
Radit terbangun jam tujuh pagi. Dilihatnya Davin dan Angga sudah tidak ada dikamar. Kemudian dia pergi ruang tengah. Semua orang berkumpul disana untuk sarapan pagi.
''Ayo nak Radit kita sarapan dulu'' ajak paman Rendra ketika melihat Radit muncul.
Radit tidak melihat Rania disana. Kemudian dia duduk disebelah Davin. Sedangkan Sisi sibuk membantu bibi Susi di dapur.
''Dimana Rania paman?'' tanya Radit.
''Kenapa anda menanyakan kak Rania?'' tanya Angga tidak suka.
''Angga kamu tidak boleh bicara seperti itu'' tegur paman Rendra.
''Tapi yah, bos kak Rania ini sudah punya calon tunangan. Tapi dia masih saja mengangu kak Rania'' ucap Angga. Davin dan Radit hanya saling pandang mendengar ucapan Angga.
''Kalau tidak tahu apa-apa jangan banyak komentar. Trus mulai dari sekarang sampai seterusnya kamu harus menghormati nak Radit'' Tegas Rendra dengan menatap tajam Angga. Angga yang ditatap ayahnya seperti itu hanya bisa mengganguk. Dia tidak berani membantah ayahnya. Karena ayahnya akan tegas dan keras dalam bersikap.
Sisi dan bibi Susi datang membawa makanan. Setelah semua selesai dihidangkan mereka mulai sarapan.
''Ayo kita sarapan dulu. Kalau kamu ingin cari Rania lebih baik sesudah sarapan. Dia ada dimakam bundanya'' jelas paman Rendra.
Radit mengangguk tanda mengerti. Sarapan pagi ini hanya nasi goreng dan telur ceplok. Tapi karena makan bersama semua terasa nikmat.
Setelah selesai sarapan Radit pamit pergi ketempat Rania. Sedangkan Davin menunggu Sisi membantu bibi Susi membersihkan piring kotor. Baru setelah itu mereka menyusul.
Radit sampai di tempat pemakaman bunda Rania. Dilihatnya Rania sedang berjongkok disamping kuburan bundanya. Kemudian Radit menghampiri Rania.
'' Kamu lagi ngapain disini Ran?'' sapa Radit ketika sudah sampai dibelakang Rania. Rania terkejut melihat Radit sudah berdiri disana.
''Saya hanya melihat kuburan bunda pak'' jawab Rania.
''Kamu kangen sama bundamu ya?'' tanya Radit sambil jongkok disamping Rania.
''Iya'' jawab Rania sedih matanya mulai berkaca-kaca.
''Bundamu akan sedih kalau melihat kamu bersedih. Lebih baik kirimkan do'a biar dia tenang di alam sana'' hibur Radit.
''Hanya bunda yang saya punya pak. Tapi kenapa bunda pergi tidak menunggu saya datang. Itu yang membuat saya sangat sedih'' jawab Rania.
''Mungkin ini yang terbaik. Bundamu tidak pengen melihat kamu menangis sebelum di pergi. Tapi kamu masih punya paman, bibi, Angga, Sisi dan termasuk saya'' jelas Radit pede.
''Anda bukan punya saya pak. Tapi bos saya'' protes Rania sambil menghapus air mata di balik kaca matanya.
''Hmmm, anggap saja saya ini punyamu sekarang'' kata Radit seenaknya.
''Anda tahu pak. Demi melihat bunda bahagia saya selalu menuruti apapun katanya. Bahkan saya akan menahan sakit dan tidak akan menangis didepan bunda. Yang saya inginkan hanya bisa melihat bunda tersenyum, biar saya sembunyikan kesedihan selama ini. Tapi ternyata bunda lebih jago menyembunyikan dari saya. Sampai dia sakit pun saya tidak tahu. Dia tetap bersembunyi sampai dia meninggal'' ucap Rania sedih.
Radit menghela nafas mendengar ucapan Rania. Dia juga bisa merasakan apa yang dirasakan Rania.
''Itulah namanya cinta seorang ibu. Dia tidak akan pernah melihatkan kelemahan di depan anaknya. Demi melihat anaknya bahagia'' ucap Radit.
''Kamu sudah sarapan?'' tanya Radit.
''Belum, saya bisa sarapannya nanti'' jawab Rania. Kemudian Rania berdiri.
''Kamu mau pulang?'' tanya Radit melihat Rania berjalan.
''Tidak, saya mau kesana'' Rania menunjuk sebuah saung di lereng bukit. Untuk berjalan kesana mereka harus melewati pematang sawah.
''Ngapain kamu kesana?'' tanya Radit.
''Saya hanya pengen duduk saja disana'' kata Rania sambil berjalan.
''Kalau gitu saya ikut'' kata Radit.
''Ya udah'' jawab Rania.
Rania berjalan melewati pematang sawah. Kondisi sawah baru siap di bajak. Menunggu untuk ditanami. Radit mengikuti Rania dari belakang. Karna Rania sudah biasa berjalan disana dengan cepat dia melangkah. Sedangkan Radit berusaha berjalan dengan hati-hati agar tidak terjatuh. Maklum dia baru pertama kali mencoba berjalan dipematang sawah. Rania menceritakan kenangannya masa kecil disana. Dimana pamannya mengajari dia bela diri. Karna keasyikan bercerita Rania tidak tahu kalau Radit sudah tidak dibelakangnya. Sesampai di saung Rania melihat kebelakang. Dia kaget Radit tidak ada.
''Kemana pak Radit?'' tanya Rania.
Dikejauhan terlihat Davin dan Sisi sedang berdiri di sebuah pematang sawah sambil tertawa
''Waduh pak Ceo nyusep masuk sawah, haha'' ucap Davin ketika sampai ditempat Radit jatuh kedalam sawah. Dia dan Sisi tertawa melihat Radit.
''Senang loe ya gue jatuh. Bantuin dong gue naik'' kata Radit.
''Orang kota kalau tidak bisa jalan dipematang sawah jangan dipaksakan'' ucap Angga yang tiba-tiba muncul disana. Dia berusaha menahan tawa melihat Radit. Sedangkan Rania dari saung tersenyum melihat Radit. Dia merasa lucu sekaligus iba.
''Huft'' jawab Radit tidak senang.
''Mana ponselmu sayang. Kita foto Radit untuk kenang-kenangan'' kata Davin terkekeh. Sisi berusaha mengeluarkan ponselnya. Karna melihat ke arah Sisi. Davin tidak tahu kalau tangan Radit menarik kakinya ke dalam sawah. Davin hilang keseimbangan sehingga dia ikut jatuh kedalam sawah.
''Radiiitt'' teriak Davin kesal.
''Haha, ayo Si. foto kami berdua'' ucap Radit senang.
''Awas kalau kamu foto aku lempar sama lumpur'' ancam Davin ke Sisi. Melihat Davin mulai mengambil lumpur. Sisi dan Angga berlari ke arah Rania. Rania tertawa melihat tingkah. Dia bersyukur memiliki mereka disaat lagi berduka. Berkurang rasa sedihnya. Melihat Rania tertawa Radit merasa senang.
''Ini gara-gara loe, Gue jadi kotor'' ucap Davin tiba-tiba melempar lumpur kearah Radit. Radit tidak terima dilempari lumpur melempar balik Davin. Terjadilah pergulatan antara bos dan Asisten ditengah sawah. Sedangkan yang lain hanya menonton dari saung. Tidak lupa Sisi mengambil video sebagai kenang-kenangan. Jarang moment seperti ini terjadi. Dia melihat Davin dan Radit seperti anak kecil yang bermain lumpur.
Setelah puas bergulat Radit dan Davin keluar dari sawah. Mereka berjalan ke saung. Sampai disana Rania menyuruh Angga mengantar Radit dan Davin membersihkan badan disungai tidak jauh dari tempat mereka berada. Rania dan Sisi hanya menunggu disaung saja.
Sedangkan dirumah paman Rendra sedang duduk didepan rumah. Sambil menikmati kopi. Dia tidak ada rencana pergi ke ladang hari ini. Tidak lama kemudian berhenti sebuah mobil mewah tepat didepan pagar rumah sederhana itu. Kemudian keluar dua orang laki-laki yang umurnya tidak jauh dari paman Rendra. Paman Rendra terkejut melihat salah satu laki-laki yang datang
''Tuan muda'' gumam paman Rendra.