
Setelah penangkapan Astrid. Hari-hari Rania dan Radit terasa damai. Tidak ada lagi yang menganggu rumah tangga mereka. Radit sibuk dengan pekerjaannya terkadang dia sampai lembur. Karena Davin sibuk mempersiapkan pesta pernikahaannya yang semakin dekat. Radit tidak mau menganggu Davin dengan banyak pekerjaan sampai acara pernikahannya selesai. Walaupun begitu Rendi juga terkena imbas dari pekerjaan yang menumpuk. Bahkan Radit juga menyuruhnya lembur.
Rania juga menemani Sisi untuk membeli kebutuhannya menjelang pernikahan. Rania selalu ada setiap Sisi membutuhkannya. Karna ini saatnya Rania membalas semua kebaikan sahabatnya selama ini. Walaupun bagi Rania kebaikan sahabatnya itu takkan tergantikan oleh apapun juga.
Urusan Rendra dengan Keluarga Sanjaya juga telah selesai. Sekarang perusahaan Sanjaya juga sudah sepenuhnya dipimpin oleh Angga. Candra masih datang untuk mengontrol kerja Angga. Rendra dan Susi berencana kembali ke Bandung setelah acara pernikahan Davin dan Sisi. Rendra tahu betapa berartinya Sisi bagi Rania.Jadi dia tidak ingin mengecewakan Sisi dengan tidak hadir diacara pernikahnya.
Hari ini acara pernikahan Sisi. Rania sudah selesai berdandan.Dia tidak sabaran menunggu Radit mandi. Dia berjalan bolak-balik seperti setrikaan didepan pintu kamar mandi.
''Cepat dong mas mandinya'' teriak Rania dari luar pintu kamar mandi.
''Iya sayang ini udah cepat'' jawab Radit dari dalam kamar mandi.
''Apa yang cepat. Sudah setengah jam mas di dalam. Aku saja yang perempuan tidak selama itu mandi. Mas kebiasaan mandi lama. Padahal tidak bertambah muda juga. Ntar kita telat datang ke pernikahan Sisi. Ayolah mas cepatan'' omel Rania.
Radit tertawa mendengar omelan istrinya. Dia memang suka menghabiskan waktu dengan berendam dikamar mandi. Bagi Radit berendam dikamar mandi membuat tubuh dan pikirannya menjadi rileks.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Radit disambut dengan wajah cemberut Rania. Yang membuatnya tersenyum gemas.
''Kenapa mas senyam-senyum. Cepat sana pakai bajunya'' ucap Rania sambil mendorong badan Radit.
''Ee jangan dorong-dorong. Ntar handuknya copot kamu mau tanggungjawab'' goda Radit. Rania langsung melepaskan tangannya dari punggung Radit. Dia sudah tahu kemana arah pembicaraan suaminya. Bisa batal pergi kalau Radit benar-benar melakukannya.
''Jangan bercanda mas, cepat pakai bajunya ntar kita telat'' jawab Rania.
''Iya, iya. Baru jam tujuh, acara pernikahannya jam sepuluh. Ngapain kita cepat kesana. Kamu mau jadi pengantin lagi?'' tanya Radit sambil memakai baju yang sudah Rania siapkan. Mereka memakai baju dengan warna yang sama.
'' Kalau iya, mas mau izinin?'' tanya Rania sewot.
''Hmm kalau mas pengantinnya, bolehlah'' jawab Radit santai. Rania tidak menjawab dia hanya mendelikan matanya keatas tanda malas menanggapi.
''Mas sekarang suka sekali bercanda. Bahkan bicara seriuspun dicandain. Dulu aja mas dingin seperti puncak bogor'' ucap Rania.
''Itu dulu. Sekarang hati mas sudah hangat. sehangat air kopi yang kamu buatkan tiap pagi'' jawab Radit asalan.
''Gak nyambung'' ucap Rania.
Begitulah suasana pagi ini dihiasi debat pasangan suami istri tersebut. Bukan tanpa alasan Rania ingin cepat datang. Karna dia juga ingin menemani Sisi sebelum acara penikahannya dimulai. Seperti yang lakukan Sisi kepada Rania waktu acara pernikahannya.
Rania dan Radit turun kelantai bawah. Mereka terlihat serasi dengan baju yang di pakai. Apalagi tanpa pakai kacamatanya Rania terlihat tambah cantik dengan make up natural. Rendi, Diva dan Surya sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.
''Kalian sarapan dulu'' ajak Diva. Radit dan Rania mengangguk. Mereka langsung duduk dan ikut sarapan.
''Kakak ipar tambah cantik saja pakai baju ini. Bisa-bisa orang salah mengira pengantinnya nanti'' puji Rendi.
''Makasih adik ipar'' jawab Rania tersenyum.
''Hmm, karna aku yang pilihkan bajunya'' Radit menyombongkan diri.
''Terus kenapa aku gak dibelikan seperti kak Radit juga?'' tanya Rendi.
''Ini khusus baju suami istri. Lah kamu siapa?'' tanya Radit.
''Aku adik dari suami istri'' jawab Rendi santai. Rania tertawa mendengar jawab Rendi
''Tapi bagus kalau kita bertiga pakai baju yang sama kak'' ucap Rendi.
''Bagus menurutmu gak bagus menurutku'' jawab Radit.
''Kenapa?'' tanya Rendi heran.
''Kalau aku yang pakai bertambah kualitas bajunya. Tapi kalau kamu yang pakai langsung anjlok nilainya'' ejek Radit.
''Iis, kakak kepedean'' ucap Rendi sewot.
''Kalau kamu tidak percaya coba tanya sama mama dan papa'' jawab Radit.
''Udah, kalian ini setiap dimeja makan bertengkar terus. Dan kamu Ren, masak iya mau pakai baju yang sama dengan kakakmu. Ntar bisa-bisa Rania salah mengenali suaminya'' canda Diva.
''Papa setuju dengan pendapat mama'' ucap Surya.
''Ooh, tidak mungkin Rania salah mengenali suaminya sendiri. Secara aku lebih ganteng dari Rendi. Iya kan sayang?'' jawab Radit tidak mau kalah.
''Kakak walaupun lebih ganteng dari aku tapi sudah mati pajak'' ucap Rendi.
''Biarpun mati pajak yang penting udah ada yang punya. Lah kamu jomblo genes. Lebih baik papa dan mama jodohkan saja dia dengan anak om Alan karna mereka sama-sama antik'' jawab Radit.
''Papa setuju-setuju aja'' jawab Surya.
''Papa kenapa setuju terus sih jawabnya?'' tanya Rendi tambah sewot. Semua orang tertawa melihat wajah kesal Rendi.
''Ayo mas, cepatan makannya'' ucap Rania.
''Lihat tuh ma, menantu mama maunya cepat-cepat terus. Aku rasa mama akan cepat dapat cucu'' canda Radit.
''Apa sih mas'' ucap Rania malu.
''Hehe, jangan malu sayang. Mama senang kalau semua terwujud. Iyakan pa?'' tanya Diva.
''Papa setuju aja'' jawab Surya.
''Papa... Kenapa pulang dari luar kota jawaban papa setuju mulu sih. Apa papa disana salah makan?'' tanya Diva heran.
''Apa aku bilang. Sepertinya kita perlu memeriksakan kesehatan papa ma'' ucap Rendi.
''Mama lihat papamu sehat kok'' jawab Diva.
''Tapi otak papa agak bermasalah ma'' ucap Rendi setengah berbisik.
''Papa dengar, gimana yang bermasalah kamu sebagai anak gak mau gantiin papa mengelolah perusahaan kita diluar kota. Diumur papa sekarang harusnya papa sudah istrirahat. Menghabiskan waktu dengan mamamu dan cucu-cucu papa nanti'' omel Surya.
''Emang enak diomelin'' ledek Radit. Rendi melototi Radit. Dia tidak mau menjawab kata papanya. Karna dia memang belum ada niat untuk mengantikan papanya.
''Udah, ayo selesaikan sarapannya. Kasihan Rania udah gelisah'' ucap Diva mengalihkan pembicaraan.
Mereka menyelesaikan sarapan. Radit,Rania dan Rendi pamit pergi ke pernikahan Sisi dan Davin. Sedangkan Surya dan Diva hanya akan datang pas acara resepsinya saja yang akan diadakan malam hari.
Acara penikahan pagi ini hanya dihadiri keluarga dan orang-orang terdekat kedua belah pihak saja. Radit dan Rania pergi mengunakan mobil Radit. Sedangkan Rendi dia juga membawa mobilnya sendiri. Rencananya Rendi akan memakai motor antiknya. Tapi dia takut motornya akan mogok dijalan. jadi dia memutuskan untuk pakai mobil saja.