
Rania masih asyik didapur menyiapkan makan malam. Ketika tiba-tiba Radit memelukanya dari belakang.
''Sudah bangun mas?'' tanya Rania masih melanjutkan masaknya.
''Udah, kamu wangi sekali'' ucap Radit sambil mengendus rambut Rania yang masih basah.
''Karna aku sudah selesai mandi. Mas mandi sana'' jawab Rania.
''Hmm, mas mau seperti ini sebentar'' jawab Radit
''Mandi sekarang, ntar keburu malam malah tambah dingin'' ucap Rania.
''Ada kamu untuk menghangatkan'' jawab Radit.
''Masss, coba nurut kalau dibilangin'' ucap Rania mulai ngomel.
''Hehe, iya cantik. Oh ya kamu habis keramas ya?'' tanya Radit.
''Iya mas Radit sayang. Sekarang mandi ok'' jawab Rania sambil membalikan badannya menatap wajah bantal Radit.
Radit yang ditatap seperti itu tambah senang mengoda Rania.
''Palang merahnya sudah selesai?'' tanya Radit lebih mengeratkan pelukannya.
''Hmm, mau tau aja atau mau tahu banget?'' tanya Rania balik.
''Kalau menghitung hari seharusnya sudah. Hehe mas mau mandi'' ucap Radit semangat pergi mengambil handuk dikamar. Rania yang melihat Radit semangat mau mandi jadi heran.
''Tadi disuruh mandi malas, Sekarang tiba-tiba semangat'' gumam Rania sambil geleng kepala melihat kelakuan suaminya.
Radit keluar kamar sambil membawa handuk.
''Mau ikut mandi lagi'' goda Radit sebelum masuk kekamar mandi.
''Masih bencanda?'' tanya Rania sambil mengangkat sendok pengorengan.
''Haha'' Radit segera masuk kamar mandi sambil tertawa. Bahkan suara tertawanya masih terdengar beberapa saat. Setelah itu berganti dengan suara siulan.
''Hmm, senang sekali hatinya'' ucap Rania masih melanjutkan memasak.
Radit belum juga selesai mandi. Rania sudah menghidangkan makan malam diatas meja makan. Kemudian Rania menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya
''Mas, kenapa mandinya lama sekali?'' tanya Rania.
''Biar bersih dan wangi'' jawab Radit membuat Rania tertawa. Sebenarnya dibandingan Rania mandi Radit memang lebih lama. Rania sendiri heran kenapa dia betah berlama-lama dikamar mandi.
''Apa yang harus dibersihkan? Emang tadi siang mas bekerja disawah?'' tanya Rania heran.
''Anggap aja iya, biar nanti tidak bau'' jawab Radit.
''Udah cepatan mandinya, ntar makan malamnya keburu dingin menunggu mas selesai mandi'' ucap Rania.
''Iya sayang, tidak sabaran betul'' kata Radit sambil membuka pintu kamar mandi. Dia hanya melilitkan handuknya sebatas pinggang sampai lutut. Membuat dadanya terekspos sempurna. Rania jadi jenggah.
...''Aduh kenapa mas Radit tidak bawa baju kekamar mandi sih'' batin Rania....
''Kok diam, kamu tergoda ya melihat tubuhku?'' goda Radit.
''Apaan sih mas, kenapa tidak bawa baju kekamar mandi. Apa mas tidak malu'' jawab Rania memalingkan pandangannya. Dia masih belum terbiasa dengan pemandangan didepan mata.
''Kenapa malu sama istri sendiri. Lagian cuma kita berdua disini'' jawab Radit.
''Iya,iya. Pakai baju mas lagi'' ucap Rania sambil mendorong badan Radit.
''Ayolah mas, ntar makannya keburu dingin'' ucap Rania meninggalkan Radit.
Radit tertawa melihat tingkah Rania. Dia malah tambah ingin mengoda istrinya. Kemudian Radit pergi kekamar untuk berganti pakaian. Beberapa saat kemudian dia sudah berada di meja makan.
Rania mulai mengambilkan nasi dan lauk untuk Radit makan.
''Oh Ya mas, apa acara lamaran kak Davin malam ini berjalan lancar ya? Tadi aku nelpon Sisi katanya masih menunggu keluarga kak Davin datang'' tanya Rania
''Mudah-mudahan berjalan lancar. Karna mereka sudah mempersiapkan semuanya dengan matang'' jawab Radit.
''Akhirnya Sisi mau nikah juga'' ucap Rania senang sahabatnya lamaran hari ini.
''Iya mereka mau nikah. Nah kita dari nikah belum juga unboxing. Ntar keduluan mereka'' jawab Radit santai.
''huk,huk,huk'' Rania tersedak.
''Minum sayang'' kata Radit cepat sambil menyodorkan air minum untuk Rania. Rania langsung meminum air sampai habis setengah gelas.
''Kamu kenapa bisa tersedak? Tidak baca doa ya sebelum makan?'' tanya Radit
''Semua gara-gara mas'' jawab Rania.
''Emang mas salah apa?'' tanya Radit pura-pura tidak tahu.
''Itu...'' Rania terhenti pipinya terasa panas.
''Itu apa?'' tanya Radit.
''Akh, malas ngomong dengan mas'' jawab Rania kesal. Dia cepat-cepat menghabiskan makanannya. Radit tersenyum melihat tingkah Rania.
Mereka selesai makan. Radit duluan masuk kekamar. Sedangkan Rania membersihkan piring yang kotor.
Radit menunggu Rania dikamar. Tapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang. Kemudian dia keluar kamar mencari Rania. Tapi Rania tidak juga nampak.
Radit berhenti ketika melihat lampu salah satu kamar hidup. Dia pergi kekamar tersebut. Dilihatnya Rania sedang memeluk salah satu baju bundanya. Wajahnya terlihat sedih. Radit masuk.
''Sayang'' sapa Radit. Rania cepat menghapus air matanya.
''Iya mas,'' jawab Rania sambil tersenyum dia tidak mau Radit melihat kesedihannya.
''Kamu kangen bunda ya?'' tanya Radit lembut. Rania menganguk. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya sama bundanya. Apalagi semua kenangan teringat terus dikepalanya. Dan kamar bundanya masih seperti dulu.
''Disini aku bisa merasakan kehadiran bunda'' jawab Rania terisak. Radit kemudian memeluknya. Dia bisa merasakan kesedihan Rania. Bagaimana tegarnya dia. Pasti tidak akan bisa menyembunyikan rasa rindunya.
Lama Rania melepaskan gundah dihatinya dengan menangis dipelukan Radit. Kemudian dia kembali tenang.
''Makasih ya mas sudah menjadi tempatku untuk bersandar dalam suka maupun duka'' ucap Rania sambil menatap wajah Radit. Radit juga menatapnya dengan lembut.
''Sekarang kita suami istri. Sudah seharusnya aku menjadi tempat untukmu bersandar'' jawab Radit. Rania terdiam
Suasana terasa hening. Radit kemudian mendekatkan wajah ke wajah Rania. Dia mulai mengecup kening Rania terus pindah kepipinya dan terakhir dib***rnya. Pertama Rania merasa kaku tapi lama kelamaan dia bisa mengimbangi Radit. Mereka menikmatinya.
Radit melepaskan c**mannya karna Rania sudah mulai kehabisan nafas. Mereka terengah-engah. Tanpa aba-aba Radit mengendong Rania menuju kamar mereka. Rania hanya pasrah karna dia berpikir mungkin sudah waktunya dia memberikan haknya Radit. Dia sudah menyiapkan diri.
Radit meletakan Rania di atas tempat tidur dengan pelan. Dia kembali mel***t b***r Rania. Suasana semakin terasa panas. Mungkin karna sudah puasa seminggu membuat Radit hilang kendali. Akhir dari penantian pun datang. Dia tidak ingin menyia-nyiakannya.
Kamar ini menjadi saksi kalau Rania menjadi milik Radit seutuhnya. Tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka. Awal baru dari perjalanan cinta mereka.
Maaf ya author tidak bisa merincikannya secara jelas.
Silakan berkhayal dengan cara masing-masing hehehe!!!