
Langkah Rania terhenti sampai di depan pintu. Dia lihat jenazah bundanya terbujur kaku ditengah ruangan. Disana ada bibi Susi yang duduk disamping jenazah bundanya. Rania melepaskan pegangan tangannya dari Angga. Dia melangkah sendiri menuju tempat bundanya. Dia lihat bunda seperti orang yang tidur dengan damai.
''Hallo bunda, ini Rania sudah pulang. Bunda bangun lagi, jangan buat Rania cemas. Bunda pasti pura-purakan supaya Rania pulang. Supaya Rania tinggal disini lagi. Ayolah bunda jangan bercanda. Rania janji akan menuruti bunda...'' kata Rania terputus. Semua orang yang berada disana tidak kuasa menahan tangis. Dilihatnya Rania mencium pipi bundanya. Sambil mencoba membangunkannya.
''Kenapa badan bunda dingin seperti ini Bik? Kenapa bibi tidak memberikan selimut yang tebal sama bunda. Bunda pasti kedinginan'' kata Rania lagi sambil melihat bibinya memelas.
''Rania...'' kata bibi Susi teputus karna tidak kuasa menahan tangisnya melihat Rania.
''Kamu harus menerima kenyataannya nak'' kata bibi Susi lagi sambil memeluk Rania.
''Hehe, Bibi jangan becanda bunda hanya tidur sebentar. Dia akan bangun kalau Rania datang. Iyakan bunda? Mulai sekarang Rania akan turutin semua kata-kata bunda. Kalau bunda tidak bolehkan Rania ke Jakarta Rania tidak akan pergi. Hiks hiks. Ayolah bunda bangun'' kata Rania mulai lemah. Tenaganya benar-benar sudah habis.
Radit dan yang lain tidak kuat melihat Rania seperti itu. Kemudian paman Rendra mendekat ke arah Rania duduk bersandar di badan bibi Susi.
''Kamu harus istirahat dulu ya nak. Biar paman dan Bibi yang menjaga jenazah bundamu. Rencana pemakamannya akan dilaksanakan besok pagi'' bujuk paman Rendra.
''Rania mau disamping bunda paman'' jawab Rania sambil membaringkan badannya didekat jenazah bunda. Paman Rendra tidak bisa melarang Rania. Mungkin ini yang terakhir bagi Rania tidur disamping bundanya.
''Kalian istirahat dulu, perjalanan dari Jakarta kesini pasti sangat melelahkan. Biar Angga mengantar ke dalam kamar'' kata paman Rendra.
''Kami disini saja paman biar bisa menemani Rania'' jawab Radit.
''Kamu bosnya Rania?'' tanya paman Rendra.
''Iya paman, perkenalkan nama saya Radit Pratama Handoko'' jawab Radit.
''Ooh, kamu cucu dari tuan Handoko'' kata paman Rendra lagi. Dia menatap Radit lekat-lekat. Radit yang ditatap seolah merasakan suatu tekanan yang aneh dari tatapan itu. Bukan seperti tatapan dari seorang petani kampung tapi bahkan lebih dari itu.
''Apakah anda mengenal kakek saya?'' tanya Radit lagi. Dia merasa pernah melihat wajah paman Rendra tapi tidak ingat dimana.
''Tidak, mana mungki orang kampung seperti kami mengenal pengusaha sukses seperti pak Handoko'' jawab paman Rendra. Tapi hati Radit berkata lain. Dia yakin ada sesuatu dari paman Rendra.
''Kamu istirahat dulu dikamar Rania nak Sisi. Paman lihat kamu letih sekali, Davin tolong antar nak Sisi istirahat kedalam dulu'' kata paman Rendra melihat ke arah Sisi dan Davin duduk. Dia sudah mengenal mereka karena pernah kesana.
''Saya disini saja sama Rania paman'' tolak Sisi. Dia tidak bisa meninggalkan Rania seperti ini.
''Tapi pagi masih lama. Kamu istirahat dulu Rania biar paman dan yang lainnya menjaga. Biar dia berbaring untuk terakhir kali disamping bundanya'' tegas paman Rendra.
''Iya sayang, ucapan paman Rendra benar. Biar besok badan kamu fit. Kalau terjadi apa-apa dengan Rania kamu ada untuk menjaganya'' bujuk Davin. Dia tahu kalau Sisi juga sangat lelah.
Akhirnya Sisi mau istirahat dikamar Rania. Davin mengantar Sisi kedalam kamar Rania dan Minta tolong Angga untuk membawakan tas yang berisi pakaian Sisi dan Rania di dalam mobil ke kamar.
Setelah Davin dan Sisi pergi kini tinggal paman Rendra, bibi Susi, Rania dan Radit disana.
''Biar saya yang temani Rania disini. Lebih baik paman dan Bibi istirahat dulu. Saya lihat kalian berdua sangat lelah'' ucap Radit. Paman Rendra diam sebentar melihat ke arah Radit. Dia bisa melihat perhatian Radit sama Rania. Mana ada bos yang rela mengantar karyawannya jauh-jauh sampai kesini. Apalagi karyawannya hanya seorang sopir. Kalau dia tidak memiliki rasa sama Rania.
''Ya udah, titip Rania ya nak Radit. Ayo buk kita istirahat dulu'' kata paman Rendra mengajak istrinya.
Radit pindah duduk ke sebelah Rania berbaring. Dia lihat Rania mengusap-usap pipi bundanya. Terlihat sesekali air matanya keluar.
''Kamu harus tidur Ran'' kata Radit lembut.
''Tidak pak saya takut, kalau saya tidur bunda sudah tidak ada disamping saya lagi'' jawab Rania.
''Kamu harus ikhlaskan Ran. Biar bundamu juga tenang'' ucap Radit.
''Bunda seperti ini karna saya pak. Saya tidak menuruti bunda yang melarang pergi ke Jakarta. makanya bunda meninggalkan saya tanpa bilang apa-apa'' kata Rania masih mengusap pipi bundanya. Air matanya tambah banyak keluar.
''Kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua sudah takdir dari yang maha kuasa'' hibur Radit.
Rania hanya diam saja. Tidak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya. Hanya air mata yang sekali-kali menemani keheningan malam itu.
Sampai subuh Radit dan Rania tidak tidur. Radit masih setia duduk disamping Rania. Paman Rendra dan yang lainnya sudah bangun. Orang-orang sudah mulai berdatangan untuk menyiapkan pemakaman bunda Rania.
''Loe tidak tidur Dit?'' tanya Davin ketika sudah berada disana.
''Tidak'' jawab Radit sambil melihat kearah Rania. Davin melihat kelelahan di wajah Radit. Terlebih Rania dia tidak hentinya menangis.
''Apa sebaiknya loe istirahat sebentar?'' tanya Davin.
'' Gie tidak apa-apa'' jawab Radit lagi.
Setelah semua persiapan pemakaman selesai. Jenazah Bunda Rania disiapkan untuk dibawa kekuburan. Rania histeris tidak mau berpisah dari bundanya. Sisi dan Radit berusaha menahan Rania yang meronta-ronta.
Setelah berhasil menenangkan Rania. Mereka semua mengatar jenazah bunda Rania ke tempat pemakaman yang tidak jauh dari rumah Rania.
Untuk terakhir kalinya Rania melihat tubuh bundannya dimasukan kedalam liang lahat. Badannya lemas sampai hampir terjatuh kearah kuburan. Jangankan berteriak untuk mengeluarkan suaranya, Rania sudah tidak bertenaga lagi. Untung Radit yang berada dibelakangnya dengan cepat menangkap tubuh Rania.
''Bunda jangan tinggalkan aku...''kata Rania ketika melihat tanah mulai menutupi tubuh bundanya. Seketika badan Rania roboh tak sadarkan diri.
''Raniaaaa'' panggil Radit panik sambil menahan badannya.
Paman Rendra dan yang lainnya cepat menghampiri Radit dan Rania.
''Kita bawa Rania pulang dulu'' kata paman Rendra cemas.
''Biar saya dan Davin yang angkat Rania kerumah. Paman disini saja sampai pemakaman bunda selesai'' ucap Radit.
''Aku ikut juga kak'' kata Sisi yang cemas melihat kondisi Rania.
Kemudian Radit dan Davin mengangkat badan Rania menuju rumah. Di ikuti Sisi dari belakang. Sedangkan yang lain menyelesaikan pemakaman Bunda Rania.