Rania

Rania
60. Kecurigaan Candra



''Culuuuunn, kamu ngapain keluar dari mobil om saya?'' teriak Cynthia marah. Membuat semua orang disana melihat ke arah mereka.


''Anda bertanya sama saya?'' tanya Rania.


''Iya sama siapa lagi. Apa kau tidak cukup mengoda calon tunangan saya. Sekarang kau mengoda om saya juga. Ngaca, wajah jelek begini tebar-tebar pesona dimana-mana. Maunya sama yang kaya saja biarpun sudah om-om. Dasar ****** tidak tahu diri. Apa mama kau tidak mengajarkan dengan benar atau dia juga sama dengan kau suka mengoda orang kaya'' ucap Cynthia dengan wajah mengejek. Rania sudah biasa mendengar ejekan orang terhadap dirinya. Tapi ketika bundanya dibawa-bawa emosinya mulai naik. Tangannya mengepal sudah siap menampar pipi Cynthia.


Plak,


Tiba-tiba Gunawan menampar pipi Cynthia. Dia mendengar apa yang Cynthia katakan kepada Rania. Darahnya juga naik mendengar Rania di hina. Cynthia terkejut Gunawan menampar pipinya. Begitu juga dengan Rania.


''Om Gunawan, kenapa aku ditampar?'' tanya Cynthia terkejut sambil memegang pipinya dengan mata mulai berkaca-kaca. Apalagi semua orang disana melihat kearah mereka sambil berbisik-bisik.


''Jaga ucapanmu sama Rania'' kata Gunawan marah. Rania melepaskan kepalan tangannya. Sekarang dia hanya diam berdiri melihat perdebatan antara Cynthia dan Gunawan. Dia tidak menyangka Gunawan akan membelanya didepan orang.


''Om tega menampar aku hanya karena membela dia. Apa perkataan aku benar kalau om ada hubungan dengannya?'' kata Cynthia marah.


''Cynthia jaga ucapanmu'' hardik Candra yang kebetulan lewat disana. Dia melihat Gunawan menampar Cynthia. Tidak Biasa omnya itu bersikap kasar kepada mereka.


''Candra ajari adikmu sopan santun. Kalau dia masih bertingkah seperti ini jangan salahkan om bertindak kasar lebih dari ini'' ucap Gunawan tegas.


''Baik om'' jawab Candra sambil melirik kearah Rania berdiri.


''Rania ayo ikut saya keruangan'' perintah Gunawan.


''Ya pak'' jawab Rania.


Kemudian Rania mengikuti Gunawan keruangannya. Sebelum pergi dia memberi hormat sama Candra. Sekarang Rania tahu kalau Candra adalah kakak Cynthia. Berarti sepupunya. Sedangkan Candra heran melihat Gunawan membela Rania.


''Kemaren di Bandung kak Radit rela menyelamatkannya. Sekarang om Gunawan sangat membelanya. Bahkan bersikap lembut terhadapnya. Ada rahasia apa dengan perempuan itu. Aku harus mencari tahu'' batin Candra.


''Kamu ngapain disini?'' tanya Candra.


''Aku hanya pengen main kesini saja'' jawab Cynthia masih memegang pipinya yang sakit kena tamparan tadi.


''Disini bukan taman bermain. Lebih baik kamu pulang. Jangan buat ulah disini lagi'' kata Candra tegas.


''Tapi kak, Om Gunawan sangat keterlaluan menampar aku'' protes Cynthia.


''Seharusnya kamu harus memperbaiki sifat yang suka merendahkan orang. Untung tadi om Gunawan yang menampar. Kalau orang lain mungkin lebih parah. Sebaiknya kamu pulang. Jangan buat om Gunawan marah lagi'' ucap Candra.


''Tapi kak...'' Cynthia mau menjawab.


''Aku banyak kerjaan, kamu pulang saja'' potong Candra kemudian meninggalkan Cynthia.


''Awaas kamu culun sudah membuatku malu dan ditampar om Gunawan. Kamu pasti tidak akan selamat'' ancam Cynthia marah sambil meninggalkan lobi dengan perasaan kesal. Semua orang disana mulai bubar.


Rania dan Gunawan sampai di ruangan. Setelah disuruh duduk di sofa. Rania mengeluarkan map dari dalam tasnya.


''Apa kamu tidak apa-apa nak?'' tanya Gunawan. Karna dia hanya berdua saja dengan Rania disana. Jadi Gunawan bicara sebagai ayah.


''Tidak apa-apa. Saya sudah biasa dihina seperti itu. Bahkan dari kecil karena saya tidak mempunyai ayah'' jawab Rania.


''Maaf, semu gara-gara ayah'' jawab Gunawan senduh.


''Yang tidak saya terima dia menghina bunda saja juga'' kata Rania menahan emosi.


''Sekarang apa anda sudah bisa menanda tangani surat kontraknya?'' tanya Rania tanpa menghiraukan kata Gunawan. Mungkin kalau dulu dia akan senang mendengar kata-kata itu. Ketika dia lelah berjuang sendiri dan butuh seorang ayah untuk tempat bersandar baginya dan bundanya. Tapi sekarang semua tidak berguna. Bundanya sudah tiada.


''Ya bisa. Apa kamu menyukai ruangan ini? kalau kamu mau ruangan ini bisa jadi ruanganmu. Sekarang Candra yang menjadi wakil pimpinan diperusahaan ini. Candra anak om Hendra adik ayah. Umurnya lebih tua darimu setahun. Sedangkan Cynthia tadi adiknya. Umurnya lebih muda tiga tahun darimu'' jelas Gunawan sambil menanda tangani surat yang diberi Rania. Tanpa membacanya dulu.


''Apa sudah selesai pak. Kalau begitu saya pamit dulu'' ucap Rania pura-pura tidak mendengarkan kata Gunawan.


''Sudah, kenapa kamu buru-buru. Apa kamu tidak ingin disini dulu?'' tanya Gunawan


''Tidak'' jawab Rania singkat sambil memasukan map kedalam tasnya.


''Kamu hati-hati dijalan. Sekali lagi tolong beri ayah kesempatan'' ucap Gunawan berat melepas Rania pergi.


Rania tidak menjawab. Dia segera keluar dari ruangan Gunawan. Sedangkan Gunawan hanya bisa menghela nafas melihat Rania pergi. Diluar ruangan Gunawan Rania berpapasan dengan Candra. Rania memberi hormat kemudian melanjutkan jalannya.


''Tunggu'' kata Candra manahan Rania.


''Iya ada apa pak?'' tanya Rania memberhentikan jalannya.


''Ada urusan apa kamu dengan pak Gunawan?'' tanya Candra sambil tersenyum ramah.


''Saya disuruh pak Radit mengatarkan surat kontrak yang harus ditanda tangani pak Gunawan'' jawab Rania


''Tumben kak Radit menyerahkan tugas seperti ini kepada sopirnya. Biasanya hanya dia dan kak Davin yang pergi membawa surat kontrak untuk ditanda tangani om Gunawan'' batin Candra.


''Apa sudah selesai?'' tanya Candra.


''Sudah pak, kalau begitu saya pamit kembali kekantor'' jawab Rania.


''Ya'' jawab Candra. Dia melihat Rania sampai menghilang dari pandanganya. Tidak ada ke istimewaan dari Rania yang dia lihat ketika mereka bicara tadi. Candra jadi binggung apa yang membuat Radit dan Gunawan memperlakukan Rania berbeda.


''Ternyata Candra lebih ramah dari adiknya Cynthia. Apa gen mereka berbeda ya. Sifat mereka jauh berbeda'' batin Rania.


Kemudian Rania meninggalkan perusahaan W. Ketika melewati lobi banyak orang melihat kearah dia. Mungkin karna kejadian tadi. Sehingga orang-orang bertanya siapa Rania. Tapi Rania tidak memperdulikannya. Dia ingin segera sampai dikantor.


''Aku harus tanya kenapa pak Radit menyuruhku kesini'' Gumam Rania.


Sesampai di parkiran kantornya ternyata Davin sudah menunggu Rania disana.


''Gimana apa sudah dapat tanda tangannya?'' tanya Davin.


''Sudah, kenapa kak Davin disini?'' tanya Rania curiga.


''Kebetulan aku baru dari luar untuk makan siang. Jadi biar sekalian suratnya aku yang bawa ke Radit'' ucap Davin mencari alasan.


''Ooo, padahal aku ingin menanyakan sesuatu sama pak Radit'' kata Rania sambil mengeluarkan map dari tasnya.


''Tanyakan saja pas pulang kerja'' jawab Davin.


''Iya kak'' kata Rania.


''Kalau gitu aku kedalam dulu. Makasih ya'' kata Davin sambil berjalan masuk. Rania hanya mengangguk. Kemudian Rania istirahat diruangannya menunggu jam pulang kerja.