
Sekarang tiba giliran mereka untuk masuk keruang dokter kandungan. Dokter kandungannya seorang wanita. Rania dan Radit langsung duduk didepan meja dokter.
''Selamat sore pak Radit dan buk Rania. Ada yang bisa saya bantu?'' tanya Dokter ramah.
''Begini dok, istri saya sering mual dan muntah setiap makan. Jadi kami ingin memeriksakan kesehatannya'' jawab Radit.
''Apa ibuk ingat kapan terakhir haid?'' tanya Dokter.
''Haid saya bulan ini memang belum datang dok'' jawab Rania.
''Apa ada masalah dengan haidnya dok?'' tanya Radit tidak sabaran.
''Bagaimana kalau kita USG dulu untuk memastikanya pak'' jawab Dokter.
Kemudian Rania dibantu perawat untuk berbaring ditempat tidur yang sudah disediakan dan mengoleskan gel diperut Rania. Radit yang tidak tahu apa yang dioleskan perawat keperut Rania mulai bertanya kepada dokter. Dokter menjelaskan dengan sabar. Radit mengerti dengan penjelasan dokter. Dia berdiri disamping Rania. Dokter mulai mengerakan alat USG diatas perut Rania.
''Selamat pak Radit, istri anda sedang hamil'' ucap Dokter.
''Apa dok?'' tanya Radit untuk memastikan apa yang dikatakan dokter.
''Istri anda sekarang sedang hamil. Perkiraan usia kehamilannya lima minggu. Dan kemungkinan dia hamil anak kembar'' jelas dokter. Membuat Radit terkejut sekaligus bahagia yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Beberapa kali dia mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga.
''Kita akan punya anak sayang'' ucap Radit senang. Dia mencium kening Rania. Tak terasa air matanya menetes tanda bahagia. Rania juga ikut bahagia.
''Iya mas, kata dokter anak kita kembar'' jawab Rania
''Yang mana anaknya dok? apa sudah bisa dilihat jenis kelaminnya?'' tanya Radit bodoh.
''Hehe, Belum bisa pak. Janinnya masih kecil sekali'' jawab Dokter sambil menunjukan bentuk janin yang ada dilayar monitor USG. Radit sangat antusias melihatnya.
Mereka kembali duduk didekat meja dokter.
''Kapan bisa memastikan jenis kelaminnya dok?'' tanya Radit.
''Kenapa mas ingin sekali tahu jenis kelaminya sih. Apapun jenis kelaminnya yang penting sehat. Iyakan dok?'' tanya Rania.
''Penting mengetahuinya sayang. Mana tahu anak kita cewek cowok. Yang cewek cantik seperti kamu yang cowok ganteng seperti aku'' jawab Radit pede. Dokter tersenyum mendengar jawaban Radit.
''Jenis kelamin baru bisa diketahui paling cepat ketika usia kehamilan sudah empat bulan pak'' jelas dokter. Radit mengangguk tanda mengerti.
''Terus kenapa istri saya sering mual dan muntah setiap makan dok?'' tanya Radit.
''Mual dan muntah hal yang wajar diawal kehamilan. Biasa ketika trimester pertama akan mengalaminya. Tapi anda gak usah cemas. Semua itu tidak akan mempengaruhi kandungannya. Nanti akan saya resepkan obat untuk mengurangi rasa mual'' jelas dokter.
''Kasihan istri saya dok, setiap muntah dia pasti akan menderita'' jawab Radit. Dokter tersenyum.
''Dinikmatin aja ya buk. Memang banyak yang hamil muda mengalaminya'' ucap Dokter. Rania hanya tersenyum.
''Apa kebiasaan bisa berubah juga selama hamil dok? Contohnya biasanya suka sekarang tidak atau sebaliknya?'' tanya Radit.
''Iya pak, hormon ketika hamil akan berubah-ubah. Bahkan banyak kebiasanya juga ikut berubah termasuk emosinya. Anda sebagai suami harus sabar menghadapi perubahan dari istri anda. Yang terpenting bagi ibu hamil kenyaman hatinya. Kalau dia merasa bahagia maka bayinya akan bahagia tapi kalau dia bersedih maka bayinya akan ikut sedih'' jelas dokter.
Radit menganguk tanda mengerti. Setiap yang di jelaskan dokter pasti diingatnya. Dia bertanya sesuatu yang tidak dia mengerti karna Radit ingin jadi suami yang siaga untuk Rania. Sampai masalah dia atas ranjangpun ditanyanya. Membuat Rania malu. Tapi dokter dengan senang hati menjelaskan semua pertanyaan Radit.
Selesai berkonsultasi Rania dan Radit berencana pulang. Tapi sebelumnya mereka menebus obat untuk Rania di Apotek rumah sakit.
''Kita langsung pulang sayang?'' tanya Radit ketika mereka sudah didalam mobil.
''Bukannya kita mau beli sampo'' jawab Rania.
''Waduh masih membahas masalah sampo. Tapi kata dokter aku harus menuruti keinginan Rania biar dia tidak sedih. Ntar anakku juga ikut sedih''batin Radit.
''Ok, apa kamu mau makan sesuatu?'' tanya Radit sambil tersenyum lembut.
''Gak'' jawab Rania singkat.
Mereka meninggalkan rumah sakit. Di jalan menuju rumah mereka berhenti sebentar di supermarket. Setelah mencari sampo dengan wangi yang disukai Rania. Mereka melanjutkan pulang kerumah.
Ternyata keluarga Rania juga sudah datang. Mereka menunggu kedatangan Radit dan Rania.
''Bagaimana sayang. Apa kata dokter?'' tanya Diva tidak sabaran. Radit merubah ekpresi wajahnya jadi serius membuat semua orang khawatir. Sedangkan Rania berusaha menahan tertawanya melihat wajah Radit.
''Apa ada masalah serius? Kenapa kamu gak jawab sih Dit?'' tanya Diva lagi.
''Sebenarnya sakit Rania sangat serius...'' ucapan Radit terhenti. Semua orang menatap Radit dengan cemas.
''Tapi gak ada obatnya'' lanjut Radit.
''Emang sakit apa yang gak ada obatnya. Biar ayah carikan dokter terbaik untuk mengobatinya. Bila perlu kita bawa keluar negeri'' ucap Gunawan cemas.
''Iya sayang, kami akan berusaha yang terbaik untuk Rania'' sambung Diva tidak kalah cemasnya.
''Kata dokter Rania sedang hamil'' ucap Radit sambil tersenyum.
''Apa hamiil...'' Teriak Diva. Semua merasa senang dan bahagia. Diva langsung memeluk Rania. Air matanya bahkan menetes tanda bahagia. Semua orang bergantian memeluk Rania. Mengucapkan selamat pada Rania.
''Kamu membuat kami cemas boy'' tepuk Surya.
''Hehe'' Radit tertawa.
''Selamat ya kak, bentar lagi kakak akan jadi ayah'' ucap Rendi memeluk Radit. Radit membalas pelukan Rendi.
''Padahal kakek akan pergi ke Bandung besok bersama Rendra. Tapi kamu memberi kabar gembira untuk kami. Membuat kakek jadi enggan pergi'' ucap Wiratmaja.
''Kakek sudah lama menginginkan tinggal diBandung. Nanti kalau kami ada waktu. Kami pasti akan mengunjungi kakek ke Bandung'' jawab Rania.
''Kita akan jadi kakek Gunawan'' ucap Surya sambil memeluk Gunawan.
''Iya, sudah saatnya kita pensiun dan main dirumah dengan cucu'' jawab Gunawan senang.
''Oh ya aku hampir lupa. Kata dokter kemungkinan anak kami kembar'' ucap Radit. Membuat semua orang bersorak senang dan bersyukur.
''Kakak memang topcer. Aku langsung dapat dua keponakan sekaligus. Iyakan Nga'' ucap Rendi. Mereka tertawa bahagia.
Diva mengajak bik Inah untuk memasak makanan. Mereka ingin merayakan kehamilan Rania. Dibantu Nella dan Susi. Mereka mulai memasak. Rania ingin membantu tapi dilarang. Mereka menyuruh Rania duduk dan istirahat saja. Rania duduk disamping Radit. Bahkan Radit tidak melepaskan tangan Rania. Dia merasa sangat bahagia melihat istri yang sangat dicintainya.
Hari ini lengkap sudah kebahagian Rania. Mulai dari keluarga yang menyayanginya. Suami yang sangat mencintainya. Serta calon anak yang akan menghiasi hidupnya kedepan.
Walaupun untuk mendapatkan semua ini Rania harus menghadapi banyak masalah dan cobaan. Keputusannya untuk menerima kembali dan memaafkan ayahnya adalah pilihan yang tepat. Dengan tidak adanya rasa benci dihati Rania membuat kebahagianya menjadi lengkap. Dia berharap kebahagian ini akan berlanjut seterusnya tanpa ada yang menganggu.