Rania

Rania
Aku mencintaimu



Yang dikatakan Robert benar pasti ada yang tidak beres diantara mereka. jika Stev tak mencintai Rania lagi mana mungkin lelaki itu langsung mendatangi rumahnya setelah menerima kabar jika Rania sakit, aku harus membantu mereka.


Sarah sengaja tidak keluar dan membuka pintu karena biasanya Stev langsung masuk kedalam karena lelaki itu juga memiliki kunci rumah mereka.


Setelah lama lelaki itu berdiam diri akhirnya ia memutuskan untuk kembali masuk kedalam mobil dan pulang ke apartemen. dalam perjalanan pulang ia berpapasan dengan sebuah mobil yang sangat ia kenali, karena merasa ia sama sekali belum mengantuk Stev pun memutuskan untuk mengikuti mobil tersebut sampai berhenti disebuah rumah yang selalu ia dan Robert kunjungi saat masih SMP dulu.


saat mobil itu berhenti Stev segera turun dan menghampiri Dirga yang kelihatannya agak sedikit mabuk. dengan setengah sadar Dirga menatap Stev dengan senyum yang mengembang dikedua sudut bibirnya.


"Wah wah seorang Steven Widyaja berkunjung kerumahku sungguh hal yang langka, aku sungguh merindukanmu sahabatku." ucapnya dengan sempoyongan dan ingin memeluk Stev namun lelaki itu menghindar.


"Cih sahabat! aku tak Sudi bersahabat dengan ******** sepertimu Dirga, masalah kita saja yang lalu belum selesai dan sekarang kau merebut kekasihku dasar ********." Steven memukul wajah Dirga dengan keras hingga terlihat jelas darah segar mengalir disana.


Setelah memukul Dirga, Steven segera melangkah menuju mobil namun ia menghentikan langkahnya saat Dirga meneriakkan sesuatu.


"Aku mencintainya semuanya aku lakukan, tapi dia hamil dengan lelaki lain bukan aku dan aku yang menjadi korban disini. tapi kenapa semua orang menyalahkan ku termasuk kedua sahabatku sendiri." Dirga berteriak sambil meneteskan air mata.


Stev yang melihat itu hanya bungkam karena saat ini Dirga masih dalam keadaan mabuk jadi lelaki itu menganggap apa yang dikatakan seseorang dalam keadaan mabuk itu semuanya tak benar. ia kembali melanjutkan langkahnya.


"Anes." Dirga mengucap nama itu dengan pelan, namun masih terdengar oleh Stev.


Setelah masuk kedalam mobil, pikiran lelaki itu menjadi sangat kacau lalu ia pun pulang menuju apartemen.


***


Ke esokan paginya Rania merasa perutnya seperti diaduk-aduk dan ia pun berlari kedalam kamar mandi. setelah memuntahkan semua isi dalam perutnya ia pun teringat sesuatu dan mengambil dari laci lalu ia gunakan.


Setelah lama mondar mandir karena tidak sabar menunggu hasilnya, Rania pun mengambil benda itu. dan ia tersenyum melihat hasilnya ada dua garis disana walaupun satunya belum terlihat jelas namun sudah dapat dipastikan jika sekarang ia sedang mengandung anak dari orang yang sangat ia cintai. Ia tak henti mengelus perutnya yang masih rata dengan penuh rasa cinta.


"Nanti kita beri tahu papa ya nak." ia seolah mengajak anaknya untuk bicara.


Karena tak sabar akhirnya Rania pun mandi dan bersiap akan menemui Stev di apartemen miliknya. dengan semangat yang tak biasanya dan senyum disepanjang bibirnya pun sudah menandakan jika wanita ini sedang bahagia.


Sarah yang melihat sahabatnya sudah cantik dan memakai dress selutut sepagi ini pun merasa heran, karena tak biasanya dan jikapun ingin bekerja tak mungkin karena seragam kerjanya bukan seperti itu dan ini hari wekend.


"Ra mau kemana?" tanya Sarah kepada sahabatnya itu.


"Aku akan ke apartemen Stev." ia menjawab dengan tersenyum.


Sarah pun tidak melarang karena biar bagaimanapun mereka harus tetap bersama tidak boleh berpisah.


"Oke, kamu hati-hati Ra jangan ngebut." ucap Sarah memperingati sahabat nya itu.


"Oke Sarah ku sayang." ia mencium pipi sahabatnya itu lalu melangkah keluar.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya Rania pun sampai di tempat tujuannya, sekarang ia sedang berdiri didepan pintu apartemen milik Stev dia bingung ingin mengetuk atau langsung masuk karena ia memang sering kesana dan tau pasword apartemen milik Stev. setelah ia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada sahutan dari dalam akhirnya ia pun memasukkan beberapa digit angka dan pintu apartemen pun terbuka dan ia segera masuk kedalam.


"Kok sepi, biasanya Stev sudah bangun sepagi ini." ucap wanita itu.


setelah beberapa lama bergelut dengan alat masak akhirnya nasgor buatannya pun sudah siap. ia menatanya diatas meja lalu melangkah menuju kamar Stev untuk membangunkan lelaki itu.


setibanya di depan pintu kamar ternyata kamar nya tidak terkunci dan sedikit terbuka. Rania pun masuk kedalam dan seketika ia menutup mulut saat melihat pemandangan didepannya. dia melihat Steven sedang bercumbu mesra dengan seorang gadis diatas tempat tidur namun ia tidak melihat dengan jelas muka gadis itu karena tertutupi oleh punggung Steven.


Rania menahan tangisnya dan mengurungkan niatnya untuk memberi tahu lelaki itu tentang anak didalam rahimnya. lalu dengan sengaja ia menjatuhkan tas nya dengan keras kelantai berharap Mereka tau jika ada seseorang yang melihat adegan tak senonoh mereka.


mendengar suara benda jatuh Stev pun menoleh ke asal suara dan pandangan matanya langsung menatap mata Rania. Stev langsung membenarkan tempat duduknya.


Lelaki itu sangat terkejut dengan kehadiran wanita yang saat ini masih berdiri mematung ditempatnya tapi, ia mencoba bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi. Rania melangkah maju ingin mendekati gadis yang bersembunyi dibalik punggung Stev.


"Berhenti." tiba-tiba Stev menghentikan langkahnya saat Rania sudah hampir dekat.


Rania tak peduli lagi dengan apa yang lelaki itu ucapkan, ia dengan cepat menjambak rambut wanita itu hingga wanita itu mengarahkan wajahnya ke hadapan Rania.


"Sakit Ran." ucap wanita itu sembari melihat Rania.


Rania reflek memundurkan tubuhnya ia tak tau lagi harus bicara apa sungguh ini kejutan yang membuatnya hampir jantungan. ia menatap Stev dengan menggelengkan kepala dan meneteskan air mata disana.


"Stev kamu menyakitiku." ucap Rania yang tak kuasa menahan dirinya.


Lelaki itu dengan santai nya berucap.


"Kita sudah putus dan sekarang dia kekasihku dan bukan lagi sahabatmu, jangan bicara tentang rasa sakit Ran karena kamulah penyebab aku seperti ini! kamu berselingkuh dengan Dirga jadi jangan salahkan aku jika aku pun bisa sepertimu." ucapnya yang membuat Rania menggelengkan kepala kembali.


"Aku tidak pernah menghianatimu atau berselingkuh dengan siapapun sekalipun itu dirga." ucapnya dengan nada rendah karena tak sanggup lagi untuk bicara.


dengan kasar Stev menjambak rambut Rania yang membuat pemiliknya menjerit kesakitan namun Stev tak peduli lagi dengan teriakan Rania.


"Stev kasian Rania." ucap Sasa yang berpura-pura kasian terhadap mantan sahabatnya itu.


"Aku tidak butuh kasihanmu." ucap Rania disela tangisannya.


'Plak' satu tamparan mendarat di wajah mulus Rania yang membuat Rania dan juga Sasa terkejut, karena baru kali ini Sasa melihat Stev menampar seorang wanita dan baru kali ini juga Rania ditampar oleh Stev. namun ia mencoba menahan tangisnya dengan tersenyum dan berkata.


"Aku mencintaimu Stev, jika kau berlaku kasar kepadaku sungguh aku tak peduli, bahkan jika aku mati sekalipun dalam sebuah pembunuhan, aku ingin mati ditanganmu dan kupastikan kau yang membunuh ku Stev karena aku tak Sudi jika aku mati ditangan orang lain." melirik Sasa. yang membuat tangan lelaki itu melemah dan melepaskan rambut Rania dari tangannya.


"Aku menyiapkanmu sarapan seperti biasanya, kamu makan yang teratur pastikan kamu selalu sehat." ucapnya lagi dan ingin melangkah keluar namun ia kembali menghampiri Stev.


"Apa aku boleh memelukmu? sekali saja." mohon Rania didepan Stev. lelaki itu hanya diam tak mau menjawab yang membuat Rania langsung memeluk lelaki itu, dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Aku mencintaimu."


Setelah ia rasa cukup ia pun keluar dan tersenyum menatap Stev yang kini menatap kesembarang arah.