Rania

Rania
53. Orang Tua Bangka.



''Ternyata selama ini kamu bersembunyi disini Rendra'' ucap orang yang keluar dari mobil.


Rendra tidak menjawab. Air matanya menetes melihat orang itu. Dua puluh lima tahun yang lalu dia masih kuat dan gagah. Sekarang bertemu sudah tua rentah dengan tubuh rapuh ditopang sebuah tongkat untuk berdiri. Dengan langkahnya yang gontai dia berjalan mendekati Rendra.


''Apa kamu tidak menyuruh saya masuk. Atau kamu tega melihat tubuh tua ini berdiri lama diluar?'' tanyanya lagi.


Lidah Rendra terasa keluh, bahkan untuk mengucapkan satu katapun susah. Orang yang selama ini sangat ingin dia temui sekarang berada tepat didepannya.


''Tuan besar...'' hanya itu kata yang keluar dari mulut Rendra dengan pelan. Ternyata yang datang adalah Wiratmaja papanya Gunawan sekaligus kakeknya Rania.


Rania heran melihat pamannya. Tidak biasanya paman Rendra diam tak berkutik didepan orang. Yang Rania tahu pamannya selama ini akan berani bicara kepada siapapun. Walaupun dia seorang petani lawan bicaranya pasti akan merasa tertekan kalau bicara dengannya.


''Siapa orang tua ini sampai paman begitu segan dengannya''batin Rania.


Wiratmaja melirik ke arah Rania yang berdiri benggong melihat pamannya. Dia sedikit terkejut melihat wajah Rania yang begitu mirip dengan bundanya. Kebetulan Rania sedang tidak memakai kaca matanya. Tapi dengan cepat dia menetralkan keterkejutanya.


''Ternyata kamu memang mirip sekali dengan Retno. Sangat cantik seperti pinang dibelah dua'' ucap Wiratmaja tersenyum lembut kearah Rania. Kemudian dia masuk kedalam rumah biarpun Rendra tidak mempersilahkannya. Sopir yang mengantarnya ingin ikut masuk. Tapi dengan gerakan tangan Wiratmaja melarangnya.


''Siapa dia paman?'' tanya Rania sambil menepuk pundak Rendra yang masih benggong. Dia penasaran kenapa orang tua itu tahu dengan bundanya.


Rendra tidak menjawab. Dia segera menyusul Wiratmaja masuk kedalam rumah. Karna pertanyaannya tidak dijawab Rendra mau tidak mau Rania juga ikut masuk.


Wiratmaja sudah duduk di kursi. Dia bersandar santai seolah rumah itu miliknya.


''Kenapa kamu tidak membawa saya kesini. Padahal kamu tahu saya punya cita-cita hidup dengan tenang sebagai petani ditempat seperti ini. Tapi kamu malah menikmati ketenangannya sendiri'' ucap wiratmaja lembut. Tapi Rendra masih diam sambil berdiri tidak jauh dari wiratmaja duduk.


''Kenapa kamu diam. Apa dengan bertambahnya usia daya bicaramu berkurang?'' Tanya Wiratmaja lagi.


''Maaf saya tuan'' ucap Rendra mulai mencoba bicara.


''Kenapa kamu minta maaf? Apa kamu melakukan kesalahan kepada saya?'' tanya Wiratmaja.


''Seharusnya saya yang mengunjungi anda. Tapi sekarang malah anda yang datang jauh-jauh mengunjungi saya'' ucap Rendra.


''Apa salahnya orang tua mengunjungi anaknya?'' kata Wiratmaja lembut. Rendra kembali meneteskan mata ketika mendengar ucapan Wiratmaja. Dia tidak pernah berubah. Walaupun waktu telah lama berlalu tapi sikapnya masih sama seperti yang Rendra kenal dulu.


''Tidak tuan'' jawab Rendra serak.


''Apa kamu tidak akan memperkenalkan saya kepadanya. Sepertinya dia ingin tahu siapa saya?'' tanya Wiratmaja sambil melihat Rania.


''Rania dia adalah Kakekmu'' ucap Rendra melihat kearah Rania.


Rania terkejut, ternyata orang tua ini adalah kakeknya. Dilihat Rania walaupun wajahnya sudah tua tapi tidak mengurangi kewibawaannya.


''Pantas saja paman begitu segan dengannya. Mengapa dia kesini?'' batin Rania.


''Rania nama yang indah. Apa kamu tidak mau menyapa kakekmu ini?'' tanya Wiratmaja lembut.


Tapi Rania masih tetap diam. Ketika dia mengingat rasa bencinya kepada keluarga ayahnya. Dia jadi enggan menyapa kakeknya. Rendra yang melihat Rania masih diam. Tahu kalau Rania masih menyimpan rasa benci kepada keluarga Wiratmaja.


''Hmm. Kalau bukan karna anak bodoh itu belum juga bisa membawa cucu saya pulang. Saya tidak mungkin jauh-jauh datang kesini. Dia bahkan tidak tahu kalau saya kesini. Dan sampai disini cucu saya malah tidak mau menyapa. Hati orang tua ini sangat sedih'' jelas Wiratmaja.


''Saya bukan cucu anda'' jawab Rania tegas.


''Rania...'' tegur Rendra.


''Hehe. Tidak apa-apa Rendra. Semua juga salah saya tidak mencari kalian selama ini. Dan membiarkan kalian menderita'' potong Wiratmaja sedih.


Rania masih tidak bergeming. Dia tidak terpengaruh dengan kata-kata penyesalan dari kakeknya itu. Yang dia ingat hanya penderitaan yang dialami bundanya selama ini. Dari sorot mata Rania, kakeknya tahu kalau Rania sangat membenci keluarganya.


''Rendra bagaimana kalau kamu ikut saya kembali ke Jakarta?'' tanya Wiratmaja.


''Maaf tuan, saya hanya ingin menghabiskan sisa hidup saya disini dengan istri dan menjaga makam adik saya'' jawab Rendra.


''Kalau kamu tidak ikut saya. Cucu saya yang cantik ini juga tidak akan ikut ke Jakarta'' ucap Wiratmaja. Rendra terdiam bagaimanan menjawabnya.


''Biarpun paman pergi dari sini saya akan tetap disini menjaga bunda'' jawab Rania tegas.


''Tapi kalau saya suruh Rendra menjual semua tanahnya disini gimana?'' tanya Wiratmaja.


''Saya yakin paman tidak akan mau'' jawab Rania.


''Apa kamu yakin? Bagaimana menurutmu Ren?'' tanya Wiratmaja tersenyum. Dia tahu Rendra tidak akan pernah menolak permintaannya.


''Kenapa anda harus memaksa kami. Apa semua orang kaya suka sekali memaksakan kehendaknya. Tanpa memikirkan orang lain?'' tanya Rania dengan menatap tajam ke arah Wiratmaja. Yang ditatap hanya tersenyum saja.


Rendra malah tambah pusing dengan kakek dan cucu yang sama-sama keras kepala.


''Kalau kamu mau ikut ke Jakarta. Maka paman dan tanah ini aman'' jawab Wiratmaja.


''Kenapa paman diam saja. Apa paman akan mengikuti semua yang dikatakan orang tua bangka ini?'' tanya Rania mulai emosi. Dia kehilangan kesabaran. Dia juga takut kalau sampai makam bundanya tergusur gara-gara pamannya mengikuti perintah Wiratmaja.


''Rania jaga bicaramu'' ucap Rendra tegas.


''Haha. Saya suka sebutan tua bangka darimu cucu'' kata Wiratmaja tertawa. Ternyata cucu perempuanya ini sangat keras kepala dan tidak takut dengan apapun. Mengingatkan dengan dirinya dan Gunawan ketika muda.


'' Ya, habisnya paman diam saja'' jawab Rania pelan. Wiratmaja yang melihat Rania patuh sama Rendra. Dia tambah yakin untuk membawa Rania, dia harus membujuk Rendra.


'' Bukan begitu nak. Seperti yang paman ceritakan sebelumnya. Tuan besar pernah menyelamatkan nyawa paman waktu kecil. Dia juga merawat paman sampai besar. Bagi paman dia sudah seperti orang tua kandung paman sendiri. Tapi sampai sekarang paman belum bisa membalas budinya. Jika sekarang dia meminta nyawa paman akan memberikannya. Karna itu janji yang paman ucapkan ketika dia menolong paman'' jelas Rendra lembut.


Rania hanya diam mendengar ucapan pamannya. Dia tahu kalau pamannya sudah berjanji pantang baginya mengingkari.


''Saya tidak akan minta nyawamu. Tapi yang saya minta supaya cucu saya kembali ke Jakarta'' ucap Wiratmaja.


''Kenapa anda terus memaksa saya ke Jakarta?'' tanya Rania.


''Karna kamu cucuku. Dan seharusnya kamu berada dimana kakekmu ini berada'' jawab Wiratmaja sambil tersenyum.