Rania

Rania
94. Kaca Spion



Mereka sampai dirumah Butik. Kelihatan rumahnya sepi.


''Kelihatan rumahmu sepi. Apa gak masalah kalau saya masuk'' kata Rendi ragu.


''Gak apa-apa. Paling papa sama mama lagi pergi. Ayo om katanya mau lihat kaca spion'' ajak Butik. Mendengar kaca spion Rendi jadi semangat.


Ketika mereka baru masuk. Rendi melihat disetiap sudut dan dinding rumah penuh dengan berbagai macam barang antik yang harganya tidak terkira. Mulai dari dalam negeri sampai luar negeri.


''Luar biasa'' ucap Rendi takjub. Dia baru melihat kolektor memiliki begitu banyak koleksi barang antiknya.


''Huft, apanya yang luar biasa om. Saya yang tiap hari tinggal disini jadi puyeng melihatnya.'' jawab Butik.


''Papamu kolektor yang sangat luar biasa. Bisa mengumpulkan semua barang-barang antik ini'' puji Rendi.


''Iya untuk barang antiknya dia nomor satu. Tapi untuk anak dia orang yang payah. Aku seperti anak tiri dibandingan dengan barang-barang mati ini'' jawab Butik.


''Setidaknya kamu punya papa yang unik'' kata Rendi lagi.


''Sampai-sampai akupun jadi unik'' kata Butik tertawa. Rendi juga ikut tertawa.


''Ayo kesini om. Kalau aku tidak salah lihat kaca spion yang dibeli papa disimpannya didalam ruangan sini'' ajak Butik.


Ternyata di dalam ruangan yang dikatakan Butik merupakan ruangan khusus tempat penyimpanan barang-barang antik. Semua tertata rapi.


''Papa kamu kerja apa? Semua koleksinya merupakan barang-barang yang mahal'' tanya Rendi kagum.


''Dirumah aja, Dia kolektor sekaligus pengusaha barang-barang antik ini. Kalau ada orang yang membeli dengan harga lebih tinggi dari harga belinya dia akan jual. Dan itu juga tergantung barangnya juga. Tidak semua dia jual kembali. Kalau dia menyukainya dia akan menjadikan koleksi'' jelas Butik sambil mencari letak kaca spion untuk motor Rendi. Ternyata di rak tersebut terdapat banyak kaca Spion antik dari berbagai model dan waktu. Rendi terpaku kepada salah satu kaca spion yang sebelumnya ingin dia beli.


''Ternyata kaca spion itu dibeli papanya Butik. Hmm bagaimana ini'' batin Rendi.


''Apa ada kaca spion yang om suka?'' tanya Butik setelah melihatkan semua koleksi kaca spion papanya.


''Tidak apa-apa ya saya mengambilnya. Kaca spion ini mahal loh'' tanya Rendi ragu.


''Gak usah dipikirkan. Ambil saja mana yang om suka. Papa saya pasti tidak tahu kalau kaca spion kurang satu'' kata Butik santai.


Rendi kemudian memilih kaca spion yang sebelumnya ingin dia beli.


Sementara diluar rumah Butik. Sebuah mobil berhenti dihalaman rumah. Dari mobil keluar sepasang suami istri. Mereka heran melihat motor antik yang terpakir dihalaman rumahnya.


''Motor siapa kira-kira nih pa?''


''Papa juga tidak tahu. Tapi motor antik ini kelihatannya sangat mahal. Apa Butik bawa teman kesini. Tapi selama ini dia tidak pernah bawa teman pulang''


''Ayo kita lihat''


Mereka masuk kedalam rumah. Baru sampai didepan pintu mereka menabrak Rendi yang mau keluar rumah. Seketika papa Butik terkejut melihat apa yang dipegang Rendi.


''S-saya mau mencobanya untuk motor saya'' jawab Rendi.


''Siapa yang kasih kamu izin untuk membawanya?'' tanya papa Butik lagi.


''Anaknya om'' jawab Rendi sudah agak tenang. Tidak lama Butik keluar.


''Bagaimana om, cocok...'' kata-katanya terputus ketika melihat kedua orang tuanya berada disana.


''Apa benar kamu yang ngasih kaca spion papa sama orang ini. Kamu tahu kalau barang ini baru papa beli dua hari lalu. Apa kamu tahu papa mendapatkannya dengan susah payah'' Kata papa Butik marah.


''Tahu pa, tapi itukan cuma kaca spion. Lagian koleksi papa yang lain masih banyak''jawab Butik santai.


''Cuma katamu?'' tanya papa Butik tambah marah.


''Aku hanya memberi sebagai imbalan karna dia sudah mengatar aku pulang'' jawab Butik.


''Kamu sengaja memperalat anak saya, mentang-mentang dia kecil dan cantik kamu bisa membujuknya untuk mendapatkan semua ini'' katanya sama Rendi.


''Maaf ya om, saya tidak pernah memperalat anak om. Dia sendiri yang memberikan saya kaca spion ini'' kata Rendi membela diri.


''Kamu kira saya percaya. Orang sepertimu ini banyak dan suka mempermainkan anak saya yang lugu'' kata papa Butik.


''Lugu apanya. Anaknya cerewet gitu'' gumam Rendi.


''Apa katamu, sekarang kamu pergi dari sini. Kalau tidak motormu itu saya sita. Setidaknya bisa menambah koleksi saya'' ancam papa Butik sambil tersenyum licik.


''Iya, enak aja mau sita motor saya. Ini motor satu-satunya disini. Biarpun dia sering mogok tapi saya sangat menyayanginya'' kata Rendi sambil berjalan menuju motornya.


''Hei, kaca spionnya ditinggal dulu'' teriak Papa Butik. Rendi berhenti dan meletakan kaca spion ditempat dia berdiri. Kemudian dia pergi menuju motornya.


'' Asal anda tahu kaca spion ini sudah saya pesan sebelumnya. Tapi karna anda menawar lebih tinggi dari janji saya sama orang yang menjual. Sehingga dia menjual kepada anda. Sebenarnya saya bisa saja menuntut penjual karna melanggar janji jual beli yang sudah dia tekan. Saya hanya malas saja memperpanjang masalah ini. Kalau saya perpanjang kaca spion itu akan jadi milik saya. Dan satu lagi saya tidak pernah memperalat anak anda. Saya diajarkan orang tua saya untuk menghargai setiap orang dan tidak boleh mengambil sesuatua tanpa izin. Jadi anda jangan asal menuduh saya.'' ucap Rendi sambil meninggalkan rumah Butik dengan wajah kesal.


''Dasar pak tua antik. Hanya peduli dengan barang antiknya saja. Asal papa tahu kalau dia tidak mengatarku sampai rumah. Mungkin aku belum pulang karna aku tidak bawa uang sepersenpun. Setidaknya papa bilang terima kasih. Bukan malah marah dan asal menuduh'' omel Butik kesal meninggalkan papa dan mamanya


''Benar kata anakmu. Setidaknya kamu berterima kasih dulu'' kata mama Butik.


''Mo aku, dia sendiri yang cari masalah. Enak saja bawa-bawa koleksiku. Susah-susah aku mendapatkannya'' kata papa Butik sewot.


''Kamu kira mendapatkan anak kita tidak susah'' ucap mama Butik marah.


''Bukan gitu maksud papa, ma'' bujuk papa Butik. Tapi istrinya lebih dulu meninggalkannya didepan pintu.


Sementara Rendi pergi dengan perasaan kesal. Entah apa yang membuatnya hari ini begitu sial. Ketika diperjalanan pulang motornya mogok.


''Nasib-nasib, kenapa hari ini tidak ada baiknya. Padahal kamu sudah lebih dari seminggu tidak mogok. Kenapa saat seperti ini kamu mogok sih. Apa karna makan nasi kakak ipar tadi ya. Tapi mana mungkin. Karna kak Radit dan kak Davin juga ikut makan'' omel Rendi. Lama dia berdiri sambil berpikir apa yang salah dengan dirinya hari ini. Karna capek berpikir tidak menemukan jawaban dia kemudian menelpon seseorang untuk menjeputnya.