
''Emang kenyataannya seperti itukan. Setelah saya kembali anda bahkan terkesan menjaga jarak dengan saya. Sekarang seolah peduli dengan saya. Mau anda apa?'' tanya Rania juga ikut kesal.
Radit terdiam mendengar ucapan Rania. Dia tahu kalau selama ini dia menjaga jarak dengan Rania supaya Rendi tidak membencinya. Bukan karna dia tidak peduli dengan Rania. Semua terasa serba salah oleh Radit.
''Kenapa anda diam. Apa yang saya ucapkan benar. Kalau antara kita ini hanya sebatas bos dan sopir. Jadi saya minta setelah ini anda bersikaplah layaknya seorang bos. Jangan pernah bertindak lebih dari itu'' ucap Rania tegas.
'' ***Karna saya tidak mau terluka dengan harapan palsu yang anda tunjukan'' batin Rania.
''Maaf Ran, untuk saat ini aku tidak bisa memilih antara kamu dan adikku. Andai Rendi tidak jatuh cinta sama kamu atau aku tidak menyukaimu. Mungkin semua tidak akan seperti ini'' batin Radit***.
mereka sampai dirumah, Radit langsung turun dari mobil tanpa menunggu Rania membukakan pintu. Sedangkan Rania juga turun dengan wajah masih kesal. Kebetulan Rendi keluar dari dalam rumah.
''Antiikk, hari ini kita tidak bertemu. Saya jadi rindu'' kelakar Rendi tanpa melihat situasi diantara Radit dan Rania.
''Sore tuan'' sapa Rania dengan senyum dipaksakan.
'' Apakah malam ini kamu mau makan malam dengan saya'' ajak Rendi.
''Baiklah'' jawab Rania singkat. Karena kesal dia ingin melihat reaksi Radit ketika dia menjawab ajakan Rendi. Tapi Radit malah masuk kedalam rumah tanpa bicara sepatah kata pun.
''Yees, ntar saya telepon kamu kalau sudah sampai diapartemen'' kata Rendi senang. Sedangkan Rania langsung masuk mobil menuju garasi. Dan pulang kerumahnya.
Ketika malam tiba. Rendi dengan semangat mau pergi menjeput Rania. Dia bersiul menuruni tangga. Sampai di bawah Rendi berpapasan dengan Radit.
''Kamu mau kemana? Wangi amat?'' tanya Radit.
''Mau ketemu Rania'' jawab Rendi senang.
''Ooo'' jawab Radit sambil berjalan menaiki tangga.
''Kakak tidak tanya aku mau ngapain? kakak tidak marah?'' tanya Rendi penasaran melihat sikap cuek Radit.
''Tidak, yang penting kamu senang'' jawab Radit. Dia berusaha tersenyum walaupun hatinya sakit.
''Maksud kakak?'' tanya Rendi lagi.
''Kamu adikku satu-satunya. Aku tidak mau menyakitimu demi mandapatkannya dan dia juga bukan barang yang harus kita perebutakan. Kalau emang sudah jodoh tidak akan kemana'' jawab Radit meninggalkan Rendi yang terpaku mendengar jawaban Radit.
''Apa kakak Radit sungguh mengangapb aku adik dengan sikapnya selama ini. Sampai dia rela membiarkanku mendekati Antik'' batin Rendi
Kemudian Rendi pergi menjemput Rania. Radit melihat kepergian Rendi dari jendela kamarnya.
Rania pamit sama Sisi mau ke minimarket dekat Apartemennya untuk membeli beberapa keperluan yang habis. Karna jaraknya tidak jauh Rania memilih jalan kaki. Dia juga lupa membawa ponselnya. Rania berjalan santai menuju minimarket. Menikmati suasana malam. Dia berjalan sambil memikirkan kata-kata Radit tentang dalang dibalik fitnah bundanya. Karna sore tadi dia sedang marah jadi dia tidak berpikir jernih. Sekarang baru terpikir kalau ucapan Radit ada benarnya.
Rania sampai di minimarket. Setelah membeli beberapa keperluanya. Dia memutuskan untuk pulang. Karna berjalan sendiri dimalam hari. Tidak jauh dari minimarket dua orang preman menganggunya.
''Hei culun, bagi duit dong'' kata salah satu preman menghalangi jalan Rania.
''Tidak ada'' jawab Rania tegas sambil menghindarinya.
''Belagu amat sih loe, gue cuma minta sedikit uang. Kalau ngak diberi, loe ngak bisa pergi kemana-mana'' kata salah satu preman.
''Kalau mau uang kerja'' jawab Rania.
''Apa katamu'' kata preman itu marah.
Rendi melihat Rania dari jauh digangu preman. Karna dia ingin pergi menjemput Rania. Jadi dia membawa mobil bukan motor antiknya. Tadi dia sudah sampai didepan apartemen dan menelpon Rania. Tapi ponsel Rania tinggal dan yang mengangkat teleponnya adalah Sisi. Dia mengatakan Rania lagi keminimarket.
Rendi menyetir dengan cepat supaya bisa membantu Rania. Tapi ketika Rendi sampai disana. Dilihatnya Rania sedang menghajar kedua preman tersebut. Rendi sangat terkejut.
''Buseet, si antik kok kuat gitu'' gumam Rendi. Ada rasa kagum dan terkejut melihat Rania. Dia jadi mengurungkan niatnya untuk membantu Rania karna melihat kondisi kedua preman sudah babak belur. Setelah preman itu kabur Rendi menghampiri Rania.
''Eeh tuan, ngapain disini?'' tanya Rania terkejut. Dia benar lupa kalau ada janji makan malam dengan Rendi.
''Kamu tidak apa-apa?'' tanya Rendi.
''Tidak apa-apa. Kalau gitu saya kembali pulang dulu'' kata Rania.
''Tunggu, apa kamu lupa kita ada janji makan malam hari ini'' tahan Rendi. Rania baru ingat setelah Rendi mengatakannya.
''Gara-gara kesal sama pak Radit. Aku menerima tawaran tuan Rendi untuk makan malam. Aduh, bagaimana nolaknya ya'' batin Rania binggung.
''Kok diam?'' tanya Rendi.
''Padahal saya sudah menunggu kamu di apartemen. Tadi saya telpon kata temanmu ponsel kamu tinggal dan dia bilang kamu lagi disini'' jelas Rendi.
''Hehe, maaf tuan saya lupa'' jawab Rania tersenyum.
''Gimana kalau kita pergi sekarang'' ajak Rendi.
''Saya sudah makan tuan, tapi kalau tuan mau saya temanin saja tuan makan di cafe seberang sana?'' tunjuk Rania.
Rendi diam sebentar. Kemudian dia mengiyakannya. Karna mengajak Rania keluar bukan hal yang mudah baginya.
Kemudian mereka pergi ke cafe yang ada diseberang jalan. Rendi dan Rania mencari tempat duduk yang kosong di bagian pojok cafe.
''Kamu mau pesan apa?'' tanya Rendi.
''Saya orange juice aja tuan''jawab Rania.
''Tidak makan?'' tanya Rendi lagi.
''Tidak tuan'' jawab Rania.
''Ok, aku pesan minuman juga'' jawab Rendi.
Kemudian dia memanggil pelayan cafe dan memesan pesanan masing-masing. Tidak ada pembicaraan yang terjadi sampai pelayan mengantarkan minuman yang mereka pesan.
''Antik'' kata Rendi serius setelah menyeruput kopi yang dipesannya.
''Iya tuan'' jawab Rania santai. Dia tidak tahu mengapa Rendi berubah serius.
''Hmmm, perkataan saya tempo hari sama kamu itu serius'' kata Rendi.
''Perkataaan yang mana?'' tanya Rania binggung.
''Perkataan akan menjadikan kamu istri saya. Apa kamu mau setidaknya kita pacaran dulu kalau kamu menganggapnya terlalu cepat untuk menjadi istri'' ucap Rendi sambil meminum kopinya lagi.
Rania yang mendengar penyataan Rendi hanya terkejut. Dia tidak menyangka Rendi akan serius dengan semua ini. Tapi dia sendiri tidak punya perasaan apa-apa terhadap Rendi.
''Saya sungguh mencintaimu, saat pertama kali bertemu. Selama ini saya tidak pernah merasakan perasaan seperti ini kepada wanita lain'' ungkap Rendi.
''Maaf tuan saya tidak bisa'' tolak Rania.
''Kenapa? kalau kamu tidak menyukai saya kamu bisa mencintai saya dengan pelan-pelan. Saya akan menunggu'' kata Rendi lagi.
''Maaf tuan, saya memang tidak ahli soal cinta. Tapi satu yang saya tahu. Cinta tidak bisa dipaksakan. Karna cinta akan memilih sendiri kepada siapa dia berlabuh'' ucap Rania sambil berdiri dari tempat duduknya.
''Kalau begitu saya pamit pulang'' katanya lagi.
''Apa kamu mencintai kak Radit...''