Rania

Rania
50.Kakak Yang Kejam



Rendi masuk kekamarnya. Sampai disana dia langsung duduk disofa. Hatinya masih saja kesal.


''Dulu aku tidak pernah merasakan perasaan sesuka ini dengan seorang wanita. Tapi sekarang perasaan ini malah tambah berkembang kepada antik. Maaf kak Radit selama ini aku tidak pernah membantah kamu dan selalu memgalah. Tapi untuk yang satu ini aku tidak mau mengalah'' ucap Rendi sendiri.


Rendi mengambil ponselnya. Dia ingin sekali menghubungi Rania.


''Hmmm bodohnya aku. Kenapa selama ini tidak kepikiran meminta nomornya. Bagaimana cara aku menghubungi antik. Kalau minta sama kak Radit aku malu trus belum tentu juga kak Radit mau kasih. Tapi kalau menghubungi kak Davin pasti dia sudah tidur karna baru sampai'' ucap Rendi.


Rendi bolak balik seperti setrikaan dikamar. Dia tidak menemukan cara menghubungi Rania, kemudian dia membanting ponselnya ke atas tempat tidur karna kesal. Setelah itu dia juga merebahkan badannya ditempat tidur. Karna sudah mulai ngantuk Rendi langsung tertidur.


Sementara Radit dikamarnya sedang duduk bersandar di tempat tidur. Ingin rasanya dia menghubungi Rania. Sekedar menanyakan kabarnya. Tapi dia urungkan niatnya. Mengingat Rendi juga menyukai Rania. Dia harus menjaga jarak dengan Rania mulai hari ini.


Pagi hari keluarga Radit sedang sarapan. Radit dan Rendi hanya diam saja. Cuma mama dan papanya yang bicara. Setelah selesai sarapan Radit dan Rendi pamit untuk pergi kekantor.


Rendi segera mengeluarkan motor antiknya. Dia berniat pergi kerja menggunakan motor tersebut. Melihat itu Radit menegur Rendi.


''Kamu kenapa pergi pakai motor ini. Bisa telat sampai kantor'' ucap Radit.


''Biarkan saja, Aku malas satu mobil dengan kakak'' jawab Rendi masih sewot


''Hmmm, mulai sekarang kamu akan pergi bersamaku ke kantor'' ucap Radit tegas.


''Tapi kak...'' bantah Rendi.


'' Cepat masuk, selama Rania tidak ada kamu yang gantikan dia jadi sopir'' perintah Radit.


''Hah, masak aku yang wakil ceo harus merangkap jadi sopir sih. Ya kale'' protes Rendi.


''Masuk atau aku potong gaji kamu'' ancam Radit sambil masuk kedalam mobil. Rendi tidak mau gajinya dipotong. Kalau dia menolak pasti Radit akan potong gajinya. Padahal dia mau membelikan motornya kaca spion antik. Jadi dia harus mengumpulkan uang dulu. Kalau minta sama papa dan mamanya sudah jelas tidak dikasih. Mau tidak mau Rendi mengikuti perintah Radit. Sepanjang jalan menuju kantor Rendi mengomel sudah seperti emak-emak. Radit hanya tersenyum melihat adiknya itu. Biarpun malam tadi Rendi marah samanya. Dia tidak akan bisa marah lama karna sifatnya yang seperti itu.


Sampai diparkiran kantor. Radit keluar dari mobil dikuti Rendi. Davin juga sampai bersamaan dengan mereka.


''Sudah punya sopir baru pak?'' tanya Davin sambil tersenyum.


''Aku bukan sopir kak Radit. Cuma mengantikan sampai antik datang saja'' jawab Rendi sewot.


Davin tertawa melihat Rendi. Kemudian mereka berjalan masuk ke dalam kantor.


''Radit tunggu'' panggil Gunawan tiba-tiba. Radit dan yang lain melihat kearah Gunawan.


''Om Gunawan'' ucap Radit terkejut.


''Ada yang mau om bicarakan dengan kamu'' kata Gunawan sambil berjalan ke arah Radit.


''Kami duluan ke dalam pak'' kata Davin. Setelah itu dia dan Rendi meninggalkan Radit dan Gunawan di parkiran.


''Ada apa om?'' tanya Radit.


Gunawan mencoba melihat ke sekeliling parkiran. Tapi orang yang dicari tidak ada.


''Dimana Rania?'' tanya Gunawan.


''Rania masih di Bandung om'' jawab Radit.


''Dia tidak ikut kamu pulang ke Jakarta?'' tanya Gunawan lagi.


''Tidak, katanya belum tahu kapan kembali kesini. Entah dia kembali lagi atau tidak saya tidak tahu'' kata Radit.


''Kalau menurut saya biarkan dia menenangkan diri dulu. Kalau om terus memaksanya untuk bertemu. Saya yakin om tidak akan mendapatkan apa-apa. Paling dia malah tambah benci dan menjauh dari om'' ucap Radit


Gunawan hanya diam mendengarkan kata Radit. Dia tahu apa yang di ucapkan Radit betul. Tapi hatinya sangat ingin bertemu dengan putrinya itu.


''Ya udah om, Saya kedalam dulu'' pamit Radit.


''Iya Dit'' jawab Gunawan tidak semangat. Radit melihatnya sangat kasihan. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Biar mereka saja yang menyelesaikan masalahnya.


Setelah Radit pergi. Gunawan kembali ke mobilnya. Dia meninggalkan kantor Radit. Hari ini dia tidak semangat untuk kekantor jadi Gunawan memutuskan pulang ke rumahnya.


Radit sampai diruangannya. Ternyata Rendi menunggunya disana. Dia seperti menunggu kedatangan Radit.


''Kamu kenapa duduk disini?'' tanya Radit heran.


''Aku mau tahu om Gunawan membicarakan apa?'' tanya Rendi.


''Bukan urusan kamu, sekarang kamu kembali keruanganmu'' jawab Radit sambil duduk di kursinya. Dia mulai mengecek berkas yang dia tinggalkan selama pergi.


''Pasti menyangkut antik kan kak?'' tanya Rendi lagi tanpa menghiraukan perkataan kakaknya.


Radit memberhentikan kerjannya. Dia menatap tajam kepada Rendi.


''Apa kamu tidak ada kerjaan?'' tanya Radit serius. Rendi melihat Radit mulai serius ada rasa bimbang. Tapi rasa penasaran mengalahkannya.


''Aku cuma pengen tahu aja'' jawab Rendi.


''Sekarang kita dikantor. Masalah pribadi tidak dibicarakan disini tapi dirumah. Apa pekerjaan kamu selama aku tinggalkan sudah beres semua?'' tanya Radit.


''Tapi kakak tinggal jawab aja susah amat. Sudah...'' jawab Rendi.


''Kalau begitu bahwa semua laporan yang kamu kerjakan kesini sekarang juga. Biar aku cek'' perintah Radit.


''Waduh mampus aku. Gara-gara mikirin antik, aku tidak fokus bekerja. Semua yang sudah aku kerjakan belum dicek ulang. Kalau sempat ada kesalahan bisa-bisa kak Radit marah. Ujung-ujung potong gaji. Kak Radit kejam kalau menyangkut masalah pekerjaan'' batin Rendi.


''Kok diam?'' tanya Radit.


''Hehe, tidak bisa laporannya besok aja kak?'' bujuk Rendi.


''Kenapa? Tapi kata kamu semuanya sudah selesai'' ucap Radit tajam.


''Anu kak...'' kata Rendi terputus, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


''Anu apa?'' desak Radit.


''Gimana ngomongnya ya...'' ucap Rendi.


''Jangan berbelit-belit. Kalau memang belum siap. Kenapa kamu masih disini? Pokoknya aku tidak mau tahu, sekarang kamu kembali keruanganmu. Aku mau laporannya hari ini. Kalau tidak siap hari ini gajimu aku potong lima puluh persen'' ancam Radit.


Mendengar gajinya akan dipotong lima puluh persen Rendi jadi menciut.


''Iya, iya. Kenapa kakak kejam amat sama adik sendiri sih'' jawab Rendi sewot. Dia segera meninggalkan ruangan Radit.


''Kamu kalau tidak diancam dulu pasti ngeyel seperti anak perempuan'' ucap Radit geleng kepala melihat Rendi meninggalkan ruangannya.


Radit sibuk mengecek semua berkas. Selama dia pergi pekerjaannya menumpuk. Biarpun dia sudah menyuruh Rendi menghandlenya. Tapi tidak semua pekerjaannya bisa dikerjakan Rendi. Disela bekerja Radit masih kepikiran dengan Rania. Sejak dia sampai di Jakarta dia belum pernah menghubungi Rania. Ada rasa rindu ingin bertemu dengannya.