
''Saya tidak melakukan apa-apa'' jawab Rania.
''Secara tidak langsung kamu sudah mengobati luka kak Radit selama ini. Saya hanya berharap setelah ini kak Radit tidak terluka lagi dan bahagia. Dia kalau sudah mencintai seseorang. Dia akan mencintainya sepenuh hati. Karna itu ketika dia terluka akan sulit menyembuhkannya'' jelas Rendi melihat ke arah Radit yang sibuk dengan ponselnya.
''Lagian kalian juga sudah dijodohkan. Jadi tidak ada yang akan menjadi penghalang dalam hubungan kalian lagi. Saya juga sudah menyerah'' kata Rendi lagi sambil tersenyum.
''Apa anda tahu juga dengan perjodohan itu?'' tanya Rania terkejut.
''Ya, saya sebenarnya malu sama kak Radit. Ketika kak Radit menceritakan bahwa kamu anak om Gunawan. Saat itu juga saya tahu kalau orang yang sebenarnya dijodohkan dengan kak Radit adalah kamu bukan Cynthia. Dan mungkin karna Cynthia yang palsu makanya kak Radit selalu menolak perjodohan ini, hehe. Tapi biarpun saya tahu kalau kamu dijodohkan dengan kak Radit. Dengan egoisnya saya bilang sama dia saya tidak akan mengalah sama kak Radit untuk mendapatkan kamu. Mungkin karna itu kak Radit jadi mengalah. Dia tidak ingin menyakiti saya. Biarpun dia sering berbuat kejam sama saya. Hmm, Tapi Tuhan memang tidak berpihak sama saya. Kamu juga menolak saya. Jadi saya harus menyerah. Jodoh memang tidak akan kemana. Dia akan datang kepada pemilik aslinya begitu yang saya dengar'' jelas Rendi panjang lebar.
Rania tersenyum dengan kebesaran hati Rendi. Dia sungguh salut dengan ikatan persaudaran antar Rendi dan Radit. Biar mereka diluar kelihatan sering bertengkar tapi dihati mereka saling menyayangi.
''Mulai sekarang saya tidak boleh memanggil kamu antik lagi'' kata Rendi.
''Trus anda mau memanggil saya apa?'' tanya Rania penasaran.
''Kakak ipar'' jawab Rendi.
''Apa? Tidak bisa panggil yang lain saja. Saya sekarang belum ada hubungan dengan pak Radit'' protes Rania
''Sekarang memang belum. Tapi karna ada ikatan perjodohan kalian otomatis kamu jadi kakak ipar saya'' jawab Rendi.
''Tapi...'' ucapan Rania terpotong.
''Sudah saatnya kamu tidur. Rendi jangan gangu dia lagi'' kata Radit sambil berjalan kearah Rania.
''Iya kak. Ntar kita lanjutkan ngobrolnya kakak ipar'' ucap Rendi.
Rania melototin Rendi. Sedangkan Radit yang mendengar panggilan Rendi kepada Rania hanya bisa tersenyum. Dia juga kalau Rendi sudah menyerah untuk mendekati Rania.
''Kakak ipar cantik kalau tidak pakai kacamata'' goda Rendi.
Plak,
''Aduh, sakit kak. Kenapa kepalaku dipukul?'' kata Rendi mengusap kepalanya.
''Sana pergi duduk. Jangan lama-lama melihat Rania'' kata Radit sewot.
''Kenapa?'' tanya Rendi sambil berjalan ke sofa. Dia tidak mau dipukul Radit lagi. Walaupun hatinya mengomel karna dapat pukulan Radit.
''Harus cepat-cepat suruh Davin membuatkan kacamata'' gumam Radit. Rania yang mendengarnya hanya tersenyum. Dia tidak menyangka Radit akan seperti itu.
''Kenapa kamu tersenyum. Senang ya dipuji terus?'' tanya Radit.
''Hehe, bukan gitu. Kasihan tuan Rendi kepalanya anda pukul'' kata Rania.
''Biar saja, segitu belum seberapa baginya'' kata Radit.
''Hehe'' Rania tertawa.
''Sekarang kamu harus mengubah panggilan sama aku dan Rendi'' kata Radit.
''Aa?'' Rania tidak mengerti.
''Maksud saya. Kamu tidak perlu memanggil Rendi dengan Tuan lagi. Dan memanggil saya dengan pak'' jelas Radit.
''Trus saya harus memanggil apa?'' tanya Rania binggung..
''Kamu panggil Rendi saja. Kalian seumuran. Kalau sama saya terserah kamu panggil apa asal jangan pak'' kata Radit
Rania diam. Dia tidak tahu harus memanggil Radit dengan sebutan apa.
''Kok diam. Kamu binggung? Kamu bisa panggil saya dengan sayang atau apalah asal jangan pak'' jelas Radit.
Rania tambah tidak tahu mau ngomong apa. Dia terkejut Radit menyuruhnya memanggil dengan sayang.
''Saya mau tidur dulu'' kata Rania cepat.
''Panggil om aja Kak'' teriak Angga.
''Kamu diam'' ucap Radit sama Angga.
''Haha. Saya setuju dengamu'' Rendi tertawa.
Rania ikut tertawa melihat mereka berdebat. Karna matanya sangat mengantuk dia pun tertidur.
''Jangan dengarkan mereka. kamu... ee sudah tidur'' kata Radit. Dia tersenyum melihat Rania tertidur pulas. Kemudian Radit menyelimuti Rania dan mengecup keningnya.
''Moga mimpi indah calon istriku'' bisik Radit.
Kemudian Radit menghampiri Rendi. Dia mulai memeriksa semua perkejaan yang dibawa Rendi kesana. Radit kalau sudah mulai bekerja wajahnya akan terlihat serius berbeda dari sebelumnya. Angga sampai kagum dengan perubahan sikap Radit. Sekarang dia bahkan terlihat lebih berwibawa dimata Angga.
''Apa dia akan seserius itu kalau bekerja?'' tanya Angga kepada Rendi ketika mereka pergi keluar membeli minuman.
''Iya. Kak Radit profesional dalam bekerja. Dia tidak akan menerima sedikitpun kesalahan. Dia sangat teliti. Tidak ada orang dikantor sanggup menatapnya kalau sedang marah. Saya saja tidak berani membantahnya saat bekerja. Dia akan membedakan urusan pribadi dengan pekerjaan '' jawab Rendi.
''Tapi kenapa dia berbeda sekali ketika bicara dengan kak Rania'' kata Angga.
''Kamu anak kecil tidak akan tahu yang namanya kekuatan cinta'' jawab Rendi.
''Saya bukan anak kecil'' kata Angga.
''Tapi kamu lebih kecil dari saya'' jawab Rendi.
''Anda hanya lebih tua dua tahun dari saya. Jangan sok lebih besar'' kata Angga.
''Yang penting saya tua dari kamu'' jawab Rendi.
''Yee, tua aja kok bangga. Orang sekang mencari bagaimana supaya lebih muda'' kata Angga.
''Tua lebih mengoda'' ucap Rendi
''Hmm, tidak ada habisnya kalau bicara dengan anda'' kata Angga.
''Kalau gitu gak usah bicara'' jawab Rendi.
Angga memilih diam. Dia berjalan cepat meninggalkan Rendi.
''Hei anak kecil, jangan ngambek dong'' kata Rendi mempercepat jalannya.
Mereka sampai di kantin rumah sakit. Setelah memesan minuman. Mereka berencana kembali.
''Kenapa anda membeli empat kopi?'' tanya Angga.
''Untuk kak Radit dua'' jawab Rendi.
''Tidak apa-apa dia minum kopi sebanyak itu?'' tanya Angga.
''Kak Radit kalau bekerja malam butuh banyak kopi. Biar dia tidak ngantuk'' jawab Rendi.
''Apa dia selalu bekerja sampai larut malam?'' tanya Angga.
''Iya, dulu untuk melupakan mantan pacarnya dia melampiaskannya sama pekerjaan'' jawab Rendi.
''Dia pernah punya pacar?'' tanya Angga.
''Iya, sayangnya dia dikhianati. Sebelumnya kak Radit orang yang hangat dan suka bercanda. Tapi sejak saat itu di jadi orang yang dingin dan tertutup. Semua gara-gara perempuan itu'' ucap Rendi geram.
Angga hanya diam mendengar jawab Rendi. Dia binggung mau mengatakan apa. Trus dia juga berpikir apakah kak Rania tahu masa lalu Radit.
Kemudian Rendi menceritakan bagaimana Radit menjalani hidupnya dua tahun ini dengan hati yang terluka. Karna keasyikan bercerita tanpa sengaja Rendi menabrak seseorang.
''Rendi...'' sapa orang yang ditabrak Rendi.