sebulan setelah menikah bisa-bisa berat badan Radit bertambah'' canda Surya.
''Hehe, om bisa aja'' jawab Rania tersenyum malu. Sedangkan Radit menatap Rania dengan bangga.
''Habiskan makanannya dulu. Jangan menatap Rania terus. Nanti dia bisa luntur'' sindir Gunawan. Semua orang kembali tertawa. Radit jadi salah tingkah.
Makan malam dihiasi dengan berbagai macam cilotehan dan tawa. Hingga mereka selesai makan. Kemudian mereka kembali duduk diruang tamu. Setelah menghidangkan beberapa cemilan dan minuman Rania dan Nella ikut duduk disana. Rania kemudian duduk diantara Gunawan dan Nella.
Surya mulai menyampaikan maksud kedatangannya setelah semua berkumpul.
''Pertama saya mengucapkan terima kasih atas jamuan yang sangat istimewa malam ini. Sebenarnya maksud kedatangan kami kesini adalah untuk membicarakan kelanjutan perjodohan antara Radit dan Rania Ketahap selanjutnya'' Surya mengawali pembicaraan.
''Saya sebagai orang tua Rania hanya mengikuti apa yang putri saya inginkan. Kalau dia menyetujui saya juga akan menyetujuinya. Karna dia yang akan menjalaninya'' jawab Gunawan.
''Bagaimana menurutmu sayang?'' tanya Gunawan sambil melihat kearah Rania.
Rania menatap semua orang yang ada disana yang mengharapkan jawabannya. Terutama Radit yang menatapnya dengan penuh harap.
Beberapa saat kemudian Rania mengangguk tanda setuju. Radit merasa lega dan bahagia.
''Sepertinya Rania sudah setuju. Bagaimana kalau setelah ini kita tentukan tanggal lamarannya. Terus apakah akan tunangan dulu atau langsung menikah semua tergantung mereka berdua'' ucap Surya.
''Radit terserah Rania aja pa. Kalau Radit inginnya menikah aja langsung'' jawab Radit.
''Kakak udah tidak sabaran ya menikahi kakak ipar. Pasti takut diambil orang'' goda Rendi.
Semua tertawa. Radit hanya menatap tajam sama Rendi. Hendra terbayang ketika keluarga Radit datang kerumahnya.Semua yang terjadi tidak seperti sekarang. Bahkan Radit menolak Cynthia hari itu.
'' Bagaimana menurutmu nak?'' tanya Gunawan sama Rania.
''Sebenarnya aku tidak ingin ada acara lamaran lagi. Anggap saja sekarang ini sudah jadi acara lamaran. Terus seperti yang kak Radit bilang acara pertunangan juga tidak perlu. Semua hanya membuang-buang waktu. Langsung saja ditentukan acara pernikahannya. Dan itupun Rania harap acaranya diadakan dengan sederhana saja'' jelas Rania.
''Kakek tidak setuju dengan permintaan kamu untuk acara penikahan yang sederhana. Kamu putri satu-satunya keluarga ini. Tidak mungkin kami membuat acara penikahanmu sederhana''ucap Wiratmaja tegas. Rania hanya terdiam.
''Betul kata kakekmu. Acara lamaran dan pertunangan kalian juga tidak dibuat. Jadi untuk acara penikahan jangan sampai dibuat sederhana juga'' ucap Diva.
Rania kemudian tertunduk. Gunawan yang melihat perubahan wajah Rania kemudian bertanya.
''Apa ada alasan kamu meminta seperti itu?''
''Karna bunda tidak ada bersama kita'' jawab Rania pelan sambil tertunduk menahan air matanya. Gunawan merasa tercekat ketika mendengar jawaban Rania. Begitu juga yang lainnya. Mereka juga bisa merasakan kesedihan Rania.
''Justru karna bundamu tidak ada. Kami harus bisa membuat penikahanmu jadi megah. Sehingga bundamu bisa bahagia dialam sana melihatmu sayang'' ucap Nella sambil memeluk Rania. Air mata Rania menetes mendengar ucapan Nella. Dia juga ingin Bundanya bahagia melihat dirinya bahagia. Kemudian dia mengangguk. Semua orang merasa terharu.
''Kalau begitu kita langsungkan saja lamarannya sekarang. Kebetulan Radit sudah menyiapkan cincin untuk Rania'' ucap Surya.
Kemudian Radit berdiri menghampiri Rania. Dia mengeluarkan kotak cincin dari kantong celananya. Radit sudah memesan cincin lamaran untuk Rania jauh hari.
''Rania Anstasya Wiratmaja maukah kamu menikah dengan saya?'' tanya Radit sambil berjongkok dihadapan Rania. Rania yang merasa terharu dan bahagia tidak bisa mengucapkan kata apa-apa. Dia hanya mengangguk. Semua orang tersenyum bahagia. Kemudian Radit memasangkan cincin dijari Rania. Radit masih menatap Rania.
''Udah kembali duduk sana'' ucap Gunawan santai. Radit terkejut malu. Dengan kikuk dia kembali duduk disamping Surya.
''Karna acara lamarannya tidak ada. Seserahan untuk lamaran kami berikan ketika acara penikahan nantinya'' ucap Diva.
''Untuk pernikahan bagaimana kalau kita laksanakan satu bulan lagi. Mengingat banyaknya yang harus kita persiapkan'' ucap Gunawan.
''Tidak bisa minggu depan om?'' tanya Radit.
''Tidak, Om malah berharap satu tahun lagi biar Rania bisa lama bersama om'' jawab Gunawan santai.
''Yang sabar kak. Waktu satu bulan tidak lama'' kata Rendi.
''Mulai sekarang kamu belajar memanggil kami mama papa sama seperti Radit memanggil kami'' ucap Diva.
''Iya tan, eh ma'' jawab Rania.
''Kalau sama aku kamu juga harus ganti panggilan dong'' Radit tidak mau kalah. Rania tersenyum malu.
''Cieh gak mau kalah'' ucap Rendi.
''Kamu kenapa dari tadi berisik sih?'' kata Radit sewot.
''Karna aku punya mulut'' jawab Rendi santai.
''Iya Ran, kamu juga boleh ganti panggilan sama Radit'' ucap Diva.
''Siap nikah saja ma, sekarang panggil seperti biasanya'' jawab Rania. Semua orang setuju saja. Hanya Radit yang sedikit kecewa.
Acara temu keluarga berlanjut dengan pembicaraan santai. Betapa bahagianya hati Radit karna sebentar lagi dia akan menikah dengan Rania.