Rania

Rania
104. Terungkap



Semua orang sangat gelisah menunggu kabar dari bawahan Davin dan Gunawan.


''Aku takut terjadi apa-apa dengan Rania om. Apalagi hari sudah mau malam'' ucap Radit gelisah.


''Om juga'' ucap Gunawan resah.


''Ini yang ditakutkan Retno ketika Rania memutuskan untuk datang ke Jakarta. Dia yakin Rania pasti akan selalu diikuti bahaya seperto dirinya'' kata Rendra. Candra dan Hendra hanya terdiam. Begitu juga denga Gunawan.


''Maaf om Hendra dan Candra. Kalau sempat terjadi sesuatu sama Rania. Jangan salahkan saya membuat tante Nita membayarnya'' ucap Radit penuh amarah.


''Apapun yang terjadi. Om sudah pasrah Dit'' jawab Hendra sedih.


Rendi tidak sabaran menunggu. Angga juga begitu. Dia sangat panik ketika tahu kakaknya dalam bahaya.


Ketika semua orang sedang menunggu. Jaka datang menghampiri mereka. Dengan ragu-ragu jaka bicara.


''Saya bisa mengatakan dimana buk Rania dibawa. Asalkan keluarga Wiratmaja mau mengabulkan permintaan saya'' ucap Jaka. Semua orang melihat kepadanya. Radit yang marah dan tidak sabaran langsung memegang krah baju Jaka.


''Cepat katakan dimana Rania. Atau kamu saya bunuh sekarang'' hardik Radit marah. Emosinya sudah mau meledak.


''Sebelum keinginan saya dikabulkan saya tidak akan bicara. Walaupun anda membunuh saya. Anda yang akan rugi'' ucap Jaka tegas.


''Radit lepaskan'' perintah Gunawan. Kemudian dia melihat kearah Jaka.


''Katakan apa yang kamu inginkan?'' tanya Gunawan tenang. Tapi tatapannya begitu tajam. Sehingga membuat Jaka tidak berani menatapnya.


''Saya akan katakan kalau buk Rania sudah ditemukan'' jawab Jaka.


''Kenapa kamu melakukan semua ini. Apa salah saya dan anak saya kepadamu?'' tanya Gunawan.


''Maaf, saya tidak ada niat untuk mencelakai anak tuan. Karna kebaikan tuan selama ini kepada saya makanya saya tidak berani berbuat yang macam-macam sama tuan. Saya hanya mengetahui dimana buk Rania dibawa. Dan sekali lagi saya minta maaf karna memanfaatkan ini untuk mengajukan permintaan'' jawab jaka.


''Kalau begitu tunjukan kami kesana sekarang juga. Saya tidak mau keponakan saya kenapa-napa'' ucap Rendra.


Semua orang segera menuju tempat Rania berdasarkan petunjuk Jaka.


Sementara Rania baru sadar. Dia tidak tahu dimana dirinya sekarang. Tangan, kaki dan mulutnya diikat serta matanya juga ditutup.


Rania merasakan ada yang memegangnya. Dengan refleks dia memcoba menendang. Tapi sayang karna kakinya diikat. Dia tidak bisa mengenai orang yang memegangnya.


''Dia sudah sadar bos'' kata orang yang tadi mau memegang Rania.


''Buka kain penutup mata dan mulutnya'' perintah Nita.


Kemudian orang itu membuka tutup mata dan mulut Rania. Rania merasa silau karna lampu mengarah kearahnya. Dia melihat sekeliling. Ternyata sebuah ruangan yang sangat berantakan. Rania mengira sebuah bangunan tua atau terbengkalai.


''Kamu keluar dulu jaga dipintu. Biar saya bicara dengannya. Setelah urusan saya selesai. Sebelum dibunuh kalian boleh menikmatinya dulu'' ucap Nita.


''Tante Nita?'' ucap Rania terkejut.


''Haha, iya ini saya. Apa kamu terkejut'' kata Nita mendekati Rania. Dia kemudian memegang kuat dahu Rania.


''Kenapa tante berbuat seperti ini kepada saya?'' tanya Rania sambil menahan sakit.


''Haha, kamu mau tahu kenapa saya seperti ini?'' tanya Nita sambil melepaskan tangannya. Wajahnya kemudian berubah marah.


''Seharusnya kamu tidak datang ke Jakarta. Gara-gara kamu semua rencana saya selama ini berantakan. Radit yang seharusnya untuk anak saya kamu rebut. Statusnya sebagai cucu perempuan satu-satunya hilang. Sekarang dia lumpuh dan membenci saya. Suami saya juga tidak mau melihat saya dan Cynthia lagi. Keluarga saya hancur. Semua gara-gara kamu'' ucap Nita dengan mata yang berkaca-kaca melihat penuh kebencian sama Rania.


''Kenapa tante menyalahkan saya. Bukankan semua yang terjadi karna ulah Cynthia dan tante'' jawab Rania tanpa rasa takut.


''Apa kamu bilang?'' plak tamparan Nita mendarat keras dipipi Rania. Kemudian dia menarik kasar rambut Rania.


''Apa kamu tahu yang paling saya benci dari semua itu adalah melihat matamu yang mengingatkan saya pada Retno'' ucap Nita dengan membuka kacamata Rania.


Rania berusaha menahan sakit ketika rambutnya ditarik kuat sama Nita.


''Apa jangan-jangan anda yang menfitnah bunda saya dua puluh lima tahun lalu?'' tanya Rania karna dia melihat betapa Nita membenci bundanya.


Nita kemudian melepaskan rambut Rania. Dia berjalan mengambil kursi lalu duduk. Ditangannya juga ada pistol.


''Haha, ternyata kamu tidak bodoh seperti Retno. Kalau saya katakan iya kamu bisa apa? Kamu akan membunuh saya dengan kondisi seperti ini. Asal kamu tahu sebelum kamu berniat saya sudah terlebih dulu menghabiskanmu'' ejek Nita.


''Kenapa anda sekejam ini?'' tanya Rania geram. Tidak ada sedikitpun rasa takut dihatinya. Apalagi ketika dia tahu dalang yang yang menfitnah bunda dan pamannya adalah Nita. Mengingat dia telah membuat mereka menderita selama ini. Membuat emosi Rania mendidih.


''Kamu mau tahu?'' tanya Nita mengejek.


''Iya, setidaknya saya tahu alasan orang yang membuat keluarga saya menderita'' jawab Rania.


''Apa kamu tidak takut sama apa yang akan saya lakukan setelah ini?'' tanya Nita. Dia merasa tatapan Rania begitu tajam sehingga membuatnya sedikit bergidik sekaligus benci. Padahal seharusnya Rania yang merasa cemas saat ini.


''Dalam kamus hidup saya tidak ada kata takut'' jawab Rania tegas.


''Haha, saya suka keteguhanmu yang sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini'' ejek Nita. Kemudian dia berkata lagi'' kamu ingin tahu kenapa saya sangat membenci Retno?''


''Retno adalah seorang anak panti asuhan. Hanya karna dia cantik disukai oleh semua orang. Dia mendapatkan suami yang tampan, pintar dan pandai mengelola perusahanan dan unggul dalam segala hal. Suami dan mertuanya sangat mencintainya. Hidupnya selalu dikelilingi keberuntungan. Sedangkan saya yang anak seorang pengusaha kaya hanya dapat suami lemah serta bodoh dan dibenci mertua. Saya tidak suka kalah dari seorang anak panti asuhan'' Nita berhenti. Amarah diwajahnya terlihat lebih gelap.


Rania melihat kebencian itu dimata Nita.


''Saya menfitnahnya dan menginginkan dia mati. Serta membuat Gunawan hancur dengan kehilangan kedua orang kepercayaannya. Sehingga perusahaannya bisa jadi milik suami saya. Karna saya tahu suami saya bisa saya kendalikan. Tapi dia selamat dari kebakaran. Untuk membuat Gunawan percaya saya memalsukan mayat orang lain dan membayar dokter supaya berbohong. Serta mengirim pembunuh bayaran untuk mencari Retno dan Rendra. Selama Dua puluh lima tahun saya merasa semua usaha saya hampir berhasil. Tapi kamu tiba-tiba datang dan mengancurkan semuanya'' kata Nita marah. Dia berjalan ketepi bangunan yang dindingnya belum dipasang.


''Kalau kamu saya lempar dari sini kebawah. Apa kamu akan langsung mati dan menyusul Retno?'' tanya Nita.


Wajah Rania berubah suram. Dia sudah tidak bisa menahan emosinya. Kalau bukan karna tangan dan kakinya di ikat mungkin sekarang dia sudah membunuh Nita.