
Hari ini Rania dan Radit memutuskan untuk pergi kekantor. Tugas baru Rania sekarang menyiapkan pakaian suaminya untuk kerja dan bantu bik Inah buat sarapan. Walaupun agak sibuk dipagi hari tapi Rania menikmati perannya sebagai seorang istri. Setelah sarapan mereka berangkat kekantor bersama. Untuk sementara Radit mengunakan sopir papanya. Sedangkan Rendi pergi menggunakan mobilnya sendiri.
'' Sayang, ntar siang kita makan siang diluar ya'' ajak Radit ketika mobil mereka sudah berjalan.
''Apa mas tidak sibuk hari ini?'' tanya Rania.
''Kalau hanya untuk makan siang bersama aku masih ada waktu'' jawab Radit.
''Ok'' jawab Rania sambil tersenyum. Hari ini Rania tampil sangat cantik. Dia tidak lagi mengunakan kacamatanya sejak mereka menikah.
''Apa kamu akan pergi kerja dengan penampilan seperti ini?'' tanya Radit mulai khawatir banyak mata laki-laki melihat istrinya. Apalagi istrinya semakin hari terlihat semakin memawan.
'' Siapa yang berani gangu aku? Apalagi aku istri seorang Raditya yang terkenal kejam sama adik sendiri, hehe piis mas'' jawab Rania sambil bercanda.
''Hmm, nanti banyak mata laki-laki menatapmu. Aku tidak suka'' ucap Radit.
''Biasanya seorang suami akan senang kalau istrinnya berpenampilan cantik. Tidak membuat malu orang disekelilingnya'' jawab Rania.
''Tapi tidak berlaku denganku. Kamu cukup cantik untukku seorang'' ucap Radit.
''Cie mas cemburu ya'' goda Rania
''Siapa yang cemburu. Aku cuma tidak mau milikku dilirik orang lain'' jawab Radit santai.
''Sama saja namanya dengan cemburu bos'' ucap Rania.
''Beda buk bos'' jawab Radit.
''Haha'' Rania tertawa. Mereka sampai di perusahaan W group. Rania turun sambil mengenakan kacamatanya. Supaya Radit tidak kepikiran dengannya. Setelah Rania turun Radit langsung menuju perusahaannya.
Rania sampai didepan ruangan ayahnya. Kemudian dia masuk kesana.
''Pagi ayah'' sapa Rania ketika sudah sampai diruang Gunawan. Dia langsung menghampiri ayahnya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
''Pagi sayang. Kenapa putri ayah sudah kekantor?'' tanya Gunawan heran melihat Rania sudah bekerja.
''Aku bosan dirumah saja'' jawab Rania.
''Apa kalian tidak ada rencana mau honeymoon? biar ayah yang belikan tiket dan bayar semuanya'' ucap Gunawan.
''Belum ada rencana yah, aku juga malas pergi kemana-mana. Kami cuma berencana ke Bandung weekend ini'' jawab Rania.
''Tapi pamanmu masih disini. Apa tidak masalah kalian berdua saja pergi kesana?'' tanya Gunawan khawatir.
''Ya gak apa-apa. Aku dengan mas Radit saja perginya. Lagian kami hanya pergi ziarah ke makam bunda'' jawab Rania.
''Iya, nanti ayah beri tahu Rendra'' ucap Gunawan.
''Ayah mau ikut?'' tanya Rania.
''Sepertinya tidak bisa. Sekarang pekerjaan ayah sangat banyak. Apalagi Candra masih membantu Angga di perusahaan Sanjaya. Tapi nanti ayah akan ikut antar kakek dan om Hendra ke Bandung. Rencananya mereka akan tinggal di sana ketika semua masalah pamanmu disini selesai. Mereka mau menikmati hidup tenang sebagai petani. Ayah jadi iri.'' jawab Gunawan.
''Emang ayah juga ingin seperti itu?'' tanya Rania.
''Iya, tapi perusahaan belum bisa ayah lepas sekarang. Apalagi kamu baru menikah. Andai kamu mau mengambil alih perusahaan ayah jadi tenang'' jawab Gunawan.
''Aku belum tentu bisa selalu diperusahaan yah. Lebih baik perusahaan dipimpin kak Candra saja. Dia juga lebih bisa mengendalikan perusahan dibandingkan aku'' ucap Rania.
''Hmm, nanti aja kita bicarakan bagaimana baiknya menurut kakekmu'' jawab Gunawan. Biar bagaimanapun semua keputusan masih di tangan Wiratmaja. Walaupun saham Gunawan termasuk yang paling banyak disana.
Setelah mengobrol Rania kembali keruangannya dan melanjutkan pekerjaan yang tertinggal.
Sementara di ruangannya Radit mulai sibuk dengan setumpuk berkas yang harus diperiksa. Davin masuk keruangannya.
''Hmm'' Radit tidak menjawab dia masih sibuk dengan lembaran kertas yang harus diperiksa.
''Apa jadi pengantin barunya tidak enak yang pak?'' tanya Davin penasaran.
''Kamu bisa diam tidak'' jawab Radit.
''Tapi saya penasaran kenapa anda sudah bekerja'' ucap Davin.
''Terserah saya mau bekerja atau tidak. Apa kamu keberatan saya datang?'' tanya Radit sambil menatap Davin.
''Kata Rendi anda hanya sehari menginap di hotel. Apa anda tidak berencana pergi honeymoon dengan istri anda?'' tanya Davin.
''Hmm, untuk sekarang kami belum ada rencana'' jawab Radit
''Kenapa?'' tanya Davin kepo.
''Kamu kok kepo sih?'' ucap Radit sewot.
''Bukan kepo pak, tapi penasaran'' jawab Davin.
''Sama aja, Rania sekarang sedang ada palang merah'' jawab Radit.
''Haha, jadi karna itu anda sudah bekerja. Ya gagal dong unboxingnya'' ledek Davin.
''Kamu bisa diam tidak?'' hardik Radit kesal melihat Davin senang diatas penderitaannya.
''Anda tidak beruntung pak'' ucap Davin sambil menahan tertawanya.
''Hmmm, oya Vin. Kamu kenal dengan psikiater yang paling bagus disini?'' tanya Radit. Dia baru ingat kalau Rania sudah tertidur bisa menedang secara tidak sadar bila tiba-tiba ada yang mendekatinya.
''Untuk siapa?'' tanya Davin
''Untuk Rania. Sepertinya dia mengalami trauma dialam bawah sadarnya pasca penculikan kemarin'' jelas Radit. Kemudian dia menceritakan bagaimana Rania menendangnya dimalam pertama mereka. Davin yang mendengar cerita Radit tidak bisa menahan tertawanya lagi sambil perutnya terasa sakit.
''Anda sungguh sial bos. Sudah Unboxingnya gagal kena tendang pula '' ucap Davin tertawa.
''Tertawa terus ntar gajinya saya potong sekalian'' ancam Radit. Davin terpaksa menelan tertawanya.
''Ntar saya cari tahu'' jawab Davin serius.
''Kamu jangan sampai cerita sama orang lain. Ini hanya antara kita berdua. Kalau sampai bocor keluar jatah honeymoonmu saya cabut'' ancam Radit.
''Jangan dong bos. Padahal minggu depan saya mau melamar Sisi. Kami juga akan menentukan tanggal pernikahan secepatnya. Saya juga pengen menyusul anda'' jawab Davin.
''Asal cerita tidak bocor dan semua pekerjaanmu selesai. Hadiah pernikahan kalian honeymoon selama seminggu. Terserah mau kemana kalian inginkan'' ucap Radit.
''Benaran bos? awas kalau bohong'' kata Davin senang dia tidak sabar untuk menunggu waktu melamar Sisi.
''Iya, kamu tahu saya tidak pernah ingkar janji'' jawab Radit.
''Makasih bos, kamu atasan yang terbaik'' puji Davin.
''Kalau menguntungkan kamu puji-puji. Coba tidak kamu sama saja seperti Rendi mangatakan saya kejam sebagai bos'' ucap Radit.
''Hehe'' Davin mengaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar ucapan Radit.
Setelah itu Davin pamit keruanganya. Dia keluar dengan wajah ceria. Radit juga ikut senang melihatnya. Selain asistennya Davin merupakan sahabatnya. Dia tidak pernah mengecewakan Radit. Apalagi sebentar lagi Davin ingin menikah. Sebagai sahabatnya dia ingin memberikan yang terbaik untuk Davin.
Radit melirik jam sudah menujukan waktu makan siang. Dia ingat janji makan siang bersama istri tercintanya. Dengan semangat dia keluar kantor menjemput Rania.