Rania

Rania
54. Negosiasi



''Kalau saya tidak ingin kembali juga?'' tanya Rania.


''Ya pamanmu akan menjual tanahnya disini dan ikut saya ke Jakarta'' jawab Wiratmaja serius.


Rania tidak mungkin terus membebankan pamannya. Apalagi setelah mendengar alasan dari pamannya tadi. Semua yang dikatakan kakeknya mungkin saja terjadi.


''Bagaimana kalau kita negosiasi?'' tanya Rania mulai serius.


''Haha, lihat cucuku Rendra. Dia mengajak negosiasi'' ucap Wiratmaja tertawa. Sudah lama dia tidak sesenang ini. Rendra juga tidak menyangka Rania akan bicara seperti itu.


''Rania kamu tidak boleh seperti ini memikirkan paman. Kalau memang kamu tidak mau ikut juga tidak apa-apa. Masalah tanah ini kalau paman menjualnya kita akan pindahkan makam bundamu ke TPU saja. Paman hanya berharap kamu bahagia nak'' ucap Rendra. Dia yakin kalau Rania melakukan semua demi dirinya.


''Tidak paman, ini sudah keinginan Rania dan Rania tahu paman hanya mau tinggal disini dengan tenang'' jawab Rania tegas. Kemudian Rania melihat ke arah kakeknya.


''Bagaimana menurut anda?'' tanya Rania lagi.


''Hmm, kamu mau nego apa?'' tanya Wiratmaja.


''Saya akan pergi ke Jakarta dan anda tidak boleh memaksa paman menjual tanahnya. Kemudian saya akan berangkat sendiri ke Jakarta bukan bersama anda. Terus saya juga tidak akan tinggal ditempat anda'' jelas Rania.


''Kenapa kakek harus menerima semuanya. Sepertinya syarat yang kamu ajukan tidak ada yang menguntungkan'' ucap Wiratmaja.


''Karna yang anda inginkan sekarang hanya saya kembali ke Jakarta kan'' jawab Rania yakin.


''Kamu begitu yakin'' kata Wiratmaja.


''Iya, Tapi kalau anda tidak mau menerimanya. Terpaksa saya akan menerima saran paman memindahkan makam bunda ke TPU dan tidak akan pernah mau kembali ke Jakarta. Bahkan kalian semua tidak akan pernah bertemu saya lagi'' ancam Rania.


''Haha. Kakek suka cucu yang berani. Tapi apa kamu tidak mau memanggilku kakek'' tanya Wiratmaja.


''Tidak... untuk saat ini'' jawab Rania tegas.


''Ya sudah, kakek terima syarat darimu'' ucap Wiratmaja tersenyum. Untu saat sekarang ini baginya Rania mau kembali ke Jakarta saja dia sudah sangat senang. Kalau masalah yang lain bisa dipikirkan ketika dia sudah di Jakarta.


''Deal'' kata Rania. Kemudian dia berdiri dari duduknya.


''Paman, aku kekamar dulu'' pamit Rania sama Rendra. Dia melirik sebentar sama Wiratmaja kemudian dia meninggalkan mereka.


''Sungguh anak dingin dan keras kepala'' ucap Wiratmaja setelah Rania pergi.


''Sebenarnya dia anak yang ceria. Kematian bundanya membuat dia seperti itu'' jelas Rendra.


''Hmm, dimana istri dan anakmu. Kata Gunawan kamu mempunyai seorang anak laki-laki'' tanya Wiratmaja.


''Istri saya sedang diladang. Kalau anak saya sedang kuliah tuan'' jawab Rendra.


''Apa kamu tidak ada niat memasukan anakmu ke perusahaan membantu Gunawan?'' tanya Wiratmaja lagi.


''Tidak, saya hanya ingin dia menentukan sendiri jalan hidupnya'' jawab Rendra.


''Hehe, kamu dari dulu tidak berubah. Setelah masalah Rania dan Gunawan selesai. Apa boleh saya tinggal disini bersamamu untuk menghabiskan sisa umur?'' tanya Wiratmaja.


''Dengan senang hati tuan. Kalau anda tidak keberatan tinggal digubuk reok saya ini'' jawab Rendra.


''Haha, saya sangat senang sekali hari ini. Kalau gitu kamu antar saya kemakam menantu kesayangan saya'' ucap Wiratmaja.


Rendra mengangguk. Kemudian mereka pergi ke makam Retno. Lama Wiratmaja berdiri tepaku dimakam itu. Bagaimanapun selama Retno manjadi menantunya. Retno selalu memperlakukannya seperti orang tua kandungnya. Sekarang Retno malah dulu meninggalkanya. Ada guratan kesedihan di wajahnya. Setelah itu Wiratmaja pamit pulang ke Jakarta. Dia tidak memaksa Rania untuk ikut. Karna dia sudah yakin Rania akan menyusul ke Jakarta.


......................


Sementara itu di rungannya Radit termenung memikirkan Rania. Sudah seminggu dia tidak bertemu Rania. Menghubunginya pun dia tidak pernah. Karna janjinya untuk menjaga jarak dengan Rania demi Rendi.


Tok tok tok


''masuk'' ucap Radit.


Rendi masuk kedalam ruangan Radit dengan wajah murung.


''Apa kak tidak ada menghubungi antik?'' tanya Rendi.


''Hmmm'' Radit tidak menjawab.


''Jawab dong kak. Kalau ada kapan antik kembali ke Jakarta?'' tanya Rendi.


''Kenapa harus aku? Bukankah kamu bisa menghubunginya sendiri?'' tanya Radit


''Ya, masalahnya setiap aku telepon tidak diangkat. Dan aku WA tidak dibalas. Aku jadi binggung harus gimana'' jawab Rendi.


''Bukan urusanku, sekarang kamu kembali keruanganmu. Selesaikan semua pekerjaanmu'' kata Radit.


''Tapi kalau antik tidak kembali juga. Apa aku akan tetap menjadi sopir kakak?'' tanya Rendi.


''Iya'' jawab Radit singkat.


''Ini sudah seminggu loh kak, aku merangkap jadi sopir kakak. Bagus kakak cari sopir baru aja. Kalau ntar antik kembali biar dia jadi sopirku'' bujuk Rendi.


''Tidak boleh. Selama Rania belum kembali kamu akan tetap jadi sopirku'' jawab Radit tegas.


''Kakak kejam amat sih dengan adik sendiri. Apa gajiku ditambah selama mengantikan antik?'' tanya Rendi.


''Tidak'' jawab Radit singkat.


''Tu kan, siap kerjaku rangkap. Gaji tidak ditambah. Kak Radit bos keterlaluan sekali. Biar ntar aku bilang sama papa atau mama. Kalau kakak melakukan kerja paksa terhadapku'' kata Rendi kesal.


''Laporkan aja. Paling kamu akan kena omel sama mama'' jawab Radit.


''Ternyata begini amat jadi adik. Selalu saja ditindas oleh kakaknya. Biar aku cari kakak yang lain saja'' ucap Rendi.


''Aku juga tidak mau punya adik sepertimu'' jawab Radit enteng.


''Kak Radiiiit'' teriak Rendi kesal sambil berjalan keluar ruangan Radit. Ketika di depan pintu dia berpapasan dengan Davin yang mau masuk kedalam Ruangan Radit. Tapi Rendi terus saja berjalan.


''Kenapa muka Rendi kesal begitu pak?'' tanya Davin.


''Biasalah, dia protes masih jadi sopir dan minta gaji ditambah'' jawab Radit.


''Hmm, anda juga keterlaluan menurut saya. Kenapa kejam sekali sama adik sendiri'' ucap Davin.


''Dari tadi kata kejam sering kali saya dengar. Apa kamu ingin melihat kekejaman saya sebagai atasan?'' tanya Radit.


''Hehe, tidak pak.'' jawab Davin cepat.


''Trus ada urusan apa kamu kesini?'' tanya Radit. Karna seingatnya mereka tidak ada ketemu klien maupun meeting hari ini.


''Saya mau tanya. Apa anda ada menghubungi Rania?'' tanya Davin.


''Tidak'' jawab Radit singkat. Davin heran dengan jawab Radit. Yang dia lihat selama ini Radit sangat perhatian dengan Rania.


''Apa anda tidak menghawatirkannya?'' tanya Davin.


''Hmm, bukan begitu'' jawab Radit.


''Trus apa alasannya?'' tanya Davin.


''Rendi sangat menyukai Rania. Jadi aku harus menjaga jarak dengan Rania'' jawab Radit.


''Apakah anda yakin Rania menyukai Rendi?'' tanya Davin.


''Tidak tahu. Tapi yang jelas aku harus menjaga hati Rendi supaya tidak terluka gara-gara aku'' jawab Radit.


''Dan biar hati anda yang terluka?'' tanya Davin.


Radit tidak menjawab. Untuk saat sekarang dia hanya memikirkan hati adiknya. Kalau hatinya terluka sudah biasa. Tapi dia tidak tega melihat Rendi terluka karna dirinya. Walaupun dia tegas sama Rendi tapi dia sangat menyayangi adiknya itu.