Rania

Rania
44. Kedatangan Gunawan



''Tuan muda'' guman paman Rendra.


Rendra masih terpaku di tempat duduknya. Ketika melihat kedua laki-laki berjalan ke arahnya. Bahkan saking terkejutnya Rendra tidak bisa mengeluarkan suara.


''Lama tidak bertemu Rendra'' sapa salah satu laki-laki itu dengan dingin.


''Ba-bagaimana anda tahu saya disini?'' tanya Rendra gugup.


''Hah, apa yang tidak bisa saya ketahui. Apalagi hanya mencari tempat tinggal kalian'' katanya Angkuh.


Rendra diam sejenak. Dia berusaha tenang dan tidak emosi.


''Kenapa kau diam. Apa kau takut setelah saya tahu kalian tinggal disini?'' tanyanya lagi dengan menatap Rendra tajam.


'' Saya kira kemana kalian bersembunyi. Ternyata hanya kesini. Heh tempat tinggal reot. Apa Retno bahagia setelah meninggalkan saya dan tinggal ditempat reot seperti ini?'' kata laki-laki tersebut sambil berjalan masuk kedalam rumah. Bahkan Rendra belum memberi izin dia masuk. Dia adalah Gunawan suami dari Retno sekaligus ayah Rania.


Sampai didalam rumah Gunawan duduk di salah kursi diruang tamu. Dia duduk dengan angkuhnya. Rendra masuk kedalam di ikuti dengan laki-laki yang satunya. Ternyata Jaka asisten Gunawan.


''Kau boleh menunggu diluar'' kata Rendra ketika melihat Jaka ikut masuk.


''Kenapa kau melarang asisten saya masuk?'' tanya Gunawan penuh emosi.


''Kalau anda tidak mau malu. Saya harap dia menunggu di mobil saja'' ucap Rendra tegas.


''Hah, untuk apa saya malu dihadapan pasang selingkuhan seperti kalian. Seharusnya kalian yang malu dengan saya'' ejek Gunawan.


''Saya sarankan untuk dia keluar'' ucap Rendra tegas dengan menatap Jaka. Kesabaranya juga sudah mulai hilang. Jaka yang melihat suasana tidak baik. Memilih keluar dan menunggu dimobil.


''Untuk apa anda kesini?'' tanya Rendra duduk disalah satu kursi didepan Gunawan.


''Untuk melihat mantan istri dan mantan tangan kanan saya. Apakah dia bahagia hidup disini dengan selingkuhanya. Bahkan kalian sampai memiliki anak'' kata Gunawan manahan amarah.


''Cih, setelah dua puluh lima tahun. Kenapa baru sekarang anda mencari kami? Apa karna anda sudah mengangapnya meninggal?'' ejek Rendra.


''Iya, sebelum saya bertemu dengan anak kalian. Saya sudah mengangap dia meninggal'' tegas Gunawan.


''Kalau gitu, mulai sekarang anda harus tetap menganggap seperti itu'' ucap Rendra.


''Apa maksud mu. Saya hanya ingin bertemu dengan istrimu. Saya harus mengetahui alasan dia berkhianat'' kata Gunawan marah.


''Berkhianat, apa hanya itu yang ada dipikiran anda'' teriak Rendra tidak kalah marah. Dia tidak terima Retno masih dibilang penghianat.


''Trus apa lagi sebutan yang cocok untuk kalian berdua. Dua orang kepercayaan saya berselingkuh'' tatap Gunawan dengan mata merah menahan amarah.


''Sebaiknya anda pulang saja. Sebelum saya bertindak lebih dari ini. Saya masih menghargai anda karna mengingat jasa tuan besar'' kata Rendra.


''Sebelum saya melihat istri dan anak kau. Saya tidak akan pergi dari sini'' tolak Gunawan tegas.


''Jadi anda kesini hanya untuk melihat istri saya, baiklah kalau begitu'' kata Rendra berdiri. Dia memanggil Susi ke dapur.


Tidak lama kemudian Rendra dan Susi muncul. Susi terkejut melihat Gunawan diruang tamu. Dan Gunawan tidak kalah terkejut melihat Susi ART dia dulu.


''Kenapa kamu membawa Susi'' tanya Gunawan heran.


''Tidak mungkin, trus dimana anakmu?'' tanya Gunawan lagi.


''Buk tolong panggilkan anak kita'' kata Rendra sama Susi.


Susi menganguk kemudian dia keluar mencari Angga. Tidak jauh dari rumah dia melihat Angga sedang berjalan dengan yang lain menuju rumah. Susi menyuruh Angga berlari ke rumah mendahului yang lain. Kemudian Susi dan Angga masuk kedalam rumah.


''Ini anak saya Angga'' kata Rendra ketika Susi dan Angga sudah didalam.


Gunawan heran dengan yang dikatakan Rendra. Dia menyangka Rendra pasti berbohong. Karna dia yakin kalau anak dan istri Rendra bukan mereka.


''Kamu pasti berbohongkan'' kata Gunawan curiga.


''Siapa orang ini yah?'' tanya Angga penasaran.


''Buk, bawa Angga pergi dari sini'' perintah Rendra. Susi dengan cepat mengajak Angga keluar.


Ketika mereka keluar. Rania dan yang lainnya sampai di luar rumah. Susi melarang mereka masuk. Radit dan Davin mengenal suara orang yang bicara dengan paman Rendra. Tapi karna bibi Susi melarang masuk. Mereka hanya duduk diluar mendengarkannya.


''Kamu tahu yang saya maksudkan Ren?'' tanya Gunawan.


''Kalau yang anda tanya istri saya. Mereka itu adalah istri saya. Tapi kalau yang anda tanya adik dan keponakan saya...'' ucapan Rendra terhenti.


''Maksud kau?'' tanya Gunawan tidak mengerti.


''Maksuda saya kalau yang anda cari adik dan keponakan saya. Maka itu berarti anda mencari Retno dan Rania'' kata Rendra.


''Adiiikk?'' kata Gunawan penuh tanya.


''Iya Retno adalah adik yang saya cari selama ini. Bukankah anda tahu saya sedang mencari adik perempuan saya yang hilang selama dua puluh tahun'' jelas Rendra.


''Terus gimana dengan berita dan foto perselingkuhan kalian?'' tanya Gunawan binggung.


'' Lucunya, anda yang saya kenal selama ini tidak akan mudah percaya dengan berita seperti itu, tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Tega menuduh istri yang sangat mencintainya berselingkuh dengan orang kepercayaannya.Haha tuan muda anda sungguh keterlaluan'' ejek Rendra.


''Tidak mungkin...'' ucap Gunawan syok.


'' Foto yang anda lihat adalah ketika saya dan Retno mengetahui kalau kami beradik kakak. Karena terlalu senang Retno memeluk saya dan kami tidak menyaka kalau ada orang yang menjadikan foto tersebut sebagai fitnah. Kalau anda tidak percaya anda boleh menanyakan kepada Susi. Karna dia berada disana. Dan kami berencana akan memberi tahu kabar gembira ketika anda kembali dari luar kota berserta dengan kabar kehamilan Retno...'' Rendra mengambil nafas.


''Maksud kamu Retno waktu itu sedang hamil anak saya?'' tanya Gunawan


''Iya'' jawab Rendra.


Kemudian Rendra mulai menceritakan tentang musibah kebakaran yang direncanakan orang menimpa Retno. Sampai bagaimana mereka berjuang dari pembunuh bayaran yang dikirim untuk membunuh Rendra. Trus ketika Retno pergi kerumah sakit sampai mendengar ucapan Gunawan. Terakhir mereka mengunjungi Gunawan ke kantornya dengan membawa Rania, setahun setelah Gunawan pergi keluar negeri dengan harapan bisa bertemu.


Gunawan terdiam mendengar cerita Rendra. Hatinya yang selama ini dipenuhi amarah kepada Rendra dan Retno sekarang malah meras bersalah.


''Setelah itu saya membawa mereka kesini. Kalau anda bisa berpikir jernih pasti anda akan tahu kemana harus mencari saya. Karna saya pernah memberitahu anda kalau saya sudah menemui adik kandung saya. Saya akan bawa dia kesini'' ucap Rendra.


''Maafkan saya Ren, andai saya tidak terpancing emosi saya tidak akan melakukan dosa besar seperti ini'' Sesal Gunawan. Air matanya menitik tanda penyesalan.