
Sejak pulang dari acara pernikahan tadi badannya Rania terasa capek. Dia memilih untuk tidur sebentar. Tapi malah tidur sampai sore. Pas dia bangun Radit tidak ada dikamar. Rania kemudian duduk namun badannya masih terasa lemas. Walaupun dia sudah tidur dalam waktu yang lama. Rania juga heran kenapa badannya gampang capek.
Radit masuk kekamar. Dia melihat Rania sudah bangun dan termenung di atas tempat tidur.
''Kamu baru bangun sayang?'' tanya Radit menghampiri Rania di tempar tidur.
''Iya mas. Tapi kenapa badanku masih capek ya. Padahal aku tidurnya lama'' jawab Rania.
''Kalau masih capek lebih baik kamu istirahat saja dulu'' ucap Radit.
''Gak mas, aku mau mandi. Biasa kalau dibawa mandi badan akan terasa segar'' jawab Rania beranjak dari tempat tidur.
''Ya udah. Mau aku temanin?'' tanya Radit.
''Gak'' Rania langsung masuk kekamar mandi. Dia mulai mandi. Tidak butuh waktu lama dia sudah keluar dari kamar mandi. Radit yang melihatnya menjadi heran.
''Kamu mandi atau cuci muka?'' tanya Radit heran.
''Ya mandilah mas. Gak lihat rambut aku basah'' jawab Rania sewot.
''Cepat amat mandinya'' ucap Radit.
''Hehe, airnya dingin'' jawab Rania.
''Kenapa gak pakai air panas sayang?'' tanya Radit heran sambil berjalan kearah Rania.
''Hmm, lupa'' jawab Rania pelan. Membuat Radit tertawa. Dia menyentil kening Rania.
''Aww, sakit mas'' ucap Rania sambil mengusap keningnya.
''Otakmu tarok dimana? Kenapa hal seperti itu bisa lupa segala'' tanya Radit.
''Didalam lemari'' jawab Rania asalan.
''Haha, pantas kamu lupa'' ucap Radit merasa lucu dengan jawaban Rania. Sedangkan Rania tidak menjawab. Dia sibuk memakai pakaiannya.
Rania merasa lebih segar setelah mandi. Perutnya terasa lapar mungkin karna Rania belum makan siang.
''Mas udah makan?'' tanya Rania.
''Udah tadi. Kamu lapar?'' tanya Radit.
''Iya. Tapi aku malas makan sendiri'' jawab Rania.
''Ya udah, ayo mas temanin. Tadi pas makan siang kamu tidur. Mama melarang mas bangunin kamu. Mungkin karna mama melihat kamu sangat capek pulang dari acara pernikahan tadi'' jelas Radit
Mereka turun kelantai bawah. Suasana sangat sepi. Rania dan Radit langsung pergi kedapur.
''Kemana orang-orang mas?'' tanya Rania.
''Istirahat dikamar masing-masing. Apalagi ntar malam kita mau ke acara resepsi pernikahan Sisi dan Davin'' jawab Radit duduk didekat meja makan.
Rania tidak menjawab. Dia hanya mengambil roti tawar. Setelah mengoleskan selai Rania langsung memakannya.
''Mas mau?'' tanya Rania sambil duduk disamping Radit.
''Gak, kenapa gak makan nasi. Bukannya kamu lapar?'' tanya Radit.
''Aku lagi gak selera makan nasi. Mas mau aku buatkan kopi?'' tanya Rania.
''Hmm, boleh. Dari pada bengong aja lihatin kamu makan'' jawab Radit.
Rania pergi kedapur membuatkan Radit kopi. Beberapa saat kemudian dia sudah membawa kopi dan diletakan didepan Radit. Dia melanjutkan memakan rotinya.
''Kelihatannya kopi mas enak'' ucap Rania melihat Radit yang sedang menyeruput kopinya.
''Tumben kamu bilang begitu. Bukannya kamu tidak suka kopi?'' tanya Radit heran melihat Rania tertarik dengan kopinya.
''Hehe, aku juga gak tahu'' jawab Rania.
Mereka makan dan minum sambil berbicara santai. Sejak pulang dari Bandung waktu mereka untuk duduk santai sangat jarang. Apalagi Radit sering lembur di kantor sejak Davin sibuk menyiapkan pernikahannya.
Rania sudah menghabiskan tiga potong roti. Dia mengajak Radit untuk kekamar. mereka mau bersiap-siap untuk pergi ke acara resepsi pernikahan Davin yang dimulai dari pukul tujuh malam.
''Bagaimana kondisimu sayang?'' tanya Diva.
''Sudah gak apa-apa ma'' jawab Rania tersenyum.
''Kakak ipar makin cantik aja malam ini'' puji Rendi.
''Hmm, lebih baik kamu cari pacar atau istri. Biar gak puji-puji Rania terus'' jawab Radit.
''Aku masih belum niat nikah...'' ucap Rendi terpotong
''Udah-udah. Kita berangkat sekarang. Kalian kalau dibiarkan berdebat. Bisa-bisa kita gak jadi kita berangkat'' ucap Diva.
Radit dan Rendi langsung terdiam. Mereka kemudian berangkat ke hotel tempat acara. Radit dan Rania pakai mobil Radit. Sedangkan Diva, Surya dan Rendi pakai mobil Surya. Dan sudah pasti Rendi yang menjadi sopirnya.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di hotel. Ketika mau parkir mobil keluarga Wiratmaja juga lagi parkir mobil mereka.
''Ayah'' panggil Rania. Gunawan melihat kearah Rania. Dia kemudian memeluk Rania. Dia merasa senang melihat putri, menantu dan Besannya. Mereka kemudian saling sapa.
''Kamu sakit nak'' tanya Rendra.
''Tidak paman'' jawab Rania.
''Tapi kok paman melihatmu agak pucat ya'' ucap Rendra lagi.
''Hmm, badanku emang agak terasa capek paman'' jawab Rania tersenyum. Dia merasa senang karna pamannya masih peka seperti dulu. Dulu Rania sering menyembunyikan kalau dia sedang sakit hanya Rendra yang bisa mengetahuinya. Semua orang melihat kearah Rendra dan Rania. Padahal tidak ada yang menyadari perubahan Rania. Tapi Rendra hanya sekali lihat bisa tahu kalau Rania sedang kurang sehat.
Mereka masuk kedalam hotel bersamaan. Nella berjalan sambil mengandeng tangan Rania. Surya berjalan sambil mengobrol dengan Rendra dan Gunawan. Candra mengobrol dengan Radit. Wiratmaja dan Hendra yang tidak datang. Susi mengobrol dengan Diva. Hanya Angga dan Rendi yang seperti orang bermusuhan.
Suasana didalam acara resepsi terlihat mewah dan meriah. Davin dan Sisi sudah berada di pelaminan. Mereka disambut oleh orang tua Sisi dan Davin serta Dimas. Setelah berbincang bincang sebentar. Lalu pergi ke pelaminan memberi ucapan selamat.
Rania dan Radit naik terakhir.
''Selamat ya'' ucap Rania. Dia memeluk Sisi yang terlihat cantik malam ini.
''Kapan kali pergi honeymoonnya?'' tanya Radit.
''Rencana besok kami langsung berangkat ke lombok'' jawab Davin.
''Bagus, lebih cepat lebih baik'' jawab Radit.
''Maksud loe?'' tanya Davin.
''Biar loe cepat masuk kerja, haha'' Radit tertawa.
''Kirain apa'' ucap Davin menepuk Radit.
''Terus jangan lupa ntar malam langsung unboxing'' bisik Radit.
''Gue gak seperti loe. Pasti malam ini berhasil'' jawab Davin sambil berbisik juga.
Rania dan Sisi heran melihat suami mereka saling berbisik.
''Apa yang dibicarakan sih kak?'' tanya Sisi.
''Kalau gak mau jawab. Ntar malam gak usah di kasih jatah Si'' sambung Rania.
''Aku setuju Ran'' jawab Sisi
Radit dan Davin mengerenyitkan kening mereka mendengar ucapan Rania dan Sisi.
''Bahaya Vin kalau istri kita sudah berkata begitu. Kamu memang belum merasakan tapi gue gak mau itu terjadi. Ayo sayang kita turun'' ajak Radit sambil tersenyum lembut.
''Besok kirim kabar kalau kamu udah mau berangkat ya'' ucap Rania.
''Iya'' jawab Sisi.
Radit dan Rania turun dari pelaminan. Mereka kemudian mengambil makanan dan bergabung dimeja Keluarga mereka.
Rania merasa kurang enak badan tidak menghabiskan makanannya. Radit yang merasa wajah Rania pucat mengajaknya untuk pulang duluan. Awalnya Rania menolak untuk pulang tapi karna kepalanya tambah pusing. Dia menyetujui Radit untuk pulang. Setelah pamit sama Sisi dan Davin mereka langsung pulang.