Rania

Rania
38. Menjaga Rania



Pemakaman telah selesai dilakukan. Paman Rania dan yang lain sudah pulang kerumah. Tapi Rania belum juga sadar dari pingsannya.


''Bagaimana kondisi Rania?'' Tanya paman Rendra ketika sudah berada di rumah.


''Masih belum sadar paman'' jawab Sisi sedih.


Dilihat Radit sibuk mengosokkan minyak kayu putih di telapak kaki Rania. Sesekali dia mendekatkan minyak ke hidung Rania. Semuanya berkumpul di kamar, menunggu Rania sadar. Beberapa saat kemudian akhirnya Rania mulai membuka matanya.


Radit sangat senang melihat Rania sudah sadar begitu juga dengan yang lain.


''Cepat ambilkan air minum untuk Rania'' kata Radit. Bibi Susi dengan cepat pergi ke dapur mengambil air minum.


''Rania, Rania'' Panggil Radit yang melihat Rania kembali menutup matanya.


''Bunda jangan tinggalkan Rania'' suara rintihan Rania terdengar lemah.


Tidak lama kemudian bibi Susi datang membawa air minum. Dengan cepat paman Rendra mengambilnya dan memberikan sama Rania.


''Kamu minum dulu ya nak. Biar kamu tenang'' Kata paman Rendra. Radit dengan sigap mengangkat kepala Rania biar dia bisa minum. Rania hanya meminum sedikit air. Setelah itu dia kembali menutup matanya.


''Biarkan dia istirahat dulu. Mungkin badannya masih lemas'' ucap Paman Rendra.


''Iya paman, apalagi Rania dari kemaren malam tidak tidur dan makan'' kata Sisi.


''Kamu juga istirahat nak Radit. Dari semalam kamu tidak tidur'' Kata paman Rendra.


''Saya disini saja menjaga Rania paman'' tolak Radit.


''Betul kata paman Rendra. Loe harus istirahat Dit. Ntar loe yang ikut sakit'' ucap Davin.


''Iya biar saya yang jaga Rania'' kata Sisi lagi.


''Ngak, saya akan tetap disini menjaga Rania'' kata Radit keras kepala.


Davin dan Sisi tidak mau berdebat dengan Radit. Mereka tahu betapa keras kepalanya Radit.


''Ya udah, kalau gitu paman dan bibi kedepan dulu. Masih banyak pelayat yang datang'' kata paman Rendra.


''Iya paman'' jawab Radit dan yang lainnya.


''Angga kamu juga ikut ayah kedepan'' ajak paman Rendra.


''Baik Yah'' kata Angga sambil mengikuti ayahnya. Sebelum pergi dia sempat melihat ke arah Rania dan Radit. Ada banyak pertanyaan dibenaknya melihat bos kak Rania sangat peduli dengan kakaknya itu.


Sekarang tinggal Radit, Rania, Davin dan Sisi di dalam kamar.


''Kalian juga pergilah istirahat. Biar saya yang jaga Rania'' ucap Radit.


''Tapi benaran loe enggak mau istirahat?'' tanya Davin.


''Gue masih kuat menjaga Rania'' ucap Radit.


''Ya udah kalau gitu. Gue mau ngantar Sisi ketempat omanya sebentar'' ucap Davin.


''Iya, pergilah'' kata Radit.


Setelah pamit Davin dan Sisi pergi keluar kamar. Sekarang hanya tinggal Radit dan Rania. Kemudian terdengar ponsel Radit berbunyi. Ternyata dari malam sudah banyak panggilan tak terjawab dari Rendi dan mamanya.


Tring tring tring. Rendi memanggil lagi.


''Iya hallo ren'' jawab Radit


''Hallo kak, Gimana keadaan antik disana?'' tanya Rendi cemas.


''Sekarang dia lagi tidur. Tadi pas pemakaman bundanya. Dia sempat pingsan'' jelas Radit.


''Kasihan sekali, pasti dia sekarang sangat sedih'' kata Rendi ikut sedih.


''Iya, semoga dia bisa melewati semua ini'' kata Radit.


''Kamu harus fokus mengurus perusahaan aja sekarang. Disini biar aku yang urus'' kata Radit tegas.


''Iyaaa'' jawab Rendi.


''Oh ya. Ntar kamu bilang sama mama mungkin aku akan beberapa hari tinggal disini'' kata Radit lagi.


''Jadi kak Radit akan lama disana?'' tanya Rendi.


''Iya tergantung situasi. Ya udah kalau gitu telepon aku matikan. Ntar malah mengangu Rania tidur'' ucap Radit. Kemudian panggilan dimatikanya.


Radit kembali ketempat tidur. Di lihatnya Rania masih tertidur pulas. Sebenarnya dia juga merasa lelah karna sejak dari Jakarta sampai sekarang tidak tidur. Kemudian Radit duduk di atas karpet dekat tempat tidur Rania. Dia merebahkan kepalanya ke atas tempat tidur sambil memegang tangan Rania.


''Kamu harus cepat kembali seperti semula. Kamu harus menghilangkan kesedihanmu. Rasanya sakit hati ini melihat kondisimu. Biarpun bundamu sudah tidak ada lagi. Tapi orang-orang disekitar sangat menyayangimu. Mulai hari ini aku akan menjagamu. Akan menjadi tempat bersadar bagimu'' guman Radit. Kemudian dia mulai mencoba memejamkan mata.


Rania mendengar semua gumaman Radit. Tapi karna masih lelah dia tidak membuka mata. Hanya air mata yang keluar ketika mendengar kata-kata Radit. Apa dia bisa berharap kepada orang yang bukan siapa-siapa baginya. Apalagi Radit sudah punya orang yang dijodohkan untuknya. Harapan itu terasa mustahil. kemudian mereka sama-sama terlelap dengan posisi Radit duduk di atas karpet dan tangannya masih mengengam tangan Rania.


Paman Rendra pergi kekamar Rania untuk mengecek keadaannya. Ketika sampai dilihatnya Rania dan Radit tertidur.


''Ternyata jarak dan waktu tidak bisa memisahkan jodoh yang sudah ditetapkan dari awal. Bahkan ikatan itu sendiri yang datang mencari, biar sekeras apapun kami memisahkannya'' gumam paman Rendra.


Paman Rendra kembali ke ruang depan. Dia tidak mau menganggu Rania dan Radit.


''Gimana keadaan kak Rania yah?'' tanya Angga ketika melihat ayahnya kembali.


''Dia masih tidur'' jawab Rendra.


''Tidak apa, kita biarkan kak Rania bersama bosnya itu?'' tanya Angga agak tidak suka. Karna dia tahu dari cerita Rania bosnya itu sudah punya calon tunangan.


''Ngak apa-apa, bos Rania kelihatannya baik'' ucap Rendra.


''Hmm, darimana ayah tahu kalau dia orang baik?'' tanya Angga lagi.


''Kamu harus percaya dengan penilaian ayahmu nak. Selama ini dia tidak pernah salah menilai orang'' kata Susi mencoba meyakinkan Angga.


''Iya buk'' jawab Angga.


Hari sudah sore, Rania terbangun dari tidurnya. Dilihat Radit masih tertidur dengan posisi duduk, kepala diatas tempat tidur serta tangannya menggengam erat tangan Rania. Rania menatap wajah Radit yang lagi tidur. Ada rasa bersyukur dihatinya. Ketika Radit ada disaat dia sedang terpuruk. Tapi dilain hal dia juga takut terlalu mengharapkan Radit.


Lama Rania memandangi wajah Radit. Kemudian dia mencoba bangun dengan pelan agar tidak menggangu tidur Radit. Rania tahu kalau Radit tidak tidur semalaman karena menemaninya. Rania mencoba turun dari tempat tidur. Ketika Angga muncul dari pintu kamar.


''Kak..'' panggil Angga terputus saat melihat Rania.


''Sstttt'' kata Rania melihat kearah Angga. Dia tidak mau suara Angga membangunkan Radit.


''Kak mau keluar?'' tanya Angga berbisik


''Iya, aku mau mandi dulu'' jawab Rania berbisik.


''Kalau gitu biar aku bantu kakak berjalan'' ucap Angga sambil berbisik.


Angga membawa Rania ke dapur. Karena disana hanya ada satu kamar mandi yang terdapat di dekat dapur.


''Tolong kamu panggilkan bibi'' kata Rania ketika duduk dikursi dekat meja makan.


''Iya kak'' kata Angga.


Tidak lama kemudian bibi Susi datang ketempat Rania.


''Ada apa nak, kamu sudah baikan?'' tanya bi Susi ketika sampai di tempat Rania.


''Rania mau mandi bik. Apa bisa Rania minta tolong bibi ambilkan handuk bunda. Rania pengen memakai handuk bunda pas mandi'' kata Rania.


''Iya bentar bibi ambilkan, kamu tunggu sebentar biar sekalian dengan baju gantimu bibi bawakan'' kata bi Susi.


Setelah bibi Susi kembali. Rania segera masuk kekamar mandi. Mungkin ini cara Rania untuk tetap merasa bundanya masih ada. Dengan memakai handuk bundanya.