
''Rendi...'' sapa orang yang ditabrak Rendi.
Rendi terkejut melihat siapa yang ditabraknya. Seketika wajahnya mengeras menahan kemarahan. Tapi kemudian Rendi mengajak Angga pergi.
''Rendi tunggu'' teriak orang itu.
''Saya tidak kenal anda'' kata Rendi dingin. Dia segera meninggalkan tempat itu di ikuti Angga.
''Siapa dia kak?'' tanya Angga ketika mereka sedang dijalan menuju ruang rawat Rania.
''Bukan siapa-siapa'' jawab Rendi.
''Tapi dia kenal anda. Apa dia mantan pacar anda?'' tanya Angga curiga.
''Saya bilang tidak kenal dia'' jawab Rendi meninggi
''Tapi cantik loh'' kata Angga lagi.
''Cantik diluar iblis didalam'' jawab Rendi marah.
Angga memilih diam. Dia tidak mau membuat Rendi tambah marah dengan pertanyaanya. Mereka sampai di ruang rawat Rania.
Dilihatnya Radit masih sibuk memeriksa berkas-berkas yang dibawa Rendi. Sedangkan Rania masih tidur.
''Ini kopinya kak'' kata Rendi sambil meletakan dua gelas kopi diatas meja dekat Radit kerja.
''Makasih'' kata Radit tanpa melihat kearah Rendi. Tapi Rendi masih berdiri didekat Radit. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
''Kenapa kamu masih disini? Mengangu aku kerja saja. Lebih baik kamu duduk didekat Angga sana'' ucap Radit agak kesal melihat tingkah Rendi.
''I-iya kak'' jawab Rendi. Kemudian dia pergi duduk disofa dekat Angga. Radit kembali sibuk dengan kerjanya.
Jam dua dini hari Rania terbangun dari tidurnya. Dia lihat Rendi dan Angga sudah tertidur disofa. Sedangkan Radit masih sibuk dengan pekerjaannya. Dua gelas kopi yang dibelikan Rendi sudah habis diminumnya.
''Kenapa anda belum tidur?'' tanya Rania dengan suara serak khas bangun tidur.
''Hmm, kamu bangun. Apa ada yang kamu perlukan?'' tanya Radit tanpa menjawab pertanyaan Rania.
''Tidak ada, kok pertanyaan saya tidak dijawab?'' tanya Rania lagi.
''Iya sebentar lagi saya tidur. Masih ada beberapa berkas yang harus saya periksa'' jawab Radit masih sibuk dengan pekerjaanya.
''Apa tidak bisa dikerjakan besok?''tanya Rania.
''Tidak, besok pagi ada meeting. Jadi malam ini semua harus saya cek. Biar bisa tahu apa kekurangan yang harus dibicarakan dalam meeting besok'' jawab Radit.
''Tapi anda bisa sakit kalau terus seperti ini'' kata Rania.
''Kalau saya sakit, kamukan ada untuk merawat saya'' jawab Radit sambil tersenyum.
''Bagaimana saya merawat anda kalau saya sendiri masih sakit'' kata Rania.
''Berarti sakit saya harus ditunda sampai kamu sehat'' jawab Radit seenaknya.
''Hehe. Sakit bisa ditawar ya'' kata Rania.
''Bisa kalau untukmu'' jawab Radit.
Rania hanya tersenyum mendengar jawaban Radit. Sejak dia bangun dari komanya Radit banyak berubah. Dia menjadi lebih lembut terhadapnya. Rania juga kasihan melihat Radit harus bekerja sambil menjaganya. Lama Rania menatap Radit dengan berbagai pikirannya.
''Kenapa melihat saya seperti itu? Saya tahu kalau saya ganteng'' kata Radit pede.
''Anda pede sekali'' jawab Rania. Sebenarnya dia malu ketahuan memperhatikan Radit.
''Kenyataannya memang seperti itu. Kamu beruntung kalau punya suami seperti saya'' ucap Radit lagi.
''Siapa yang mau nikah dengan anda?'' tanya Rania.
''Ya kamu lah, tidak mungkin Angga'' jawab Radit.
''Tapi saya belum bilang setuju menikah dengan anda'' kata Rania.
''Sekarang kamu harus belajar memanggil saya dengan kata yang laini. Bukan dengan anda'' kata Radit.
''Hmm dengan apa?'' tanya Rania.
''Terserah kamu'' jawab Radit merebahkan kepalanya diatas tempat tidur Rania dengan posisi tubuh masih duduk.
''Untuk sementara aku panggil kak Radit saja'' kata Rania.
''Iya'' jawab Radit memejamkan matanya. Dia meletakan tangan Rania diatas kepalanya. Rania mengusap rambut Radit pelan. Tidak lama Radit sudah tertidur.
''Apa kamu benar-benar akan menjadi milikku? Tapi apa mencintai akan sesakit yang bunda rasakan?'' gumam Rania.
Rania masih mengusap kepala Radit sampai dia tertidur kembali.
Pukul setengah tujuh pagi Radit dan Rendi sudah rapi dengan baju untuk pergi kerja. Rania dan Angga masih tertidur. Tidak lama kemudian Rendra, Susi, Gunawan dan Nella datang. Mereka membawa makanan untuk sarapan pagi.
''Pagi om, tante,paman dan bibi'' sapa Radit.
''Pagi Dit'' kata Gunawan dan Rendra. Sedangkan Susi membangunkan Angga.
Karna suara yang berisik membuat Rania ikut terbangun. Dia terkejut melihat ramainya orang disana. Tidak lama Sisi dan Davin juga datang bersama Dimas. Rania merasakan kehangatan lagi dihatinya. Setelah bundanya meninggal Rania merasa dirinya sendiri. Hari ini dia melihat begitu banyak orang menyanginya. Apa sudah saatnya dia menerima Gunawan dan melupakan semuanya. Dia juga ingin hidup seperti dulu lagi.
''Ini rumah sakit kok seperti pasar'' ucap Dimas ketika masuk.
Semua orang tertawa mendengar cilotehan Dimas. Untung dokternya Dimas kalau dokter yang lain mungkin tidak boleh seramai itu diruang rawat pasien.
''Bagaimana kondisimu nak?'' tanya Gunawan
''Sudah mulai baikan'' jawab Rania agak canggung. Setelah dia menyuruh Gunawan dan Nella pulang hari itu ada sedikit rasa sesal dihatinya.
''Kamu sudah minum obat Ran?'' tanya Dimas.
''Belum kak'' jawab Rania.
''Dia baru bangun, belum sarapan'' kata Radit.
''Kalau begitu biar saya yang menyuapkan Rania sarapan'' kata Sisi. Dia segera mengambil makanan yang diantar perawat pagi ini.
Gunawan dan Rendra menyuruh Radit dan yang lain untuk sarapan dulu. Karna ruang rawat Rania ruang VIP jadi mereka tidak menggangu pasien lain.
Nella dan Susi sibuk mengeluarkan makanan yang mereka bawah. Semuanya mulai sarapan kecuali Sisi dan Dimas. Mereka sudah sarapan dirumah. Kemudian Dimas meninggalkan ruang rawat Rania.
''Ini buah untuk Rania'' kata Nella memberikan piring buah yang sudah dia potong kepada Sisi.
''Makasih tante'' jawab Rania. Nella terkejut ketika Rania berterima kasih kepadanya. Dia kira selama ini Rania juga membencinya.
''Iya, kamu makan yang banyak biar cepat sembuh'' kata Nella lembut sambil tersenyum.
Setelah selasai sarapan Radit, Rendi dan Davin rencana mau pergi ke kantor.
''Oh ya Vin, loe bawa kacamata untuk Rania?'' tanya Radit sebelum mereka keluar.
''Ada ditas Sisi'' jawab Davin.
Radit kemudian berjalan menuju tempat tidur Rania.
''Aku kekantor dulu. Ntar siang aku kesini lagi'' kata Radit.
''Iya kak'' jawab Rania.
''Cie sudah tidak panggil pak lagi?'' goda Sisi.
''Apa sih kamu'' kata Rania malu. Semua orang tertawa. Sedangkan Radit hanya tersenyum saja.
Setelah pamit mereka langsung pergi kekantor. Sementara itu Gunawan juga mengajak Angga kekantornya. Dia sudah bicara dengan Rendra untuk membimbing Angga dibawah pengawasannya. Hari ini dia hanya ingin memperkenalkan perusahaannya kepada Angga. Nella juga ikut pamit pulang karna dirumah Wiratmaja hanya sendiri.
Sekarang hanya tinggal Rendra, Susi dan Sisi disana.